Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Minggu, 20 November 2016


A Painful Morning - [14] - Last Hour



Cerbung

A Painful Morning




Episode 14:

Last Hour




Entah apa maksudnya. Kunta tak membawa senjata apapun. Tangan kosong ia menghadapi Ferdo. Mungkin ia kehabisan amunisi, atau karena sudah terlanjur turun, pikir Ferdo.

Ferdo seharusnya bisa meraih sebuah pistol. Tapi tengah-tengah ruangan di lantai empat ini sungguh bagaikan arena duel untuknyabersih, tak ada apapun selain lantai berdebu dan partikel bekas ledakan.

Ferdo pikir ia bisa mengulur waktu. Karena beberapa polisi kini mulai sadar dan membantunya. Mengejutkannya, senapan mereka telah kehabisan peluru, sepertinya mereka terlalu ceroboh untuk menghabisi amunisi, sebelumnya. Karena itu, mau tak mau mereka harus menyerang Kunta tanpa senjata apapun lagi.

Ferdo agak tak menyangka lawannya cukup kuat. Ternyata sekian banyak orang melawan Kunta yang seorang diri seolah bukan apa-apa untuk penjahat sebaya Ferdo itu.


A Painful Morning - [13] - Before the Goodbye



Cerbung

A Painful Morning




Episode 13:

Before the Goodbye




Ruangan kini tersamarkan. Hanya nampak debu-debu dan kabut. Udara kini menyesakkan paru-paru untuk beberapa saat. Darwan terbatuk, ditutupinya mulut sebentar kemudian kembali dengan tangannya yang lain, menjaga Salinda erat-erat.

Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya pusing. Darwan meraih pelipisnya dan menyadari noda merah membekas ke jarinya.


A Painful Morning - [12] - The On-Timing Man



Cerbung

A Painful Morning




Episode 12:

The On-Timing Man




Orang-orang di sekitar sangat kebingungan. Mereka tak tahu apapun. Lalu tiba-tiba segerombolan polisi datang dan menyuruh mereka menjauh, jauh sekali dari sebuah ruko yang hari itu nampak tak buka.

“Bukankah pemiliknya hanya sedang pergi?”

“Mungkin keluarga itu sebetulnya kriminal!”

“Tidak! Mustahil! Mereka sangat baik! Aku kenal keluarga itu sejak dulu masih bujangan!”

“Sepertinya ini sangat genting. Lihat seberapa banyak pria berseragam hitam itu! Dan coba lihat senjata-senjata yang mereka bawa itu!”

“Benar. Kurasa ini lebih dari apa yang kita pikirkan. Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman. Ayo!”


A Painful Morning - [11] - Tell Me the Reason!



Cerbung

A Painful Morning




Episode 11:

Tell Me the Reason!




Itu sudah 11 tahun yang lalu. Saat itu sang pemuda masih belia. Sewaktu kecilnya, ia agak berbeda dengan anak-anak seumurannya, ia lebih terlihat lebih terpatri dengan keluarga daripada bermain dengan kawan-kawan sebayanya. 
 

A Painful Morning - [10] - Half-Lived Girl

Cerbung

A Painful Morning




Episode 10:

Half-Lived Girl






Telah kering air matanya. Tak lama waktu yang dibutuhkannya untuk menumpahkan kegelisahan. Mungkin itu karena ia sudah beberapa kali terbangun di tengah malam dan menangis setelahnya.

Kedua mata Salinda tertutup. Wajahnya memandang ke dinding di seberang rak. Kunta mendongak, memandang wajah Salinda yang lembut.

“Apa kau tidur?” tanya Kunta.