Cerbung
A Painful Morning
Episode 15:
It's Over
Sepi. Gelap. Tapi tidak sunyi benar, masih berderu suara-suara di lantai atas. Tidak pula dingin, tapi terasa pengap. Seolah satu malam seperti beribu-ribu hari bagi lantai tiga gedung tersebut.
Benar. Salinda pun masih tak percaya ia baru tiga jam dan
sepertiga malam berada di sini. Waktu dalam ingatannya berkata bahwa ia sudah
sangat lama di sini. Membuatnya sedikit bertanya dalam hati, sungguhkah baru
tiga jam? Bahkan hari masih pagi.
Ingin rasanya Salinda mencari jam. Salinda ingin mengecek
benarkah jalannya waktu sekarang ini.
Bahkan jam segini belum waktunya
orang-orang sangat sibuk. Ini masih pukul 9 pagi.
Pagi. Ini pagi. Mungkin juga, ini pagi terakhirnya. Pagi
hari yang menyakitkan.
Tangan Bara meraba perlahan ke samping wajah Salinda.
Menelusup di antara rambut, meraih dari telinga hingga ke belakang kepala. Hal
itu membuat Salinda merinding terkejut, dan Salinda mulai ketakutan.
Mungkin tangan itu yang digunakannya untuk menahan kepala
Salinda.
Sempat mata Salinda melirik kembali pisau di tangan Bara
yang lain. Jantungnya berdebar makin cepat. Samar-samar Salinda merintih
singkat sebelum mengucapkan permohonannya.
“Ku ... kumohon jawab aku ... sebentar saja.”
Bara menutup mulutnya.
Salinda hanya ingin tahu. Kunta berkata bahwa rencana mereka
untuk membunuhnya bukan dirancang seperti ini. Walau itu bisa berarti banyak
hal, namun Salinda lebih terpikir bahwa semua ini terjadi karena dirinya yang
terbangun, dan kemudian turun dari kamar.
“Karena kau turun,” tuding Bara, berbisik. “Itulah
kesalahannya.”
“Aku hanya punya satu malam itu untuk melakukan apa yang
harus kulakukan. Kunta mendapat informasi bahwa keluarga kalian punya banyak
pelayan hingga tak sempat menghafal mereka semua, karena itu aku berpura-pura
menjadi pelayan, dan melihat susunan di rumah Jumanta Susanto dan melakukan
penculikan.”
“Mulanya, aku bertujuan menculik Arlisa Pujiyanti, ibumu.
Tapi tiba-tiba saat aku akan menaiki tangga, kau keluar dan turun. Sementara
itu, kamar Arlisa dan Jumanta tak jauh dari kamarmu. Kalau kau berkeliaran di
luar kamarmu, membawanya keluar dari rumah Jumanta yang besar tentulah sulit.
Apalagi aku tak tahu kau mau pergi kemana, kalau hanya bertujuan berkeliling,
aku sangat beresiko tertangkap basah olehmu.”
“Aku pun berubah pikiran. Setelah memperhatikan kalian dari
sore hingga malam, aku menyadari kau sangat mendapat perhatian dari seluruh
keluarga. Akan jauh lebih baik kalau kau yang kubawa. Dan aku memutuskan keluar
dari tempatku sembunyi dan menghampirimu, lalu membawamu.”
Salinda membuka mulutnya dalam bekap tangan Bara. Ia tak
berani menjauhkan tangan Bara. Tak disangkanya, Bara memberinya kesempatan
bertanya lagi, tangannya menjauh sedikit dari bibir Salinda.
“Bubuk putih itu adalah racun tikus, dan sirup leci itu
sudah tercampur larutan tawas,” jelas Salinda lirih. “Bukankah meracuniku tidak
ada dalam rencanamu?”
“Kau masih ingat betul rasanya ternyata,” gumam Bara. “Ya,
memang tidak. Aku bisa membekapmu dengan sapu tangan penuh obat bius langsung
di tangga itu.”
Salinda kembali diam. Dia terbatuk-batuk keras. Masih ada
rasa sesak akibat debar jantungnya. Dan dadanya masih terasa nyeri setiap kali
jantungnya berdenyut, memompa aliran darah ke sekujur tubuhnya yang lemah.
“Penawar racun itu akan bekerja selama dua jam, dan selama
itu harus beristirahat. Ini baru dua puluh menit dari terakhir kau meminumnya,
kalau detak jantungmu tidak teratur maka penawar racunnya bisa jadi akan
sia-sia.”
Salinda kembali terbatuk. Baru disadarinya tangan Bara telah
menjauh dari wajahnya. Salinda meringis, paru-parunya sakit.
