Minggu, 26 Oktober 2014

Dark Forest: Chapter 3


Dark Forest 
Chapter 3:
Mahkota yang Sebenarnya


~~~~~
Hmm ... terlalu lamakah? Maaf, yaaa .... :)
~~~~~



Pagi hari itu sepi dan sunyi. Cahaya hangat matahari menyinari rerumputan hijau yang rapi dan juga dedaunan pohon-pohon yang begitu rimbunya. Hewan-hewan dan serangga yang bekerja di siang hari telah terbangun dan kini pergi mencari makananya. 

Cahaya hangat matahari itu telah menimpa tubuh Ray dari sebuah jendela. Seraya mengerang pelan, Ray membuka matanya perlahan, memandang jendela di samping ranjang tempatnya tertidur. Pandanganya masih agak buram.

"Pagi?" gumamnya. Ray pikir cahaya matahari seharusnya tak akan pernah tertembus oleh pepohonan di hutan ini.


Ray beranjak bangun. Namun ternyata, sakit di sekujur tubuhnya masih terasa, karena itu Ray hanya bisa tetap berbaring. Dia memandang tangan, badan, dan kakinya yang dibalut perban. Kaus dan sarung tangan hitamnya terlipat rapi di atas meja di sebelah ranjangnya. Ray memperhatikanya sejenak, lalu memutar pandangnya ke sekeliling ruangan. 

Rumah kayu tempatnya berada terlihat cukup luas. Semua perabotan di rumah itu sederhana, kebanyakan terlihat terbuat dari kayu. Semuanya tertata begitu rapi di tempatnya. Terlihat tak begitu banyak barang di kamar itu. Terdapat dua ranjang yang tak terlalu besar di sana, salah satunya yang ditempati Ray, beberapa langkah dari ranjang satunya lagi yang terdapat di pojok ruangan. Ara terbaring di atas ranjang itu, belum siuman. 

Tiba-tiba pintu di seberang ranjang Ara berderit. Seorang bapak tua berdiri di sana, membawa sebuah keranjang. "Adik sudah bangun?" katanya dengan suara yang agak kering. Kakek itu mendekati Ray dengan langkah agak tertatih.

"Sebaiknya jangan paksakan diri kalau masih belum kuat," ujar sang kakek. "Luka kalian cukup parah juga. Sepertinya banyak bebatuan yang kalian hantam." Kakek itu meletakan keranjangnya di atas meja, di sebelah baju Ray. 

Sepertinya orang yang ramah, pikir Ray.

"Kakek ini yang menolong kami?" tanya Ray. Masih diperhatikanya kakek berbaju panjang yang kini berdiri di sebelahnya. 

"Ya," balas kakek itu. "Sebetulnya Kakek hanya mendengar sesuatu bergemuruh di kebun sebelah rumah Kakek ini. Kakek memutuskan untuk melihat ada apa di sana. Ternyata kalian baru saja menggelinding di tebing. Kalian terkapar beberapa langkah dari pagar rumah Kakek." 

Ray memandang ruangan itu. "Kakek ... tinggal di sini?" 

"Iya," jawab sang kakek sambil menggeser bangku di dekat meja untuk didudukinya. "Nama Kakek, Aldorus. Sebetulnya Kakek tinggal berdua di rumah ini dulu, tapi sekarang Kakek hanya tinggal sendirian saja." 

Ray kembali memandang kakek di sampingnya. "Apa yang terjadi?" 

Kek Aldorus diam sejenak seraya menunduk. Lalu dia mendesah panjang. Tiba-tiba Ray menjadi merasa bersalah menanyakan hal itu. Ray baru saja hendak membuka mulutnya saat dia dengar perempuan di ranjang sebelahnya memanggil namanya. 

"Ray?"

Ray menoleh. Ara memandangnya, duduk bersimpuh kaki di atas ranjang.

Ray kaget melihatnya. "Ara ... kau ...." 

"Adik sudah baikan?" tanya Kek Aldorus. "Secepat ini? Padahal Kakek pikir kalian baru akan baikan besok." 

