Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [15] - It's Over



Cerbung

A Painful Morning




Episode 15:

It's Over




Sepi. Gelap. Tapi tidak sunyi benar, masih berderu suara-suara di lantai atas. Tidak pula dingin, tapi terasa pengap. Seolah satu malam seperti beribu-ribu hari bagi lantai tiga gedung tersebut.

Benar. Salinda pun masih tak percaya ia baru tiga jam dan sepertiga malam berada di sini. Waktu dalam ingatannya berkata bahwa ia sudah sangat lama di sini. Membuatnya sedikit bertanya dalam hati, sungguhkah baru tiga jam? Bahkan hari masih pagi.

Ingin rasanya Salinda mencari jam. Salinda ingin mengecek benarkah jalannya waktu sekarang ini. 

Bahkan jam segini belum waktunya orang-orang sangat sibuk. Ini masih pukul 9 pagi.

Pagi. Ini pagi. Mungkin juga, ini pagi terakhirnya. Pagi hari yang menyakitkan.

Tangan Bara meraba perlahan ke samping wajah Salinda. Menelusup di antara rambut, meraih dari telinga hingga ke belakang kepala. Hal itu membuat Salinda merinding terkejut, dan Salinda mulai ketakutan.

Mungkin tangan itu yang digunakannya untuk menahan kepala Salinda.

Sempat mata Salinda melirik kembali pisau di tangan Bara yang lain. Jantungnya berdebar makin cepat. Samar-samar Salinda merintih singkat sebelum mengucapkan permohonannya.

“Ku ... kumohon jawab aku ... sebentar saja.”

Bara menutup mulutnya.

Salinda hanya ingin tahu. Kunta berkata bahwa rencana mereka untuk membunuhnya bukan dirancang seperti ini. Walau itu bisa berarti banyak hal, namun Salinda lebih terpikir bahwa semua ini terjadi karena dirinya yang terbangun, dan kemudian turun dari kamar.

“Karena kau turun,” tuding Bara, berbisik. “Itulah kesalahannya.”

“Aku hanya punya satu malam itu untuk melakukan apa yang harus kulakukan. Kunta mendapat informasi bahwa keluarga kalian punya banyak pelayan hingga tak sempat menghafal mereka semua, karena itu aku berpura-pura menjadi pelayan, dan melihat susunan di rumah Jumanta Susanto dan melakukan penculikan.”

“Mulanya, aku bertujuan menculik Arlisa Pujiyanti, ibumu. Tapi tiba-tiba saat aku akan menaiki tangga, kau keluar dan turun. Sementara itu, kamar Arlisa dan Jumanta tak jauh dari kamarmu. Kalau kau berkeliaran di luar kamarmu, membawanya keluar dari rumah Jumanta yang besar tentulah sulit. Apalagi aku tak tahu kau mau pergi kemana, kalau hanya bertujuan berkeliling, aku sangat beresiko tertangkap basah olehmu.”

“Aku pun berubah pikiran. Setelah memperhatikan kalian dari sore hingga malam, aku menyadari kau sangat mendapat perhatian dari seluruh keluarga. Akan jauh lebih baik kalau kau yang kubawa. Dan aku memutuskan keluar dari tempatku sembunyi dan menghampirimu, lalu membawamu.”

Salinda membuka mulutnya dalam bekap tangan Bara. Ia tak berani menjauhkan tangan Bara. Tak disangkanya, Bara memberinya kesempatan bertanya lagi, tangannya menjauh sedikit dari bibir Salinda.

“Bubuk putih itu adalah racun tikus, dan sirup leci itu sudah tercampur larutan tawas,” jelas Salinda lirih. “Bukankah meracuniku tidak ada dalam rencanamu?”

“Kau masih ingat betul rasanya ternyata,” gumam Bara. “Ya, memang tidak. Aku bisa membekapmu dengan sapu tangan penuh obat bius langsung di tangga itu.”

Salinda kembali diam. Dia terbatuk-batuk keras. Masih ada rasa sesak akibat debar jantungnya. Dan dadanya masih terasa nyeri setiap kali jantungnya berdenyut, memompa aliran darah ke sekujur tubuhnya yang lemah.

“Penawar racun itu akan bekerja selama dua jam, dan selama itu harus beristirahat. Ini baru dua puluh menit dari terakhir kau meminumnya, kalau detak jantungmu tidak teratur maka penawar racunnya bisa jadi akan sia-sia.”

Salinda kembali terbatuk. Baru disadarinya tangan Bara telah menjauh dari wajahnya. Salinda meringis, paru-parunya sakit.

