Sabtu, 04 Oktober 2014

Kilas Persahabatanku (Cerpen)





Kilas Persahabatanku



Cerpen
Sad Story, Friendship, Slice of Life, School life

~~~~~
Kebetulan lagi nyari-nyari novel yang unfinished, eh ... dapet cerpen tua ini. Setelah diliat lagi, kasian juga kalo cerpen ini belumut doang di folder. Hehehe ... happy reading! 
~~~~~



Kita dulu berteman begitu dekat. Aku dan kamu bersahabat begitu cepat. Tak terasa sudah 3 tahun berlalu persahabatan kita, ya.
Aku selalu berfikir kamu pasti akan ada di sampingku, karena kamu sahabatku. Dan karena itulah aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku dengan senang hati menemanimu untuk urusan apapun ke manapun. Sejak kelas 5 SD, saat kita saling menggenggam kelingking dengan kelingking kanan kita dan berjanji akan menjadi sahabat, aku selalu melakukan apapun yang bisa kulakukan agar kamu tetap menjadi sahabatku.
Masih kuingat nada-nada keindahan itu.
"Sa, kamu mau, gak, jadi sahabatku?"
"Ya iyalah, Lin! Kita pasti bakal jadi sahabat, kok!"
"Janji?"
"Aku janji."
Saat ini, keadaannya lain. Memori itulah yang mengiris hatiku. Setelah belum lama tadi kamu meninggalkanku. Setelah dengan tak pedulinya kamu berbicara sedingin itu, lalu pergi bersama teman-temanmu sekarang.
Sekarang nada itu yang terngiang di kepalaku.
"Aku gak mau jadi sahabat kamu lagi! Kamu, tuh, gak seru banget orangnya! Lagian sahabat-sahabat aku sekarang banyak, gak cuma kamu!"
Aku masih mengingat dirimu yang dulu. Dirimu yang sebelum berjanji bersahabat dengaku adalah seseorang yang selalu kujumpai duduk di bangku belakang sendirian, menunduk. Kacamata di wajahmu, kemuraman di matamu, beban di segala ucapanmu, segala dirimu yang dulu. Kau yang bukanlah siapapun di mata orang lain, yang aku akui bukanlah orang setenar aku di waktu itu. Kau yang kubantu keluar dari lubang kesedihan dan kesepian itu.
Sekarang kamu sangat menyenangkan untuk mereka. Dan aku bukan lagi siapapun di matamu.
Aku masih punya pesan dari sahabatku yang lain. Sahabat yang sering datang padaku dan menangis di depanku. Dengan segala duka di hatinya yang tak lagi kuat, dia katakan segala isi hati itu padaku. Gadis yang cantik, cantik sekali, dan memiliki hati yang sedikit ... mudah rapuh. Kami berpisah di perpisahan kelas 6. Tapi aku dan dia masih dapat terhubung dengan sosial media yang kami punya. Dia juga gadis yang hampir sama. Gadis yang kini telah punya seseorang yang lebih dia pedulikan. Yang dia cintai dan dia harapkan selalu. Ya, kekasihnya. Bukankah indah? Pasti itu indah, itulah mengapa dia tak lagi perlu datang padaku bila hanya untuk mencurahkan isi hatinya–dia punya orang yang lebih berharga daripada aku. Dan aku tetap harus memahami dengan jalan pikiran itu saat dia mengirimiku pesan ini:



Sa, gue udah males sama pertanyaan lo yang terlalu peduli sama gue! Gue sama sekali gak ngarepin lo ngirim pesan ke gue! Kayaknya lebih baik lo gak usah nanya-nanya lagi ke gue, lo juga gak perlu lagi ngedeketin gue kalau gue dateng ke sekolah elo. Gue gak berharap lo ngedeketin gue, gak usah GR-an deh, Sa! Lebih baik elo bersikap gak kenal aja sama gue, deh! KITA bukan sahabat lagi! Oke?



Itu bukan yang kedua. Bukan juga yang terakhir. Itu hanya salah satunya. Aku tahu, cinta kadang membuat kita ingin selalu terlihat sebagai yang terbaik di depan dia yang kita cinta. Aku paham itu walau aku belum merasakan cinta seperti yang ia rasakan.
Pesan itu kadang menggores hatiku untuk beberapa kali. Mengingat gadis yang mengirimnya adalah seorang gadis cantik yang selalu ceria di depan orang lain. Gadis yang selalu ingin hanya aku yang ada di sampingnya saat dia ingin mengungkapkan segalanya. Gadis yang seringkali menitikkan air mata kepedihan itu saat mengeluarkan segala isi hatinya.
Tapi dia tetap seorang gadis cantik yang berusaha mendapat perhatian. Tak peduli bagaimana caranya.
Kau tahu, segalanya di masa lalu itu sangat indah untukku, tapi ternyata memang kita harus setiap saat siap untuk kuat saat sudah waktunya itu pergi. Karena kebahagiaan juga titipan. Karena kamu dan dia bukan yang pertama memutuskan persahabatanku sekejam itu, karena mereka yang kutolong dari lubang yang sama juga telah berubah menjadi segala yang lebih indah di mata orang lain. Mereka telah punya lebih banyak teman. Dan aku hanya kenangan, yang tak lama lagi dibuang jauh.
Tapi aku bangga. Aku ternyata berhasil, dengan persahabatan kita. Walau aku terluka, tapi ada kebahagiaan dalam diriku yang lebih besar dari segala kesedihan itu. Kemenanganku, membuatku berhasil menghindari perih itu. Dan aku tak akan mundur hanya karena luka ini.
Aku akan tetap mencari sahabat lagi yang seperti kau yang dulu. Tak akan pernah berhenti, sampai kutemukan yang sejati. 



0 tanggapan:

Posting Komentar