Reprisals Blood of the Tiger
PART 1
Dua Bersaudara
Leo mengecek buku-buku di lemari. Dia perlu memastikan tidak ada buku yang berantakan disusunnya, atau belum dimasukkan ke lemari. Sambil membersihkannya dengan kemoceng, Leo bersenandung.
Seseorang yang masuk membuat Leo berpaling. Dia menoleh ke pintu dan memandang seorang anak sebayanya yang berdiri di sana.
"Terlalu rajin kamu," gumam Rian. Dia kemudian menutup pintu.
Leo mendengus. "Aku kira siapa yang masuk," kata Leo.
Rian mendekati Leo. "Sudah kukira kamu pasti ada di perpustakaan. Tapi tak biasanya kamu bukan sedang membaca buku," kata Rian.
"Hahaha ... yah, melihat lemari buku yang berantakan dan kotor, aku jadi terpikir untuk membersihkan dan membereskannya," balas Leo. "Tidak bagus juga kalau ada ruangan di panti ini yang terlihat berantakan. Iya, bukan?"
Rian tertawa kecil mendengarnya. Dia lalu berkata lagi, "Aku pikir kamu lebih suka olahraga daripada bersih-bersih."
Leo tersenyum miring. Lalu dia mengangkat kemocengnya ke depan wajah Rian sambil berkata, "Mau kubersihkan juga wajahmu?"
Rian refleks menyingkirkan kemoceng itu. "Ayolah," kilahnya sambil tertawa kecil. "Sudah waktunya makan siang. Ayo ke ruang makan! Nanti kita tidak kebagian makanan lagi."
Leo meletakan kemocengnya di atas meja. Lalu dia mengapit tangan Rian.
"Hei, aku tidak keberatan kalau makanan hari ini sarden," kata Leo.
"Aku juga tidak kalau itu," balas Rian. "Rasa sarden buatan Bu Cinny terlalu aneh. Seperti busuk."
Leo terbahak, "Hahaha ... mungkin begitu, ya."
Rian ikut tertawa saja. Mereka masih saja mengobrol sampai keluar dari perpustakaan panti.
Di ruang makan, anak-anak sudah banyak berkumpul. Leo dan Rian ada di antara mereka. Mereka berdua masih mengobrol sambil menunggu makanan.
Di panti sosial ini, Leo dan Rian tumbuh bersama. Sudah sejak kecil sekali mereka dibesarkan di panti asuhan, dan sudah selama itulah Leo dan Rian bersahabat. Atau tepatnya bersaudara, karena mereka sudah terlanjur terlalu dekat dan terlalu terikat satu sama lain. Sikap mereka pun tak jauh berbeda, periang, energik, tapi tetap baik dan akrab pada sesama anak panti yang lainnya.
"Leo," panggil Rian sambil mengunyah makanannya. "Kau tahu, tidak? Sepertinya esok atau lusa ada anak dari panti ini yang akan diadopsi seseorang."
Leo meneguk air di gelasnya terlebih dahulu. Lalu dia menatap berserta kepalanya kepada Rian. "Ada anak yang akan diadopsi?"
Rian mengangguk.
"Siapa?" tanya Leo.
Rian kini menggedikan bahu. "Tidak tahu. Kalau dari yang aku dengar, katanya anak berumur 12 tahun," jelas Rian.
"12 tahun?" ulang Leo sambil menyuap makanan. "Mungkin salah satu dari kita. Kita juga sudah 12 tahun."
Rian menelan makanannya. Lalu dia memandang Leo sambil berkata, "Itu artinya salah satu dari kita."
"Hah?! Cuma ada satu orang?" balas Leo terkejut.
"Ya tentu," balas Rian santai. "Memangnya mereka perlu berapa? Kau pikir merawat anak kecil itu mudah?"
Leo merengut. Lalu dia menyuap lagi makanannya sambil sedikit berpikir. Tak lama kemudian, dia berkata, "Mungkin itu kamu, Rian."
