Jumat, 24 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 2 || Aku akan Merindukanmu ||


Reprisals Blood of the Tiger



PART 2
Aku akan Merindukanmu





Pagi itu suasana begitu ceria. Setelah sarapan, semua anak bermain ke tempat yang mereka suka. Mereka ada di halaman belakang, di perpustakaan, atau juga di ruang keluarga. Memang hari ini adalah hari minggu, dan itu artinya mereka bebas bermain hari ini. 

Leo dan Rian memilih pergi ke halaman belakang. Mereka bermain sepak bola bersama anak-anak lainnya.

"Hei! Ke sini! Over ke sini!" panggil Leo, meminta bola dari teman setimnya. 

"Ini, Leo!" balas temannya seraya menendang bola ke arah Leo. 

Leo menerimanya dan langsung menggiring bola itu. Posisinya sudah cukup dekat dengan gawang. 

Rian tak diam saja. Dia yang merupakan anggota tim lawan dari Leo dan timnya berlari mendekati Leo. Dia berusaha merebut bola dari kaki Leo. 

Leo sudah tahu itu. Dengan lebih sigap dia menendang bola ke gawang tepat sebelum Rian mencoba merebut bola. Beruntungnya, saat itu tak ada banyak anak di sekitar gawang. Bola lolos dari tangan kiper, tak sempat diraihnya. 

"GOOOLL!!" seru Leo dan anak-anak lain yang satu tim dengannya. Mereka berkerumun dan saling berpelukan sambil berseru-seru kegirangan. 

"Sudah, ya, aku capek! Kita main lagi nanti sore!" kata seorang anak. 

"Baiklah," balas Leo mewakili teman-temannya.

Semua anak laki-laki yang berada di lapangan bola itu pun pergi. Leo dan Rian memilih duduk di bawah pohon rindang yang terletak tak jauh dari lapangan. Duduk di bawah pohon itu selalu menjadi kesukaan mereka.

Rian mengeluh, "Padahal tadi aku hampir dapat." 

"Hahaha ... nyatanya aku masih lebih gesit daripada kamu," sindir Leo setengah bercanda.

Rian tak membalas. Leo pun tak berkata-kata lagi. Anak-anak lain di sekitar mereka masih berisik bermain bersama, namun di antara mereka dapat terasa dengan jelas kesunyian yang dalam. Leo awalnya membiarkan itu, tapi semakin lama dia semakin tak nyaman dengan keadaan di antara mereka berdua ini. Tidak biasanya mereka saling diam, mereka selalu berceloteh bersama setiap kali berdua. 

Leo mulai menoleh. Dia memandangi Rian yang menunduk. Rian memandang ke bawah, ke tanah berumput hijau yang menghiasi halaman belakang panti ini. Dari pandangan Rian yang pilu, Leo tahu sekali bahwa Rian masih memikirkan hal kemarin.

Leo terdiam sejenak. Sebetulnya dia telah tak tahu harus bagaimana. Dia juga tidak mau berpisah dari Rian yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Dia masih ketakutan, bahkan hingga sekarang ini.

"Belum tentu, Rian," ujar Leo. "Belum tentu itu salah satu di antara kita berdua." 

Rian menoleh. Sepertinya dia sedikit kaget, karena tak menyangka Leo akan berkata seperti itu. Namun tak berapa lama, Rian kembali memandang ke bawah dengan pilu.

Leo kembali semakin tak enak hati. Dia tak terbiasa dengan sikap Rian yang pendiam seperti ini. Rian selalu lebih ceria darinya, apapun yang terjadi.

"Aku tidak tahu ...," kata Rian. "Kenapa aku terus berpikir aku akan terpisah darimu. Padahal aku juga sudah berkali-kali berkata dalam hati bahwa itu belum tentu kamu, atau pun aku. Tapi aku masih gelisah." 

Leo masih memandang wajah Rian. Beberapa saat kemudian, dia balas berkata pelan, "Kau tidak boleh takut, Rian! Kamu sudah mengatakan itu padaku. Kamu juga harus berani untuk menerima apapun yang terjadi nanti." 

Rian kembali menoleh pada Leo. Mereka saling bertukar pandang, saling berbagi keyakinan dalam hati mereka yang masih merasakan ragu. Tak lama kemudian, Rian mengulas senyum tipis. 

"Kau benar," balas Rian. 

Leo mulai lega melihat senyuman Rian. Dia mulai membalas senyuman itu dengan senyum tipis pula di wajahnya. Leo sendiri sebetulnya masih takut, takut kehilangan saudaranya. 

Rian pelan-pelan merebahkan dirinya. Dia tiduran telentang dengan kedua tangannya ia lipat di bawah kepala. 