"Uhmm ... iya," balas Ara. "Tapi sepertinya aku masih belum bisa berdiri."

Kek Aldorus menimpali, "Oh, iya. Kalian sepertinya terkilir. Kalian mungkin tidak bisa berjalan dulu untuk sekarang ini." 

Ray dan Ara tak membalasnya. Mereka diam bersamaan. 

"Oh, ya. Kakek hampir lupa dengan sarapan untuk kalian," kata Kek Aldorus seraya berdiri dari duduknya. "Tunggu sebentar, ya. Kakek akan bawakan dari dapur. Kakek memasak sup lezat untuk kalian." 

Kakek Aldorus pun berjalan pelan menuju pintu. Setelah beberapa waktu, akhirnya Kek Aldorus keluar dari kamar itu. Sekarang, tinggalah Ray dan Ara terdiam di atas kasur.

"Kakek itu kelihatanya ramah, ya?" kata Ara. Dia bergeser ke pinggir ranjang untuk menjulurkan kakinya ke bawahduduk di tepi ranjangnya. "Siapa namanya?" tanya Ara. 

"Aldorus," jawab Ray. "Kakek Aldorus." 

"Ah ... namanya kedengaran seperti bijaksana," tanggap Ara lagi.

Ray tertawa kecil. "Benar. Aku juga berpikir seperti itu." 

"Dia tinggal di rumah ini?" 

"Ya." 

"Sendirian?" 

"Ya, tapi katanya sebetulnya tidak." 

"Lantas, kenapa dia bisa tinggal sendirian?" Ara nampak sedikit terkejut juga penasaran. 

Kali ini Ray mendengus. "Itulah. Aku menanyakannya. Tapi Kek Aldorus menunduk, dengan sedih juga. Pasti yang terjadi begitu berat, Ara."

Ara diam. Sekarang, dia mulai memandang ke sekeliling ruangan. Memandangi langit-langit yang langsung merupakan genting-genting. "Rumah ini pasti sudah lama, ya," tanggapnya lagi.

Ray memandang Ara sejenak. Lalu, dia ikut memandang ke atap rumah di atasnya. Sudah terdapat beberapa sarang laba-laba di sana, walau tak lebar. "Mungkin saja." 

Ara kembali memandang Ray. "Bukan hanya mungkin, Ray. Tapi tentu sudah tua. Tidak mungkin dia tinggal di sini dengan yang seperti rumah ini belum lama. Memangnya dia sanggup melakukanya?" 

Ray menatap Ara. "Kek Aldorus tentu bisa meminta bantuan dari penduduk di dekat sini."

Ara mendengus sebal, "Hhuuuhh ...! Bukankah kamu bilang Kek Aldorus sebetulnya tidak tinggal sendirian?" 

"Ya, tapi dulu." 

"Justru karena itu, rumah ini pasti sudah lama. Lagipula memangnya siapa yang bisa dimintai bantuan di sekitar sini? Di hutan ini hampir tak ada orang. Bahkan sepertinya hanya kakek ini saja yang tinggal di dalam hutan ini, Ray." 

Gantian Ray mendengus, lebih pelan. "Kalau Kek Aldorus bisa tinggal di sini, tidak mungkin dia sebetulnya tinggal sendirian di sini. Pasti ada penduduk lain juga." 

Pandangan mata Ara berubah drastis. Ah, benar juga, pikirnya.

Ray mendesah melihat perubahan raut Ara. Sedikit merasa menang karena dia tahu Ara tentu mengiyakan apa katanya. 

Kek Aldorus masuk ke dalam kamar. Beliau membawakan sebuah baki dengan dua mangkuk di atasnya. Kek Aldorus berjalan ke dekat meja di sebelah ranjang Ara terlebih dahulu.

"Mmm ... Kek ...," Ara mengangkat suara setelah agak lama hening. "Apakah ...."

"Apakah kami boleh keluar rumah sebentar nanti siang?" tanya Ray. Memotong pertanyaan Ara.

Ara tentu langsung menoleh padanya.