Seketika Rian terbatuk, tersedak makanannya. Dia lekas mengambil segelas air dan meneguknya. Setelah itu langsung memandang Leo yang memandangnya dengan sedikit kaget. "Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu pikir itu aku?"
Leo menggedikan bahu. "Kamu anak baik, aku pikir," jawab Leo sambil tersenyum pada Rian.
Wajah kusut Rian berubah. Seperti tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Leo.
Leo berkata lagi, "Siapa yang tidak mau anak sepertimu menjadi bagian dari keluarganya? Kau akan sangat beruntung. Kau tahu?"
Pandangan Rian kini berubah, sendu. Leo yang melihatnya mulai memudarkan senyumnya. Dia lalu mulai merasa bersalah, berpikir perkataannya sebelumnya menusuk Rian. Namun sebelum Leo mengangkat suara untuk meminta maaf, Rian telah memotongnya dengan senyuman getir. Tak mengucapkan apapun, hanya senyuman yang nampak berat.
"Kau juga," kilas Rian setelah beberapa lamanya diam.
Leo perlahan mulai menyadari itu. Mereka telah lama tinggal di panti ini. Telah lama begitu akrab, begitu dekat, benar-benar seperti sepasang saudara. Kalau salah satu dari mereka yang akan diambil besok, pasti akan sangat berat melepas persaudaraan mereka. Leo sadar, mereka sama-sama tak bisa sejauh itu.
Malam hari menjelang tidur. Leo hanya berselimut di ranjangnya. Dia hanya tiduran, namun tidak tidur. Dia tidak bisa tidur.
Di kamar mereka, ranjang berbaris di pinggir-pinggir ruangan. Ranjang-ranjang kecil itu saling berseberangan. Satu ranjang ditiduri oleh dua anak.
Di ranjang Leo, ada Rian di sebelahnya. Rian tiduran membelakanginya. Namun tak Leo sangka saat Rian membalik badannya menghadap pada Leo, Rian ternyata belum tidur juga.
"Oh, Rian ...," gumam Leo. "Kau masih bangun?"
"Iya," balas Rian pelan. "Kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, Rian. Aku jadi takut," jawab Leo.
Rian diam sejenak. Lalu dia mendesah panjang. Dan kemudian dia memanggil pelan, "Leo."
Leo melirik pada wajah Rian yang berada tepat di sebelahnya.
Rian melanjutkan, "Kamu tidak boleh takut. Kamu tidak boleh menjadi seorang penakut. Penakut itu pengecut, dan kamu bukanlah pengecut."
Leo terdiam. Dia tetap menghadapi pandangan Rian yang serius.
Rian berkata lagi, "Aku ada di sini. Jadi kamu tidak perlu takut."
"Lalu bagaimana kalau kamu sudah tidak ada di sampingku lagi?" tanya Leo.
"Kamu harus tetap berani!" bisik Rian. "Kamu itu harus yakin kalau kamu bukan pengecut. Dan kamu tidak boleh membiarkan diri kamu dikuasai ketakutanmu!"
Leo diam sejenak. "Bagaimana caranya?"
"Kau akan tahu," jawab Rian.
Leo diam. Dia sudah tak tahu harus berkata apa lagi.
Rian mendesah. "Sudahlah, kita harus tidur sekarang. Jangan sampai besok bangun kesiangan."
Leo mengiyakan. Lalu mereka membenarkan posisi tidur dan mulai menutup mata.
Di ambang pintu, pintu baru saja ditutup. Suaranya terlalu pelan untuk dapat terdengar anak-anak di kamar itu. Dua orang dewasa di sana tersenyum sambil memandang satu sama lain.
"Tidak salah lagi, bukan?" bisik salah satunya.
"Iya, kita tak salah anak. Pasti yang itu," balas yang satunya lagi.
"Tidak boleh sampai lolos! Kita harus datangi dia secepatnya setelah ini. Cepat! Kita beritahu bos!"
