Sabtu, 25 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 3 || Langit Baru ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 3 
Langit Baru 




Sebuah rumah yang nampak minimalis. Tak begitu mewah, namun cukup rapi dan indah. Di halaman depan yang cukup lebar, banyak tanaman hias tertata cantik. Sangat memanjakan mata yang metihatnya. 

Leo sudah sedari tadi mengulur senyum. Dia memperhatikan taman itu dengan senang. Wanita muda di sebelahnya hanya turut tersenyum melihatnya begitu cerah. 

Leo mulai memandangnya. "Pasti senang tinggal di sini, ya?" 

Wanita itu lalu mulai berjongkok. Dia menjawab, "Tentu, apalagi setelah ada kamu, Sayang." Wanita itu tertawa kecil. "Mulai sekarang kamu panggil kami Mama dan Papa, ya." 

"Iya, Ma," jawab Leo riang. 

Sekarang, Mamanya yang gemas dengan Leo itu mencubit sebelah pipi anak barunya. Leo hanya mengaduh dan kemudian mengusap-usap sebelah pipinya. 

"Sudah, Maria," tegur pria, Papa Leo. "Dia bukan anak lima tahun lagi." 

Bu Maria tertawa kecil. "Tapi bukankah dia lucu, Waston?" 

Pria itu hanya mendengus. Nampaknya dia agak tak suka sikap istrinya yang sedikit berlebihan dengan anak baru mereka. Leo hanya cekikikan menanggapi ekspersi itu. 

Bu Maria menggandeng tangan Leo seraya berdiri. "Ayo kita masuk ke rumah!" ajak Bu Maria sambil berjalan menuntun Leo. Leo mengikuti.


Di ruang tamu mereka berhenti sejenak. Bu Maria memperhatikan ke sekelilingnya, seperti mencari sesuatu. Pak Waston mengikuti, dia pun turut memperhatikan sekitar ruangan yang tak ada siapapun. 

"Kemana Cheryl?" tanya Bu Maria. 

"Mungkin di kamar. Aku akan panggil dia sebentar," balas Pak Waston dan kemudian berlalu. 

Leo menarik pelan tangan Bu Maria. "Ma, siapa Cheryl?" tanyanya. 

Bu Maria tersenyum pada Leo. "Dia adikmu, Sayang."

"Adikku?" ulang Leo setengah tak mengerti.

Tak lama kemudian, Pak Waston kembali. Di belakangnya, terlihat seorang anak yang bersembunyi. Bu Maria memutuskan mengajak Leo mendekati mereka. 

"Nah, Leo, itu dia adikmu," kata Bu Maria lembut. "Dia memang pemalu. Cheryl, ayo keluar dari balik Papamu! Ini ada kakakmu." 

Anak perempuan itu tak mengidahkan perkataan ibunya. Dia tetap bersembunyi di sana. Leo hanya dapat melihat rambut coklatnya dan gaun panjang merah mudanya. Di kepalanya, ada sebuah bando pita berwarna putih bersih. Anak perempuan itu terlihat lebih muda dari Leo. 

"Cheryl, ayo katakan halo pada kakakmu!" titah Bu Maria lembut. 

Cheryl mengintip sedikit. Terlihat sebagian wajahnya yang putih lembut, dan matanya yang berwarna coklat. Dia memperhatikan Leo dengan malu-malu.

"Cheryl, ayo keluar, Sayang," pinta Bu Maria lagi. 

Cheryl malah menutupi seluruh wajahnya lagi. 

Leo memandanginya. Dia masih penasaran dengan wajah perempuan itu. Leo ingin melihat wajah Cheryl sepenuhnya.

Leo berjalan mendekati Cheryl. Cheryl pun melangkah sedikit menjauhinya.

"Hai," sapa Leo cerah. "Namaku Leo." 

Cheryl mengintip lagi. Namun kali ini dia tak memandang ke wajah Leo, dia justru melirik ke bawah. "Mmm ... a ... aku ... Cheryl," suaranya terdengar sangat lembut.

Leo tertawa kecil. "Kamu lucu, ya," tanggapnya. 

Wajah Cheryl memerah. Dia mulai melirik Leo yang tersenyum padanya. Melihat senyum Leo, Cheryl menolehkan kepalanya seluruhnya pada Leo. 

"Kamu cantik, lho," tanggap Leo, setengah menjahili.

Cheryl menunduk seraya memilin-pilin ujung rambutnya. Dia tak lagi melirik Leo, sepertinya dia jadi tak berani melirik Leo lagi. Leo cekikikan sendiri melihatnya.

Bu Maria menengahi, "Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita ke kamarmu, Leo? Ayo!" Bu Maria lalu menggandeng tangan Leo lagi. 