"Memikirkannya malah membuatku pusing sendiri," gumam Rian. 

Leo ikut menyusul posisi Rian. Senyuman masih terpampang di wajahnya, dan kini lebih lebar. 

"Aku juga malah berpikir hari ini akan buruk," gumam Leo menimpali perkataan Rian.

"Hei, Leo," panggil Rian. "Tapi aku ingin tahu. Kalau kau pergi, apa kau akan merindukan sarden Bu Cinny?" 

Leo tertawa. "Kau sendiri bagaimana?" 

"Yah, mungkin, sebagai makanan teraneh yang kucicipi. Hahaha ...." 

"Mungkin setelah kau menicipi makanan dengan rasa yang lebih aneh dari sarden Bu Cinny, kau akan mulai merindukannya." 

"Misalnya apa?" 

"Hmmm ... cacing rebus?" 

"Ieww ... aku tidak akan pernah mencicipinya. Kau saja yang makan telur kucing."

"Hahaha .... Memangnya kucing bertelur?" 

"Ups ... oh, iya, ya. Hahaha ...." Rian ikut tertawa.

Tak berapa lama, seorang ibu-ibu memanggil Leo. Leo menyadarinya, begitu juga Rian. Mereka berpandangan, lalu berdiri dan mendekati ibu itu.

"Bu Martha," kata Leo pada ibu yang memanggil mereka. "Ada apa, Bu?"

"Ayo kamu ikut Ibu!" balas Bu Martha ramah. "Ada yang mau bertemu denganmu." 

"Siapa, Bu?" tanya Leo lagi. 

"Kamu ikut Ibu saja dulu, ya, nanti Ibu kenalkan." 

Leo dan Rian saling berpandangan lagi. Kali ini dengan perasaan tak enak. Sepertinya mereka mulai takut lagi. 

***

Di ruang tamu tak begitu ramai. Anak-anak sedang bermain boneka, menggambar, menulis, dan membaca. Di dekat pintu masuk, seorang wanita paruh baya terlihat berdiri bersama sepasang orang dewasa. Leo dan Rian tetap mengikuti Bu Martha hingga ternyata Bu Martha berhenti di hadapan wanita paruh baya itu.

"Ah, ini dia," kata Nek Willie, wanita renta pemilik panti asuhan. Dia memandang Leo.

Leo hanya memandang mereka dengan bingung.

Seorang wanita dewasa itu memperhatikan Leo ramah. Dia tersenyum hangat pada Leo dan membungkuk untuk sedikit mendekati Leo. "Siapa namamu, Sayang?"

"Leo," jawab Leo singkat. Dia masih memandang dengan bingung.

Wanita muda itu tertawa kecil. "Dia terlihat polos sekali."

"Iya," imbuh pria di sampingnya.

Leo masih tak mengerti apa yang terjadi. Dia mulai menanyakannya, "Maaf, Nyonya, memangnya ada apa?"

Wanita dan pria di sana itu saling melempar senyum. Mereka bertatapan sejenak. Lalu kembali memandang Leo.

Wanita di depan Leo berjongkok. Dia masih memandang Leo hangat. Dia bertanya, "Anak manis, mau tidak kamu ikut dengan kami ke rumah kami?"

Leo mulai sedikit gelisah mendengarnya. Apa mungkin ...? 

"Ke ... kenapa?" tanya Leo berusaha setenag mungkin.

"Nak, kau tidak perlu takut begitu," kata pria di sana. "Di sana akan sangat menyenangkan. Kau pasti akan suka."

Leo masih ragu apa maskudnya. Namun pikirannya teralih saat Bu Martha menepuk bahunya.

"Sudah. Sekarang kamu bereskan dulu pakaian-pakaian dan apa saja yang ingin kamu bawa. Ayo!" ajak Bu Martha. Bu Martha meraih lembut sebelah tangan Leo dan mengajaknya pergi.

Tangan Leo tak ditarik. Namun Leo dengan mudah mengikuti langkah Bu Martha. Leo masih tak percaya. Membereskan pakaian? Itu artinya aku memang akan ....

Leo sedikit kaget kala sebelah tangannya yang lain diarih sesorang. Leo menoleh ke sampingnya, sementara Rian hanya memandangnya sambil tersenyum. Senyum pahit.

Leo tak dapat mengatakan apapun. Dia hanya dapat memandang itu dengan pilu. Tidak, dia sudah betul-betul tak tahu harus berkata apa lagi sekarang.