Sementara itu, Kek Aldorus hanya tetap tersenyum. "Keluar?" ulang Kek Aldorus. "Mungkin tidak. Kakek sudah bilang bahwa kalian akan sembuh besok atau lusa."

"Kami pikir siang nanti kami akan sudah mampu berdiri, Kek," balas Ray. "Tidak apa, bukan?"

Tepat saat itu, Kek Aldorus baru saja meletakan mangkuk di meja sebelah ranjang Ray. Sebelum menoleh pada Ray dan memandang kedua remaja di kamar itu bergantian, Kek Aldorus menghembuskan nafas. Dari wajahnya, nampaknya Kek Aldorus mencoba memahami Ray ... dan mengiyakan perkataannya.

"Baiklah, Dik," katanya. "Tapi habiskan dulu supnya, ya?"

***

Hari telah menjelang siang. Ara hanya dapat tiduran di kasurnyadia tak bisa sepulas Ray yang telah mendengkur. Setelah Ara menghabiskan makanannya, dia baru menyadari bahwa Ray telah tidur. Sebetulnya Ara masih belum bisa tidur. Pun saat Kek Aldorus masuk ke kamar mereka dan mengambil kembali 2 mangkuk kosong, saat itu Kek Aldorus menyarankan Ara untuk tidur.

Ara bangun, duduk di ranjangnya. Sejenak dia perhatikan Ray yang terselimut hingga leher. Entah sejak kapan Ray telah berhenti mendengkur. Ara bersyukur dalam hati menyadari Ray tak lagi berisik.

Ara menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Duduk di tepi ranjang, kakinya tak sampai ke lantai kayu. Sepertinya ranjang itu masih agak tinggi untuknya, atau sepertinya badan Ara-lah yang mungil. Ara berdiri dari ranjang, dan berjalan pelan menuju sisi lain kamar. Dia berdiri di depan jendela, memandang keluar.

Suasana di luar nampak cerah. Cahaya matahari sangat jelas terlihat, menyinari pepohonan yang berada cukup jauh dari rumah tempat Ara berdiri. Bahkan di depan jendela, Ara dapat tetap merasakan hangat matahari itu. Terdengar pula burung-burung berkicauan, membuat Ara lupa bahwa hari sebetulnya telah menjelang siang. Keadaan di sini bahkan seperti tak jauh berbeda dengan di desa, pikir Ara.

Lama Ara terdiam. Dia tak menyadari Ray yang telah membuka mata dan memandangnya. Ray dapat melihat jelas raut wajah Ara yang sulit dijelaskan. Ara tak tersenyum, tidak juga murung, dan tidak pun gelisah.

"Tuan Putri," panggil Ray pelan.

Ara menoleh. Sejenak, panggilan itu menyentakkan perasaan dan pikirannya. Seakan dia baru ingat sesuatu.

"Putri," sambung Ray. "Apa yang sedang Tuan Putri pikirkan?"

Ara tak menjawab. Dia mendesah dahulu, lalu berkata, "Aku tidak tahu."

Ray diam saja memandangi Ara, membuat keheningan dalam kamar itu. Angin hutan berhembus masuk dari jendela di depan Ara, menerpa wajah Ara dan Ray yang kosong. Ara perlahan kembali memandang keluar jendela.

Ray beranjak, hendak duduk. Namun ternyata sakit ditubuhnya masih terasa. Ray mengerang tepat saat Ara mendekatinya dengan kaget.

"Kalau masih belum mampu, sebaiknya jangan dipak ...." Tak sengaja Ara melihat sesuatu melingkari leher Ray muncul tersibak dari balik selimut. Sebuah tali emas bercahaya dengan kristal biru terkalung di sana.

Ray tak menyadari perubahan raut Ara. Bahkan dia tak begitu mendengarkan Ara sebelumnya. Ray menutup rapat kedua matanya dan masih mengerang menahan sakit. Dia sendiri memang tak menyangka tubuhnya masih belum lebih baik.

Tok! Tok! Suara ketukan pintu mengalihkan keduanya. Kek Aldorus kembali muncul di sana.

"Adik ini sepertinya sudah pulih, ya," ujar Kek Aldorus pada Ara. "Bagaimana dengan temanmu?"