Ada yang salah di sini, bathin Salinda lirih. Ada yang salah, tapi aku tak tahu apa itu. Ada yang seharusnya mustahil di sini.

Salinda menolehkan sedikit kepalanya. “Penawar racun ... dari rak itu ... ada di sana?” Kalimatnya memang berantakan, namun Salinda tahu Bara pasti paham maksudnya.

“Itu milikku, aku yang meramunya.”

Pertanyaan kali ini tertahan. Hal yang benar-benar terlintas di benak Salinda. Kenapa ... kalau itu miliknya ... kenapa masih ada di sana hingga Salinda sempat meminumnya?

Bara sendiri tak segan untuk menjawabnya. “Semua orang sangat cepat menilai orang lain. Kalau kau ingin mengerti, jangan lakukan itu.”

Salinda yang terkapar kini memberanikan diri memandang Bara. Bara tampak tetap memandangnya seperti itu, namun entah mengapa seperti ada hal lain di mata Bara sekarang. Salinda berusaha mengerti hal itu, ia tetap memandang lekat-lekat.

“Semua orang bisa berubah,” tanggap Salinda.

“Aku tidak pernah berubah,” Bara meralat, nada suaranya tak terdengar dingin dan keras. Ia menjeda sesaat sebelum berkata lagi, “Kupikir kau tak akan pernah tahu.”

Salinda menjawab, “Kakakku berkata, kalau kita kadang bisa tahu sejatinya seseorang saat ....” Salinda menahan kalimatnya sejenak. “Kita memandang matanya.”

“Tak pernah ada yang berani berlama-lama memandangku,” imbuh Bara pelan.

“Nudira mengenal Darwan.”

Salinda tersentak. Debarannya semakin sakit. Tak siap dan tak menduga perkataan Bara barusan.

“Mereka sekelas di SMP, sampai SMA. Tapi Nudira dikeluarkan saat kelas sepuluh. Cerdas, tapi harus kabur dari kejaran polisi karena menjadi buronan muda.”

“Kunta kemudian bertemu dengan kami. Ia telah tahu tentang Nudira dan aku, juga sedikit tentang latar belakang kami. Kami mengajaknya bergabung dan menuturkan rencana terorisme ini. Dimulai dengan mencari dana.”

Tentu saja. Salinda masih ingat, dari perkataan Nudira. Mereka ingin membunuh para petinggi negara.

Bara kembali mendekatkan wajah. Hal yang membuat Salinda kembali sadar. Tentang kegelapan. Tentang amis. Tentang denyut jantung. Tentang pisau. Dengan gemetar, Salinda tetap membuka mata, memandang langsung pandangan Bara yang kini perlahan menjauh.

Sekarang, keringat dingin menetes. Tidak, aku tidak siap. Aku tak berani. Aku takut.

Tanpa Salinda sadar, Bara bangkit berdiri. Salinda memandang dengan besarnya rasa bingung. Mata pisau kembali masuk ke dalam lipatan, bahkan ke dalam saku.

Salinda tak percaya. “K ... kenapa?”

“Mengerti saja.”

Salinda membisu. Perlahan, mengingat perkataan Bara sebelumnya, ia mengerti. Namun tak percaya, sangat. “Kenapa? Aku anak tersayang. Bukankah itu yang membuatmu amat membenciku?”

Salinda mencoba bangkit. Namun tidak, ia tak mampu. Ia ingin menegur, namun Bara tak sedikit pun berbalik.

“Mimpi burukku ... akhir-akhir ini ...,” suara Salinda bergetar, tak kuasa. “Tentangmu. Kau akan meninggalkanku, tapi karena itu semua orang akan dendam padamu. Siapa yang baik ... dan siapa yang buruk menjadi berbalik.”

Bara diam sejenak. Kepalanya nampak menoleh, tapi tetap tak ingin menampakan wajahnya. Hening tetap menemani untuk beberapa detik hingga Bara kembali memandang ke depan.

“Nudira mengenal ayahku, dia memberitahuku beberapa tahun setelah aku kehilangan keluarga,” terangnya. “Ayahku seorang koruptor. Ia menganggap aku tak bisa dipercaya. Sebanyak apapun aku berusaha jadi yang terbaik, aku tetap yang terburuk. Aku selalu berterus terang, tak seperti ibu dan kedua kakakku.”

Kini ditatapnya Salinda. “Para petinggi negara itu, mereka orang-orang yang bersenang-senang di atas kesulitan banyak orang. Begitupun mereka yang kehilangan banyak harta karena diretas seorang pemuda IT rekan kami. Sangat pantas untuk dihapuskan. Sangat, sangat berbeda dengan ayahmu yang jujur dan tulus.”