Leo mengikutinya. Pak Waston dan Cheryl mengikuti di belakang, saling bergandengan juga. Mereka menaiki tangga dan berjalan melewati beberapa pintu dan kemudian masuk ke salah satu ruangan. Dalam ruangan yang cukup luas itu, segala perabot kamar telah tertata rapi. Cat kamarnya pun cerah dengan tak banyak hiasan di dindingnya.

Leo tersenyum lebar. "Waaahh, apa ini kamarku?" tanya Leo seolah tak mau percaya. 

"Tentu," jawab Bu Maria. "Kau suka?" 

Leo berlari ke ranjang. Dia lalu melompat ke ranjang empuk itu dan tiduran di sana. Ranjang di panti saja tidak senyaman ini, pikir Leo.

Memperhatikan tingkahnya, Bu Maria tertawa. "Bereskan barang-barangmu di kamar, ya. Nanti Mama akan panggil kamu lagi, sebentar lagi waktunya makan siang." Bu Maria pergi keluar, diikuti Pak Waston dan Cheryl. Pintu ditutup.

Leo melepas ranselnya. Dia merangkak ke seberang ranjang dan berjalan mendekati jendela kamarnya di sana. Jendela kamar Leo mengarah ke halaman samping rumah. Di halaman itu, ada sebuah pohon rindang besar, beberapa jarak dari pohon itu terdapat pohon-pohon lainnya. Di bawah pohon, terdapat meja dan 2 bangku di kedua samping meja itu. Mungkin itu tempat berpiknik. 

Leo memperhatikan ke rumah di seberangnya. Ada dua jendela yang menghadap ke arahnya, salah satunya terbuka. Terlihat seorang anak sedang berdiri di belakang jendela itu, tersenyum memandang langit. Dia baru menyadari Leo memperhatikannya setelah beberapa saat kemudian dia hendak pergi dari sana dan tak sengaja melihat Leo. Anak itu tersenyum pada Leo dan melambaikan tangannya. 

Leo membalas senyumannya dan melambai. 

Anak itu lalu pergi dari belakang jendelanya. 

Leo mendengus sambil menaruh wajah dengan sebelah tangannya. "Tetangga yang ramah," tanggap Leo. 

Leo mulai berpaling pada ranselnya. Dia kembali duduk di atas ranjang dan mengeluarkan barang-barangnya dari ransel. Kemudian dia meletakkan semuanya di tempat yang seharusnya. Setelah selesai, dia tiduran sejenak di atas ranjangnya. 

Tersirat di benaknya wajah Rian. Masih ada rasa berat berpisah darinya. Dan masih ada sedikit ketidak percayaan atas apa yang telah terjadi. Leo masih sulit percaya, sekarang dia sudah cukup jauh dari Rian. Namun semua itu tak begitu menusuk untuk di ingat. Sepertinya kini Leo telah bisa melepas segalanya terjadi. 

Masih teringat segala kenangan akan Rian. Bahkan bukankah baru tadi pagi mereka tertawa bersama di bawah pohon? 

Leo menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Ternyata semuanya tak begitu menyesakkan. 

***

Malam tiba. Sudah waktunya tidur. Usai berganti baju dan menggosok gigi, Leo tak langsung naik ke atas ranjang, namun dia membuka jendelanya terlebih dahulu. Dia memperhatikan langit malam yang cerah bertabur bintang. 

Entah kenapa Leo masih ingin mengenang segala yang telah dia lakukan di panti. Mungkin masih ada rasa tak ingin pergi dari sana dalam hatinya, walau tak begitu besar. 

Leo mendengus lagi. Tak lama, dia memutuskan menutup jendela. Baru saja tangannya meraih ujung jendela, dia melihat anak itu lagi. Dia sedang memandang langit, tersenyum dengan begitu damai. Leo dapat melihat gaun tidur biru mudanya. Oh, ternyata dia seorang anak perempuan. Tak berapa lama, anak itu menyadari Leo di seberangnya.

Leo tersenyum seraya melambaikan tangannya. Anak itu membalasnya juga. Mereka kemudian menutup jendela dan tirai kamar bersamaan.

Hmm ... siapa anak itu, ya? bathin Leo. Semoga besok kami bisa saling berkenalan. 

Leo naik ke ranjangnya. Setelah itu, dia memperhatikan langit-langit kamarnya sejenak. Memperhatikan biru langit yang kalem di atasnya. Leo tersenyum lega. 

Banyak hal dia temui hari ini. Ini adalah awal baru baginya. Esok dia akan mulai bersekolah. Selama tinggal di panti asuhan, Leo tak pernah bersekolah, hanya belajar dari Ibu guru yang juga Ibu pengsuhnya. Leo mulai tak sabar menanti datangnya esok.

***



To be continued ...

0 tanggapan:

Posting Komentar