"Se ... sepertinya masih belum cukup baik, Kek," jawab Ara. Dia sedikit gugup karena kagetnya tadi.

"Kalau begitu Adik ingin mandi dulu? Di halaman belakang ada sumur dan bilik kecil untuk mandi. Adik bisa menggunakannya," jelas Kek Aldorus. "Kakek perlu berladang dulu di kebun kakek. Kalian sebaiknya tetap di rumah dan berhati-hatilah!"

"Iya," balas Ara dan Ray bersamaan. Namun mereka tak menyadarinya, mereka sama-sama masih tetap memperhatikan langkah Kek Aldorus pergi dari ambang pintu dengan setengah tak percaya.

"Hah ...?" gumam Ray. Ara menoleh pelan padanya. "Setua itu masih mampu mengangkat pacul? Apa masih kuat?"

Ara mendesah. Kadang dia tidak suka cara bicara Ray yang asal menilai. "Aku juga tidak tahu," kata Ara kemudian seraya berjalan mendekati pintu.

"Umm ... mau kemana, Putri?" tanya Ray.

Ara berhenti sejenak dan menoleh. "Ke halaman belakang, aku mau mandi," jawab Ara, lalu Ara tertawa kecil sendiri. "Lucu, ya," kata Ara lagi. Lalu dia melanjutkan langkahnya keluar kamar dan menutup pintu.

Ray diam. Dia hanya dapat diam. Namun diam yang dia lakukan bukan hanya karena itu, namun juga menyerap kalimat Ara. Cukup lama Ray diam, dia mulai lupa tentang apa yang ia pikirkan. Semilir angin yang berhembus masuk dari jendela membuatnya perlahan terlelap.

***

Hari telah siang. Udara panas telah menyengat ke wajah Ray. Ray tersilau dan terbangun, dia menoleh sejenak ke jendela yang masih dibuka.

Putri Ara pasti sengaja membiarkannya, pikir Ray.

Ray perlahan-lahan mencoba bangun. Masih Ray rasakan sakit tulang-tulang di punggung dan bahunya. Namun Ray cukup mampu untuk duduk di ranjangnya. Kepalanya terasa sedikit pusing karena terlalu banyak tiduran. Namun selang beberapa lama, pusingnya hilang. Ray menoleh ke sekelilingnya, mencari Ara. Namun Ara tak ada di kamar.

Angin berhembus pelan. Kembali masuk ke kamar dan menerpa Ray. Walau cukup pelan, Ray tetap dapat mendengar gemerisik dedaunan yang tumbuh lebat di pohon-pohon hutan. Ray mulai menoleh ke jendela. Dapat ia lihat hamparan biru cerah berawan dan hijau-hijau daun pepohonan. Jendela kamar itu menghadap ke hamparan hijau yang bergelombang, lapangan yang cukup luas seandainya tak dibatasi oleh pagar kayu. Disadarinya hal lain di sana, Ara berdiri mebelakanginya.

Ara berdiri di sana telah lama. Memandangi ke dalam hutan sambil terus merenung. Ara membiarkan angin menerpanya, mengibarkan rambut dan gaun panjangnya. Hampir tak ada hentinya Ara terdiam tanpa suara, dan hampir tak bergerak sedari tadi, memikirkan hal yang sama.

Pandangan matanya kosong. Wajahnya nampak tak menyiratkan apapun. Namun gelisah tetap ada di hatinya. Mencengkramnya seolah mengingatkannya akan sesuatu yang tak boleh dilupakannya.

"Tu ... tuan."

Ara lekas menoleh ke asal suara. Ray tengah berdiri di ambang pintu, sebelah tangannya memegang hendel dan satunya lagi berpegangan pada dinding.

"Ray," kata Ara sambil berjalan setengah berlari mendekatinya. "Kamu masih sakit. Sudah aku bilang untuk jangan memaksakan diri, Ray."

Ray tak membalas. Dia melangkahkan kaki keluar dari lantai rumah. Ara membantunya berjalan.