Kedua orang itu pun pergi. Secara diam-diam keluar dengan cepat. Sayang, mereka tak menyadari sesuatu yang tertinggal, terjatuh saat mereka berlari.
Seseorang yang masuk membuat Leo berpaling. Dia menoleh ke pintu dan memandang seorang anak sebayanya yang berdiri di sana.
"Terlalu rajin kamu," gumam Rian. Dia kemudian menutup pintu.
Leo mendengus. "Aku kira siapa yang masuk," kata Leo.
Rian mendekati Leo. "Sudah kukira kamu pasti ada di perpustakaan. Tapi tak biasanya kamu bukan sedang membaca buku," kata Rian.
"Hahaha ... yah, melihat lemari buku yang berantakan dan kotor, aku jadi terpikir untuk membersihkan dan membereskannya," balas Leo. "Tidak bagus juga kalau ada ruangan di panti ini yang terlihat berantakan. Iya, bukan?"
Rian tertawa kecil mendengarnya. Dia lalu berkata lagi, "Aku pikir kamu lebih suka olahraga daripada bersih-bersih."
Leo tersenyum miring. Lalu dia mengangkat kemocengnya ke depan wajah Rian sambil berkata, "Mau kubersihkan juga wajahmu?"
Rian refleks menyingkirkan kemoceng itu. "Ayolah," kilahnya sambil tertawa kecil. "Sudah waktunya makan siang. Ayo ke ruang makan! Nanti kita tidak kebagian makanan lagi."
Leo meletakan kemocengnya di atas meja. Lalu dia mengapit tangan Rian.
"Hei, aku tidak keberatan kalau makanan hari ini sarden," kata Leo.
"Aku juga tidak kalau itu," balas Rian. "Rasa sarden buatan Bu Cinny terlalu aneh. Seperti busuk."
Leo terbahak, "Hahaha ... mungkin begitu, ya."
Rian ikut tertawa saja. Mereka masih saja mengobrol sampai keluar dari perpustakaan panti.
***
Di ruang makan, anak-anak sudah banyak berkumpul. Leo dan Rian ada di antara mereka. Mereka berdua masih mengobrol sambil menunggu makanan.
Di panti sosial ini, Leo dan Rian tumbuh bersama. Sudah sejak kecil sekali mereka dibesarkan di panti asuhan, dan sudah selama itulah Leo dan Rian bersahabat. Atau tepatnya bersaudara, karena mereka sudah terlanjur terlalu dekat dan terlalu terikat satu sama lain. Sikap mereka pun tak jauh berbeda, periang, energik, tapi tetap baik dan akrab pada sesama anak panti yang lainnya.
"Leo," panggil Rian sambil mengunyah makanannya. "Kau tahu, tidak? Sepertinya esok atau lusa ada anak dari panti ini yang akan diadopsi seseorang."
Leo meneguk air di gelasnya terlebih dahulu. Lalu dia menatap berserta kepalanya kepada Rian. "Ada anak yang akan diadopsi?"
Rian mengangguk.
"Siapa?" tanya Leo.
Rian kini menggedikan bahu. "Tidak tahu. Kalau dari yang aku dengar, katanya anak berumur 12 tahun," jelas Rian.
"12 tahun?" ulang Leo sambil menyuap makanan. "Mungkin salah satu dari kita. Kita juga sudah 12 tahun."
Rian menelan makanannya. Lalu dia memandang Leo sambil berkata, "Itu artinya salah satu dari kita."
"Hah?! Cuma ada satu orang?" balas Leo terkejut.
"Ya tentu," balas Rian santai. "Memangnya mereka perlu berapa? Kau pikir merawat anak kecil itu mudah?"
Leo merengut. Lalu dia menyuap lagi makanannya sambil sedikit berpikir. Tak lama kemudian, dia berkata, "Mungkin itu kamu, Rian."
Seketika Rian terbatuk, tersedak makanannya. Dia lekas mengambil segelas air dan meneguknya. Setelah itu langsung memandang Leo yang memandangnya dengan sedikit kaget. "Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu pikir itu aku?"