Ada yang salah di
sini, bathin Salinda lirih. Ada yang
salah, tapi aku tak tahu apa itu. Ada yang seharusnya mustahil di sini.
Salinda menolehkan sedikit kepalanya. “Penawar racun ...
dari rak itu ... ada di sana?” Kalimatnya memang berantakan, namun Salinda tahu
Bara pasti paham maksudnya.
“Itu milikku, aku yang meramunya.”
Pertanyaan kali ini tertahan. Hal yang benar-benar terlintas
di benak Salinda. Kenapa ... kalau itu miliknya ... kenapa masih ada di sana
hingga Salinda sempat meminumnya?
Bara sendiri tak segan untuk menjawabnya. “Semua orang
sangat cepat menilai orang lain. Kalau kau ingin mengerti, jangan lakukan itu.”
Salinda yang terkapar kini memberanikan diri memandang Bara.
Bara tampak tetap memandangnya seperti itu, namun entah mengapa seperti ada hal
lain di mata Bara sekarang. Salinda berusaha mengerti hal itu, ia tetap
memandang lekat-lekat.
“Semua orang bisa berubah,” tanggap Salinda.
“Aku tidak pernah berubah,” Bara meralat, nada suaranya tak
terdengar dingin dan keras. Ia menjeda sesaat sebelum berkata lagi, “Kupikir
kau tak akan pernah tahu.”
Salinda menjawab, “Kakakku berkata, kalau kita kadang bisa
tahu sejatinya seseorang saat ....” Salinda menahan kalimatnya sejenak. “Kita
memandang matanya.”
“Tak pernah ada yang berani berlama-lama memandangku,” imbuh
Bara pelan.
“Nudira mengenal Darwan.”
Salinda tersentak. Debarannya semakin sakit. Tak siap dan
tak menduga perkataan Bara barusan.
“Mereka sekelas di SMP, sampai SMA. Tapi Nudira dikeluarkan
saat kelas sepuluh. Cerdas, tapi harus kabur dari kejaran polisi karena menjadi
buronan muda.”
“Kunta kemudian bertemu dengan kami. Ia telah tahu tentang
Nudira dan aku, juga sedikit tentang latar belakang kami. Kami mengajaknya
bergabung dan menuturkan rencana terorisme ini. Dimulai dengan mencari dana.”
Tentu saja. Salinda masih ingat, dari perkataan Nudira.
Mereka ingin membunuh para petinggi negara.
Bara kembali mendekatkan wajah. Hal yang membuat Salinda
kembali sadar. Tentang kegelapan. Tentang amis. Tentang denyut jantung. Tentang
pisau. Dengan gemetar, Salinda tetap membuka mata, memandang langsung pandangan
Bara yang kini perlahan menjauh.
Sekarang, keringat dingin menetes. Tidak, aku tidak siap. Aku tak berani. Aku takut.
Tanpa Salinda sadar, Bara bangkit berdiri. Salinda memandang
dengan besarnya rasa bingung. Mata pisau kembali masuk ke dalam lipatan, bahkan
ke dalam saku.
Salinda tak percaya. “K ... kenapa?”
“Mengerti saja.”
Salinda membisu. Perlahan, mengingat perkataan Bara
sebelumnya, ia mengerti. Namun tak percaya, sangat. “Kenapa? Aku anak
tersayang. Bukankah itu yang membuatmu amat membenciku?”
Salinda mencoba bangkit. Namun tidak, ia tak mampu. Ia ingin
menegur, namun Bara tak sedikit pun berbalik.
“Mimpi burukku ... akhir-akhir ini ...,” suara Salinda
bergetar, tak kuasa. “Tentangmu. Kau akan meninggalkanku, tapi karena itu semua
orang akan dendam padamu. Siapa yang baik ... dan siapa yang buruk menjadi
berbalik.”
Bara diam sejenak. Kepalanya nampak menoleh, tapi tetap tak
ingin menampakan wajahnya. Hening tetap menemani untuk beberapa detik hingga
Bara kembali memandang ke depan.
“Nudira mengenal ayahku, dia memberitahuku beberapa tahun
setelah aku kehilangan keluarga,” terangnya. “Ayahku seorang koruptor. Ia
menganggap aku tak bisa dipercaya. Sebanyak apapun aku berusaha jadi yang
terbaik, aku tetap yang terburuk. Aku selalu berterus terang, tak seperti ibu
dan kedua kakakku.”
Kini ditatapnya Salinda. “Para petinggi negara itu, mereka
orang-orang yang bersenang-senang di atas kesulitan banyak orang. Begitupun
mereka yang kehilangan banyak harta karena diretas seorang pemuda IT rekan
kami. Sangat pantas untuk dihapuskan. Sangat, sangat berbeda dengan ayahmu yang
jujur dan tulus.”