"Aku tak percaya ...," kata Ray. "Ternyata dalam hutan ini, cahaya matahari masih dapat sampai juga menuju tanah hutan."

Ara tertawa kecil. "Aku juga."

Ray kemudian diam. Entah kenapa suasana terasa canggung untuknya. Ara kemudian merebahkan Ray di tengah lapang hijau, dan dia ikut duduk di sebelah Ray. Mereka tak berkata-kata lagi.

Ray melirik Ara. Ara kini sudah kembali termenung memandang ke hutan. Entah apa yang dipikirkannya. Ray pun memutuskan untuk menanyakannya. Dengan nada yang pelan, Ray bertanya, "Ehmm ... Putri ...."

Belum selesai pertanyaan Ray, dia terpotong oleh tatapan Ara. Ara langsung menoleh padanya. Pandangan Ara pun tak terdugua oleh Ray, Ray tak dapat membacanya lebih rinci apa isi dalam tatapan itu.

Ara mulai menyadari keterkejutan Ray. Dia mulai berkata, "Oh, maaf." Ara lalu kembali memandang ke depan.

Ray masih terdiam. Namun teringat olehnya pertanyaannya yang menggantung sebelumnya. Dia pun mencoba mengucapkannya lagi, "Pu ... Putri, ada apa?"

Ara tak langsung menjawab. Dia terdiam terlebih dahulu. Lalu dia menunduk dengan bisu, seakan mencari kata untuk berbicara. Setelah beberapa saat, barulah Ara membalas, "Ray, apa menurutmu aku ... harus kembali?"

Ray tampak sedikit menegang. Sepertinya dia agak kaget dengan pertanyaan Ara. "Maksud Putri ke istana? Ke kerajaan? Kenapa Tuan Putri dapat berpikir seperti itu?"

Ara hanya diam, menunduk.

Ray ikut diam. Dia mulai merasa nada bicaranya sebelumnya terlalu tinggi. Kini dia mulai memandang Ara yang tercenung menundukkan kepala dengan rasa bersalah.

Ara mendesah. "Entahlah," gumamnya.

Ray makin tertusuk mendengar nada bicara Ara yang terdengar pasrah. Seakan Ara terpojok dan tak tahu harus mengatakan apa lagi. Walau Ray masih tak dapat membaca dengan jelas pandangan mata Ara, namun dia tahu Ara memang sedang gelisah.

"Kau tahu, Ray?" kata Ara hambar. "Aku merasa asing dengan gelarku."

Ray mencoba menangkap, "Maksudnya ... menjadi ... Tuan Putri?"

Ara tak menjawab. Dia hanya mendesah lagi. Lalu Ara berkata lagi dengan sama hambarnya, "Entah kenapa aku tidak tahu. Tapi rasanya ... aneh saat kau memanggilku 'Tuan Putri'."

Ray kembali diam. Dia mulai tak mengerti akan kegelisahan Ara. Apa yang sebetulnya Putri pikirkan hingga segelisah itu? pikir Ray.

"Sudahlah, Ray ...," kata Ara kemudian. "Kamu belum mandi, bukan? Sana pergi ke dekat sumur."

***

Menjelang petang, Kek Aldorus pulang. Beliau terlihat membawa 2 ikat besar dari beberapa kayu bakar. Malam itu, Ray dan Ara lebih banyak berada di kamar mereka.

"Menurutmu Kakek itu sungguh baik?" tanya Ray sambil tersenyum.

Ara yang baru saja menutup jendela kamar menoleh. "Tentu," jawabnya sambil tersenyum. "Padahal aku pikir orang tua itu pemarah dan emosional."

"Hahaha ... itu mungkin hanya karena Tuan Putri terlalu terbiasa dengan penjaga gerbang istana," lengos Ray.

Ara lagi-lagi diam sejenak. Dan saat itu, senyumnya pudar untuk beberapa saat. Sepertinya Ara memang tak terbiasa dengan gelarnya.

"'Tuan Putri'?"