Pandangan Bara terlihat datar. Tapi seperti ada ketegaran di sana, yang berkata pada Salinda untuk tetap teguh.

Semua itu membuat pikiran Salinda kosong.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. Salinda yang terkejut langsung menjerit kesakitan dalam sesak. Bara belari pergi ke arah tangga, dan menuruninya. Setelah beberapa saat, terdengar sayup-sayup kebisingan para polisi, kedua kakak dan ayahnya. Mereka mendekati Salinda saat kesadaran wanita itu telah hilang. 

***

Ketiga teroris berhasil kabur membawa uang berjumlah satu miliyar. Uang tersebut adalah hasil pemerasan yang diminta kepada Tuan Jumanta Susanto untuk membebaskan putri ketiganya yang bernama Salinda Naureluna. Polisi sudah membekuk tempat kejadian penukaran sandra dengan sejumlah uang yang diminta, namun kedatangan SATPOL PP dari daerah Bandung ternyata terlalu lambat untuk kecerdikan para teroris.

Para warga setempat mengaku melihat mereka keluar dari gedung lain. Ternyata sebuah mobil yang terparkir di sana merupakan milik ketiga teroris. Mereka segera memacu mobil pergi dari tempat kejadian. Sebelumnya, terdengar dua kali pengeboman.

Mereka sebetulnya telah membobol jalan dari studio foto. Jalan tersebut tak diketahui karena tertutup layar latar di dinding. Di bom pertama, sebetulnya ada dua bom: satunya membuat jalan untuk turun dari ruang gudang yang sebelumnya menjadi tempat Bara Adipramestya bersembunyi, satunya lagi untuk mengalihkan pendengaran dan getaran yang ada. Mereka turun dan menuju gedung sebelah yang terhubung melalui jebolan di studio. Para pemilik ruko dibereskan dan mereka mempersiapkan untuk membuat jebolan selanjutnya untuk ke gedung sebelah lagi.

Giliran Kunta Pangestik yang ke sana dan keluar lewat pintu belakang gedung. Ia tak dicurigai karena keluar dari gedung yang berbeda sendirian. Kunta kemudian membereskan seminimal mungkin orang di gedung ketiga, kemudian kembali untuk membantu rekan-rekannya. Suara bom selanjutnya adalah bom di gedung kedua untuk menuju gedung ketiga. Segera Kunta Pangestik dan Nudira Ferdianto melompat ke jendela yang telah diikatkan seutas tali. Mereka menjebol atap lantai dua yang genting-gentingnya telah tersingkir, hanya tinggal menghantam plafon dan kabur. Bara berlari menuruni tangga secepatnya. Mereka langsung ke gedung ketiga dan membereskan saksi mata. Segera dinaiki mobil dan memacunya pergi.

Banyak korban jiwa selama kejadian. Para polisi sebagian besar mengalami luka berat, sedikitnya mengalami luka ringan. Semuanya harus dirawat intensif di rumah sakit.

Beberapa minggu setelahnya, terjadi kejadian penembakan di istana negara. Sebagian besar pejabat tinggi tewas tertembak, sementara presiden dan wakil presiden baik-baik saja. Penembak tidak pernah diketahui.

Ketiga kriminal dari kasus Jumanta Susanto masih tetap diburon. Tak pernah ada yang melihat mereka berkeliaran lagi. Tak terdengar kabar mereka lagi.

Sementara itu, keluarga korban pemerasan harus dinaungi keresahan. Sebab, Salinda Naureluna harus terbaring koma di rumah sakit. Tidak ada yang bisa memastikan kapan ia akan terbangun, itupun bila ia akan bangun.

Semua orang menduga-duga sekejam apa yang telah dilakukan ketiga penjahat itu. Pun Tuan Jumanta yang rasa bencinya tak berujung. Namun Darwan hanya mengusap bahu ayahnya dengan lembut.
 
Ia bergumam, “Sudah berakhir, Ayah. Cukuplah kebencianmu untuk pagi ini saja, jangan bawa ke masa mendatang. Karena kita tak tahu, apa yang akan Salinda ceritakan kelak setelah ia terbangun.”







  ✔  

 

A Painful Morning

 

 ~~~~~ 

Terima kasih sudah membaca A Painful 
Morning sampai akhir. ^^

Jangan lupa kritik dan saran.
Kutunggu email dari kalian, ya!


0 tanggapan:

Posting Komentar