Pandangan Bara terlihat datar. Tapi seperti ada ketegaran di
sana, yang berkata pada Salinda untuk tetap teguh.
Semua itu membuat pikiran Salinda kosong.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. Salinda yang
terkejut langsung menjerit kesakitan dalam sesak. Bara belari pergi ke arah
tangga, dan menuruninya. Setelah beberapa saat, terdengar sayup-sayup
kebisingan para polisi, kedua kakak dan ayahnya. Mereka mendekati Salinda saat
kesadaran wanita itu telah hilang.
***
Ketiga teroris berhasil kabur
membawa uang berjumlah satu miliyar. Uang tersebut adalah hasil pemerasan yang
diminta kepada Tuan Jumanta Susanto untuk membebaskan putri ketiganya yang
bernama Salinda Naureluna. Polisi sudah membekuk tempat kejadian penukaran
sandra dengan sejumlah uang yang diminta, namun kedatangan SATPOL PP dari
daerah Bandung ternyata terlalu lambat untuk kecerdikan para teroris.
Para warga setempat mengaku melihat mereka keluar dari
gedung lain. Ternyata sebuah mobil yang terparkir di sana merupakan milik
ketiga teroris. Mereka segera memacu mobil pergi dari tempat kejadian.
Sebelumnya, terdengar dua kali pengeboman.
Mereka sebetulnya telah membobol jalan dari studio foto.
Jalan tersebut tak diketahui karena tertutup layar latar di dinding. Di bom
pertama, sebetulnya ada dua bom: satunya membuat jalan untuk turun dari ruang
gudang yang sebelumnya menjadi tempat Bara Adipramestya bersembunyi, satunya
lagi untuk mengalihkan pendengaran dan getaran yang ada. Mereka turun dan
menuju gedung sebelah yang terhubung melalui jebolan di studio. Para pemilik
ruko dibereskan dan mereka mempersiapkan untuk membuat jebolan selanjutnya
untuk ke gedung sebelah lagi.
Giliran Kunta Pangestik yang ke sana dan keluar lewat pintu
belakang gedung. Ia tak dicurigai karena keluar dari gedung yang berbeda
sendirian. Kunta kemudian membereskan seminimal mungkin orang di gedung ketiga,
kemudian kembali untuk membantu rekan-rekannya. Suara bom selanjutnya adalah
bom di gedung kedua untuk menuju gedung ketiga. Segera Kunta Pangestik dan
Nudira Ferdianto melompat ke jendela yang telah diikatkan seutas tali. Mereka
menjebol atap lantai dua yang genting-gentingnya telah tersingkir, hanya
tinggal menghantam plafon dan kabur. Bara berlari menuruni tangga secepatnya.
Mereka langsung ke gedung ketiga dan membereskan saksi mata. Segera dinaiki
mobil dan memacunya pergi.
Banyak korban jiwa selama kejadian. Para polisi sebagian
besar mengalami luka berat, sedikitnya mengalami luka ringan. Semuanya harus
dirawat intensif di rumah sakit.
Beberapa minggu setelahnya, terjadi kejadian penembakan di
istana negara. Sebagian besar pejabat tinggi tewas tertembak, sementara
presiden dan wakil presiden baik-baik saja. Penembak tidak pernah diketahui.
Ketiga kriminal dari kasus Jumanta Susanto masih tetap
diburon. Tak pernah ada yang melihat mereka berkeliaran lagi. Tak terdengar
kabar mereka lagi.
Sementara itu, keluarga korban pemerasan harus dinaungi
keresahan. Sebab, Salinda Naureluna harus terbaring koma di rumah sakit. Tidak
ada yang bisa memastikan kapan ia akan terbangun, itupun bila ia akan bangun.
Semua orang menduga-duga sekejam apa yang telah dilakukan
ketiga penjahat itu. Pun Tuan Jumanta yang rasa bencinya tak berujung. Namun
Darwan hanya mengusap bahu ayahnya dengan lembut.
Ia bergumam, “Sudah berakhir, Ayah. Cukuplah kebencianmu untuk pagi ini saja, jangan bawa ke masa mendatang. Karena kita tak tahu, apa yang akan Salinda ceritakan kelak setelah ia terbangun.”
✔
A Painful Morning
~~~~~
Terima kasih sudah membaca A Painful
Morning sampai akhir. ^^
Jangan lupa kritik dan saran.
Kutunggu email dari kalian, ya!
Morning sampai akhir. ^^
Jangan lupa kritik dan saran.
Kutunggu email dari kalian, ya!

0 tanggapan:
Posting Komentar