Ara dan Ray sontak menoleh ke asal suara di pintu kamar. Itu Kek Aldorus, beliau berdiri di ambang pintu. Nampaknya Kek Aldorus mendengar apa yang baru saja Ray katakan. Kek Aldorus masuk ke dalam kamar dan mendekati Ara perlahan seraya sepasang matanya yang tua terus memandangi wajah Ara. Bahkan sampai saat berdiri di depan Ara pun, Kek Aldorus tetap menatap lekat wajah Ara.

"Jadi ... Adik ini ... putri?" gumam Kek Aldorus seolah tak percaya.

"Mmm ... maaf kami tidak memberi tahukan ini, Kek," balas Ara. "Iya, aku seorang putri. Aku dari kerajaan Fedennore, Ara Fedennore."

"I ... itu tidak mungkin," kata Kek Aldorus. "Seharusnya tidak ada siapapun lagi yang memegang jabatan itu."

Ray dan Ara tersentak. Mereka tentu kaget mendengarnya.

"Tidak! Tentu ada!" balas Ray. "Ara adalah penerus sah tahkta kerajaan, putri dari Raja Leonare dan Ratu Afira! Hanya Putri Ara sajalah yang mampu mendapatkan jabatan sebagai putri kerajaan!"

Kek Aldorus memandang Ray lekat. Masih terihat ketidak percayaan di matanya. "'Putri Raja Leonare'?" ulangnya lagi-lagi seakan tak percaya mendengarnya. Kek Aldorus kini kembali memandang Ara. "Benar begitu? Kau putri Raja Leonare?" tanya Kek Aldorus pada Ara.

Dengan sedikit bingung atas ekspresi Kek Aldorus, Ara mengangguk. "Benar," jawab Ara dengan nada tenang.

Kek Aldorus menggeleng-geleng. Pandangan matanya kini berubah.

Ray dan Ara sama sekali tak mengerti itu. Mereka bertanya-tanya dalam hati akan reaksi Kek Aldorus ini.

"Kek ...," kata Ray. "Memangnya ada apa?"

Kek Aldorus kembali memandang Ray. Beliau melangkah mendekati ranjang Ray dan duduk di sebelah Ray yang sedang duduk di ranjangnya. Wajah Kek Aldorus terlihat serius sekarang.

Kek Aldorus mendesah pelan terlebih dahulu. "Tahkta kerajaan, seharusnya tak dimiliki oleh putri raja."

Ray dan Ara saling berpandangan. Mereka sama-sama tak mengerti.

"Hanya ada satu orang, pemilik tahkta itu," kata Kek Aldorus lagi. "Dia pangeran kerajaan Fedennore."

Ray dan Ara terkesiap mendengarnya. Terkejut bukan main.

"Mustahil!" kilah Ara. "Tidak ada pangeran di kerajaan Fedennore. Aku anak tunggal mereka."

Kek Aldorus menggelengkan kepala. Dia lalu memperhatikan Ara sejenak. Dan kemudian berkata lagi, "Ada seorang lagi. Sebelum Adik ini, ada seorang putra mahkota, anak kandung asli Raja Leonare."

"Itu tidak mungkin!" kilah Ara lagi. "Ayah dan ibuku, sang raja dan sang ratu sudah mengatakan padaku bahwa hanya aku anak kandung mereka. Tidak ada lagi!"

Kek Aldorus kembali mendesah. Matanya nampak memandang Ara dengan sedih. "Sepertinya Adik telah ditipu mereka."

Ara masih tak mau menerimanya. "Tidak! Mustahil seperti itu!"

Kek Aldorus berdiri pelan dari ranjang Ray. Lalu dia berjalan menuju pintu. Sebelum menutup pintu, Kek Aldorus berkata, "Sudahlah, sekarang ini telah larut. Jangan terlalu memikirkan yang tadi, dan tidurlah!" Dan pintu ditutup pelan.

Ray menoleh pada Ara. Ara hanya menunduk, kedua tangannya meremas selimut. Ray diam saja, lalu memiringkan badan ke samping lain. Ray tak tahu harus berkata apalagi. Dia pun sama kagetnya dengan Ara. Dan dia tahu, Ara tak akan mungkin percaya.

***



0 tanggapan:

Posting Komentar