Sesampainya di kamar, Bu Marta mengambil ransel Leo yang berukuran sedang, namun cukup besar untuk Leo. Bu Martha lalu membuka lemari pakaian dan mencari pakaian-pakaian Leo, kemudian memasukan semuanya ke ransel Leo. Bu Martha berjalan ke sisi kamar yang lain, mencari barang-barang lain milik Leo. Setelah semuanya siap Bu Martha berbalik dan memandang Leo. Saat itulah baru dia sadari, Leo tak melakukan apapun. Anak itu hanya duduk diam di atas ranjangnya, saling berbicara pelan–bahkan lebih terdengar seperti saling berbisik–dengan Rian

Bu Martha diam sejenak. Kini mereka hanya saling diam. Keadaan dalam kamar itu begitu sepi, terutama karena kamar yang tak sedang ada anak-anak seperti biasanya. Di dalam kamar yang cukup lebar itu, hanya ada 2 anak yang saling bersedih dan seorang ibu yang telah lama merawat mereka. 

Bu Martha tentu tahu sekali. Beliau tahu seberapa erat hubungan kedua anak asuhnya ini. Seberapa mereka akrab, seberapa mereka saling bergantung, seberapa mereka saling menyayangi, seberapa mereka begitu bersaudara. Bu Martha pun akan turut sedih melihat seorang anak asuhnya pergi meninggalkan saudara-saudaranya di sini. Dan untuk Leo, dia akan menjadi yang paling ia rindukan. 

Bu Martha memutuskan pergi keluar kamar. Dia sengaja meninggalkan kedua anak asuhnya berdua di dalam kamar. Akan lebih dari berat rasanya untuk mereka saling melepas, Bu Martha tahu itu. 

Mereka tak menyadari Bu Martha yang telah keluar kamar. Tidak mungkin mereka dapat menyadari itu. Sekarang ini, mereka terlalu terpaku dengan apa yang terjadi. 

Leo masih belum dapat mengatakan apapun. Dia masih sulit percaya dia akan pergi. Masih teringat di benaknya banyak hal yang mereka lakukan. Saat mereka bermain, saat mereka tertawa, saat mereka bersedih, saat-saat yang mereka lalui bersama di sini. Kenapa harus dia yang pergi? Kenapa bukan anak lainnya? Kenapa dia harus meninggalkan panti ini? Kenapa dia harus pergi dari sini? Kenapa dia? Leo tak pernah mengerti. 

Rian hanya duduk di sampingnya. Dia telah lama membuang pandang ke arah yang berlawanan dari waja Leo. Leo tak tahu bagaimana ekspresi Rian sekarang. Dia hanya tahu Rian tentu lebih sedih darinya. 

Rian selalu seperti itu. Dia selalu lebih pandai menyembunyikan kesedihannya. Rian selalu sanggup tersenyum di bagaimanapun suasana hatinya. Rian selalu bisa terlihat lebih ceria dari Leo. 

Mungkin tak pernah akan ada yang tahu perasaan Rian sebetulnya. Mungkin mereka akan selalu menilai bahwa Rian selalu senang dan bahagia. Tapi itu tidak untuk Leo. Dia selalu dapat membaca luka di balik setiap senyuman palsu Rian. Bahkan untuk Leo, mendapati Rian hanya tersenyum untuk menutupi kesedihan adalah luka. Hal itu seperti membuktikan bahwa Leo tak bisa selalu ada untuk Rian.

Mendapati mereka harus berpisah sekarang, Leo masih sulit menerimanya. Terutama Leo tahu, dia harus melepas saudaranya. Melepas orang yang begitu berharga untuknya.

Rian berbalik. Di matanya, peluh tertahan. "Pergilah," gumamnya parau, atau mungkin lebih tepatnya permintaan. 

Leo masih begitu berat melakukan permintaan Rian. Dia masih tak sanggup. Air mata sudah jatuh lebih dulu di wajahnya.

Rian menepuk sebelah bahu Leo. Dan pelan, menghapus air mata di wajah saudaranya. Senyum tegar masih terpampang di wajahnya, lembut dan tenang. "Kau sangat beruntung," kata Rian. 

Leo mulai terisak mendengarnya. Dia langsung menghambur, memeluk Rian. Erat sekali, Leo memeluk orang yang sungguh berarti baginya dalam hidupnya selama ini.


***

Leo masih terdiam menunduk. Sepasang orang tua barunya masih berbicara dengan Nek Willie. Leo berdiri di samping kedua orang tuanya, sementara Rian berdiri di seberangnya bersama Bu Martha yang terus merangkul kedua bahu Rian. 

"Terima kasih, ya, Nek! Kami akan menjaga dan merawat anak ini dengan baik," jelas wanita muda itu. 

"Terima kasih kembali kalau begitu, Nyonya Seridine," balas Nek Willie.

Leo mengangkat kepalanya sejenak. Rian masih menampilkan senyum yang begitu cerah yang membuatnya sempurna terlihat tak bermasalah dengan hal ini. Leo semakin pilu melihatnya. 

