Kilas Persahabatanku
Cerpen
Sad Story, Friendship, Slice of Life, School life
~~~~~
Kebetulan lagi nyari-nyari novel yang unfinished, eh ... dapet cerpen tua ini. Setelah diliat lagi, kasian juga kalo cerpen ini belumut doang di folder. Hehehe ... happy reading!
~~~~~
Kita dulu berteman
begitu dekat. Aku dan kamu bersahabat begitu cepat. Tak terasa sudah 3 tahun
berlalu persahabatan kita, ya.
Aku
selalu berfikir kamu pasti akan ada di sampingku, karena kamu sahabatku. Dan
karena itulah aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku dengan senang hati
menemanimu untuk urusan apapun ke manapun. Sejak kelas 5 SD, saat kita saling
menggenggam kelingking dengan kelingking kanan kita dan berjanji akan menjadi
sahabat, aku selalu melakukan apapun yang bisa kulakukan agar kamu tetap
menjadi sahabatku.
Masih
kuingat nada-nada keindahan itu.
"Sa,
kamu mau, gak, jadi sahabatku?"
"Ya
iyalah, Lin! Kita pasti bakal jadi sahabat, kok!"
"Janji?"
"Aku
janji."
Saat
ini, keadaannya lain. Memori itulah yang mengiris hatiku. Setelah belum lama
tadi kamu meninggalkanku. Setelah dengan tak pedulinya kamu berbicara sedingin
itu, lalu pergi bersama teman-temanmu sekarang.
Sekarang
nada itu yang terngiang di kepalaku.
"Aku
gak mau jadi sahabat kamu lagi! Kamu, tuh, gak seru banget orangnya! Lagian
sahabat-sahabat aku sekarang banyak, gak cuma kamu!"
Aku
masih mengingat dirimu yang dulu. Dirimu yang sebelum berjanji bersahabat
dengaku adalah seseorang yang selalu kujumpai duduk di bangku belakang
sendirian, menunduk. Kacamata di wajahmu, kemuraman di matamu, beban di segala
ucapanmu, segala dirimu yang dulu. Kau yang bukanlah siapapun di mata orang
lain, yang aku akui bukanlah orang setenar aku di waktu itu. Kau yang kubantu
keluar dari lubang kesedihan dan kesepian itu.
Sekarang
kamu sangat menyenangkan untuk mereka. Dan aku bukan lagi siapapun di matamu.
Aku
masih punya pesan dari sahabatku yang lain. Sahabat yang sering datang padaku
dan menangis di depanku. Dengan segala duka di hatinya yang tak lagi kuat, dia
katakan segala isi hati itu padaku. Gadis yang cantik, cantik sekali, dan
memiliki hati yang sedikit ... mudah rapuh. Kami berpisah di perpisahan kelas
6. Tapi aku dan dia masih dapat terhubung dengan sosial media yang kami punya.
Dia juga gadis yang hampir sama. Gadis yang kini telah punya seseorang yang
lebih dia pedulikan. Yang dia cintai dan dia harapkan selalu. Ya, kekasihnya.
Bukankah indah? Pasti itu indah, itulah mengapa dia tak lagi perlu datang
padaku bila hanya untuk mencurahkan isi hatinya–dia punya orang yang lebih
berharga daripada aku. Dan aku tetap harus memahami dengan jalan pikiran itu
saat dia mengirimiku pesan ini:
Sa, gue udah males sama
pertanyaan lo yang terlalu peduli sama gue! Gue sama sekali gak ngarepin lo
ngirim pesan ke gue! Kayaknya lebih baik lo gak usah nanya-nanya lagi ke gue,
lo juga gak perlu lagi ngedeketin gue kalau gue dateng ke sekolah elo. Gue gak
berharap lo ngedeketin gue, gak usah GR-an deh, Sa! Lebih baik elo bersikap gak
kenal aja sama gue, deh! KITA bukan sahabat lagi! Oke?
Itu
bukan yang kedua. Bukan juga yang terakhir. Itu hanya salah satunya. Aku tahu,
cinta kadang membuat kita ingin selalu terlihat sebagai yang terbaik di depan
dia yang kita cinta. Aku paham itu walau aku belum merasakan cinta seperti yang ia rasakan.
Pesan
itu kadang menggores hatiku untuk beberapa kali. Mengingat gadis yang
mengirimnya adalah seorang gadis cantik yang selalu ceria di depan orang lain.
Gadis yang selalu ingin hanya aku yang ada di sampingnya saat dia ingin
mengungkapkan segalanya. Gadis yang seringkali menitikkan air mata kepedihan
itu saat mengeluarkan segala isi hatinya.
Tapi
dia tetap seorang gadis cantik yang berusaha mendapat perhatian. Tak peduli
bagaimana caranya.
Kau
tahu, segalanya di masa lalu itu sangat indah untukku, tapi ternyata memang
kita harus setiap saat siap untuk kuat saat sudah waktunya itu pergi. Karena
kebahagiaan juga titipan. Karena kamu dan dia bukan yang pertama memutuskan
persahabatanku sekejam itu, karena mereka yang kutolong dari lubang yang sama
juga telah berubah menjadi segala yang lebih indah di mata orang lain. Mereka
telah punya lebih banyak teman. Dan aku hanya kenangan, yang tak lama lagi
dibuang jauh.
Tapi
aku bangga. Aku ternyata berhasil, dengan persahabatan kita. Walau aku terluka,
tapi ada kebahagiaan dalam diriku yang lebih besar dari segala kesedihan itu.
Kemenanganku, membuatku berhasil menghindari perih itu. Dan aku tak akan mundur
hanya karena luka ini.
Aku
akan tetap mencari sahabat lagi yang seperti kau yang dulu. Tak akan pernah
berhenti, sampai kutemukan yang sejati.

0 tanggapan:
Posting Komentar