Leo menggedikan bahu. "Kamu anak baik, aku pikir," jawab Leo sambil tersenyum pada Rian.
Wajah kusut Rian berubah. Seperti tak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Leo.
Leo berkata lagi, "Siapa yang tidak mau anak sepertimu menjadi bagian dari keluarganya? Kau akan sangat beruntung. Kau tahu?"
Pandangan Rian kini berubah, sendu. Leo yang melihatnya mulai memudarkan senyumnya. Dia lalu mulai merasa bersalah, berpikir perkataannya sebelumnya menusuk Rian. Namun sebelum Leo mengangkat suara untuk meminta maaf, Rian telah memotongnya dengan senyuman getir. Tak mengucapkan apapun, hanya senyuman yang nampak berat.
"Kau juga," kilas Rian setelah beberapa lamanya diam.
Leo perlahan mulai menyadari itu. Mereka telah lama tinggal di panti ini. Telah lama begitu akrab, begitu dekat, benar-benar seperti sepasang saudara. Kalau salah satu dari mereka yang akan diambil besok, pasti akan sangat berat melepas persaudaraan mereka. Leo sadar, mereka sama-sama tak bisa sejauh itu.
***
Malam hari menjelang tidur. Leo hanya berselimut di ranjangnya. Dia hanya tiduran, namun tidak tidur. Dia tidak bisa tidur.
Di kamar mereka, ranjang berbaris di pinggir-pinggir ruangan. Ranjang-ranjang kecil itu saling berseberangan. Satu ranjang ditiduri oleh dua anak.
Di ranjang Leo, ada Rian di sebelahnya. Rian tiduran membelakanginya. Namun tak Leo sangka saat Rian membalik badannya menghadap pada Leo, Rian ternyata belum tidur juga.
"Oh, Rian ...," gumam Leo. "Kau masih bangun?"
"Iya," balas Rian pelan. "Kau tidak tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, Rian. Aku jadi takut," jawab Leo.
Rian diam sejenak. Lalu dia mendesah panjang. Dan kemudian dia memanggil pelan, "Leo."
Leo melirik pada wajah Rian yang berada tepat di sebelahnya.
Rian melanjutkan, "Kamu tidak boleh takut. Kamu tidak boleh menjadi seorang penakut. Penakut itu pengecut, dan kamu bukanlah pengecut."
Leo terdiam. Dia tetap menghadapi pandangan Rian yang serius.
Rian berkata lagi, "Aku ada di sini. Jadi kamu tidak perlu takut."
"Lalu bagaimana kalau kamu sudah tidak ada di sampingku lagi?" tanya Leo.
"Kamu harus tetap berani!" bisik Rian. "Kamu itu harus yakin kalau kamu bukan pengecut. Dan kamu tidak boleh membiarkan diri kamu dikuasai ketakutanmu!"
Leo diam sejenak. "Bagaimana caranya?"
"Kau akan tahu," jawab Rian.
Leo diam. Dia sudah tak tahu harus berkata apa lagi.
Rian mendesah. "Sudahlah, kita harus tidur sekarang. Jangan sampai besok bangun kesiangan."
Leo mengiyakan. Lalu mereka membenarkan posisi tidur dan mulai menutup mata.
Di ambang pintu, pintu baru saja ditutup. Suaranya terlalu pelan untuk dapat terdengar anak-anak di kamar itu. Dua orang dewasa di sana tersenyum sambil memandang satu sama lain.
"Tidak salah lagi, bukan?" bisik salah satunya.
"Iya, kita tak salah anak. Pasti yang itu," balas yang satunya lagi.
"Tidak boleh sampai lolos! Kita harus datangi dia secepatnya setelah ini. Cepat! Kita beritahu bos!"
Kedua orang itu pun pergi. Secara diam-diam keluar dengan cepat. Sayang, mereka tak menyadari sesuatu yang tertinggal, terjatuh saat mereka berlari.
***
To be continued ...

0 tanggapan:
Posting Komentar