Mendapat balasan pandang yang sesedih itu, Rian mendekatinya. Bu Martha melepas kedua tangannya dan membiarkannya berjalan ke seberang. 

Di hadapan Leo, Rian memandangnya sejenak. Senyumnya sama sekali tak berubah, walau sejujurnya memandang sepasang mata pilu itu pun turut membuat hatinya pilu. Untuk kedua kalinya, Rian menepuk bahu Leo seraya memandang kedua mata Leo dalam-dalam.

"Kita akan bertemu lagi, Leo,"  jelas Rian, setengah menghibur. 

Leo masih diam saja. 

Rian tertawa kecil, mencoba memberi ketegaran. "Tentu kita bisa bertemu lagi, selama kau dan aku masih ada, kita akan selalu bisa bertemu lagi," lanjut Rian. "Sekarang, aku tidak mau mengenang wajah cengengmu itu. Kau itu tidak cengeng, kau bukan anak kecil lagi."

"Aku tidak bisa, Rian," balas Leo getir. "Aku tidak akan pernah bisa sekuat kamu." 

Rian tertawa lagi. "Kalau begitu, belajarlah untuk melakukannya! Kalau kamu tidak bisa melakukan apapun dan terus saja berkata kau tidak bisa, maka kau tak akan pernah bisa melakukan itu." 

Namun Leo hanya diam. Dia tetap saja sulit melakukannya. Dia akan berpisah dari Rian, bagaimana caranya dia tersenyum sekarang? 

Rian merubah senyumnya menjadi sedikit miring di salah satu pipinya. Kedua tangannya mulai bergerak ke arah lain, menggelitiki Leo. Leo yang kaget hanya bisa mencoba menjauhkan tangan Rian sambil tertawa geli. Sampai beberapa saat, terus saja Rian menggelitiki Leo, tak peduli dengan Leo yang telah terbahak-bahak. 

Leo membalas menggelitik Rian. Namun Rian pun tak berhenti menggelitik Leo. Terus saja mereka berdua saling menggelitiki. 

Bu Martha di sana hanya tertawa kecil memperhatikan tingkah kedua bocah lucu itu. 

Saat mulai lelah menggelitik dan tertawa, barulah mereka berhenti. Namun masih saja tertawa-tawa karena sempat terpingkal-pingkal sebelumnya. Selesai mengatur nafas dari tawa, mereka saling bertatapan lagi. Kali ini dengan senyum dan tawa kecil. Seakan tawa tadi rasanya telah melepas sendu yang melekat di hati Leo. Rian kini memeluknya, Leo menerimanya. Tak berapa lama, mereka melepas pelukan dan kembali saling menatap.

Wanita muda di sana memanggil Leo. "Leo sayang, kita naik ke mobil, yuk!" 

Leo menoleh pada wanita itu. Dengan senyum yang masih menempel di wajahnya, dia mengangguk. Dua orang dewasa itu pun mulai melangkah menuju mobil yang terparkir tepat di depan panti. Sementara Leo kembali memandang Rian, tersenyum padanya.

"Kita akan bertemu lagi, ya!" lengos Leo. 

"Tentu saja," balas Rian. 

"Janji?" Leo mengacungkan kelingkingnya di depan. 

Rian meraihnya dengan kelingkingnya. "Tapi kalau aku berjanji, kau juga harus berjanji." 

"Tentu!" balas Leo. 

"Leo, ayo!" panggil pria yang kini telah di dalam mobil. 

Leo berlari pelan ke sana. Dia masuk ke dalam mobil dan membuka kaca jendelanya. Dari sana, dia melambaikan tangan pada Rian. 

Rian membalasnya. Bu Martha mulai mendekati Rian dan ikut melambai pada Leo. 

Mobil berjalan, mulai meninggalkan panti. Leo masih memandang keluar jendela, memperhatikan panti itu. Bahkan setelah begitu jauh pun, Leo masih memandanginya. Masih ada rasa berat meninggalkan tempatnya tumbuh dan dibesarkan. Terutama rasa enggan terpisah dari Rian. Namun semua itu mulai terasa kecil, dia masih bisa mengulur senyuman bahkan setelah pergi begitu jauh dari panti. 

Masih teringat di benaknya senyuman Rian. Rasanya semua ini terlalu cepat berlalu. Namun tetap, dia harus menerima dan menjalaninya. 

Sekarang dia ada di tempat yang baru. Di kehidupan yang baru. Dia akan tinggal bersama keluarga ini. Dia telah memiliki seorang ayah dan seorang ibu. Rasanya mulai tak sabar untuk pergi ke rumah barunya, melihat seberapa dia akan menyukainya nanti. 

***


To be continued ....

0 tanggapan:

Posting Komentar