Cerbung
A Painful Morning
Episode 13:
Before the Goodbye
Ruangan kini tersamarkan. Hanya nampak debu-debu dan kabut. Udara kini menyesakkan paru-paru untuk beberapa saat. Darwan terbatuk, ditutupinya mulut sebentar kemudian kembali dengan tangannya yang lain, menjaga Salinda erat-erat.
Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya pusing. Darwan meraih
pelipisnya dan menyadari noda merah membekas ke jarinya.
“Tadinya kupikir mereka sadar kalau kami sedang berlindung
di sini, tapi kelihatannya tidak,” keluh Darwan.
Tentu tak semua polisi turun ke bawah. Darwan yakin, pasti
ada beberapa yang masih tiarap dengan siaga di lantai empat, namun Darwan tak
tahu apakah mereka masih baik-baik saja. Debu masih terlalu tebal.
Darwan sendiri terpaksa harus merapat ke tembok. Ia berbalik
menghadap ke dinding, menjaga Salinda dari apapun yang kiranya akan terlontar
akibat ledakan.
Telinga Darwan masih menangkap suara erang kesakitan
beberapa pria dewasa. Itu pasti para polisi, mereka sepertinya terluka karena
percikan ledakan tadi. Namun, Darwan menyadari ia juga mendengar isak tangis,
dan ia mendapati Salinda menangis.
“Salinda ....” Darwan mendekapnya lebih erat. “Tidak
apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Kakak ada di sini, menjaga kamu.”
Tapi isak tangis Salinda justru semakin nyata.
Darwan membelai rambut Salinda yang pendek tak beraturan.
“Pasti mereka telah menakut-nakutimu. Mereka sudah menyakitimu, ya? Salinda,
tenang saja, sudah ada Kakak di sini sekarang. Kita akan pulang ke rumah,
Salinda.”
“Kak ... Darwan ...,” lirih Salinda, suaranya parau karena
ditengah isak tangis. “Kak, maafkan Salinda.”
Darwan mendengus. “Tak ada kesalahan yang telah kamu buat,
ini bukan salahmu, Salinda. Ssstt ... sudahlah.”
Kali ini, terdengar sedikit tawa kecil. “Kak, aku mulai
bersyukur. Kalau Salinda tidak bersikap sombong dan egois, yang akan diculik
mungkin saja bukan Salinda.”
“Kamu ini bicara apa? Salinda bukan perempuan yang sombong
atau egois,” hibur Darwan.
Salinda diam sejenak. Isak tangisnya pun mereda. Walau
Darwan tahu, Salinda masih meneteskan air mata.
“Salinda masih ingat,” tutur Salinda, masih dengan suara
parau. “Dulu, Salinda sering mencuri kertas-kertas tulis Kakak. Salinda
sebetulnya tahu kalau itu kertas rancangan rencana, atau jadwal, atau yang
lainnya yang sangat penting. Tapi dengan jahatnya Salinda buang itu semua
setelah dengan jelas melihat Kak Darwan mencari-cari dengan khawatir.”
“Salinda juga pernah melakukan hal yang sama untuk Kak
Ferdo. Apalagi Melia, Salinda merebut banyak hal dari Melia sewaktu dulu. Apa
Kak Darwan masih ingat juga? Dulu Melia sampai pernah mengatakan kalau Ayah dan
Ibu sangat tidak adil, selalu Salinda yang dibela.”
“Salinda juga ingat apa yang selalu Salinda bilang untuk
membela diri kalau Salinda ketahuan jahat. Salinda juga pernah bilang ke Kak
Darwan, bukan? Salinda bilang, ‘Kak Darwan harus melatih ingatan Kakak saja!
Buat apa rencana-rencana segala? Yang penting adalah otak Kakak saja! Makanya
dilatih!’ Itu perkataan yang menyakitkan. Salinda jadi sering merasa bodoh
sendiri karena bertingkah sok, di depan Kak Darwan yang jelas-jelas jauh lebih
hebat dari Salinda.”
“Salinda sebetulnya sungguh tidak berguna, yah, Kak Darwan.
Piagam Salinda hanya beberapa, masih jauh sekali dibanding Kak Darwan dan Kak
Ferdo yang serba bisa. Salinda memang adik yang memalukan, ya, Kak?”
“Tapi ... ke ... kenapa, ya ... Kak ....” Suara Salinda
kembali sangat parau. “Kenapa ... Ayah selalu saja ... membela Salinda? Pa ...
padahal ... Ayah ... Kak Darwan ... Kak Ferdo ... kalian semua pasti sudah tahu
... kalau ... Salinda ... hanya ... sok dewasa.”
“Kenapa ... Salinda harus ... jadi anak yang ... paling
disayang oleh Ayah? Pa ... padahal, Kak Darwan ... Salinda bukan anak baik.
Salinda sok baik ... buat bisa jadi jahat pada kalian semua. Jahat di belakang
itu ... lebih kejam ... daripada jahat di depan.”
Salinda kian terisak. Kedua tangannya meremas pakaian Darwan
yang telah basah oleh air matanya.
Darwan tertawa kecil. “Kalau begitu, Salinda bisa lihat
sendiri, bukan? Tidak ada yang menganggap Salinda jahat.”
Salinda sedikit mendongak. Wajah Darwan yang ada di samping
telingannya tak bisa dilihatnya, tapi Salinda bisa merasakan senyuman lembut di
wajah itu.
“Apa tadi Salinda bilang kalau Salinda memalukan? Tapi
penghargaan yang Salinda punya di ruang keluarga ada banyak. Kak Darwan bahkan
bangga. Kenapa Salinda bisa punya penghargaan sebanyak itu, ya?”
Salinda membalas, “Kak, Salinda masih ... ingin seperti Kak
Darwan, dan Kak Ferdo.”
“Baguslah. Karena sejak dulu, Kakak bisa terus termotivasi
karena kamu, Salinda,” ujar Darwan. “Kakak selalu berpikir, kamu hanya iseng,
walaupun keterlaluan. Tapi kata-katamu yang menusuk itu, itu yang memberi Kakak
dorongan untuk maju. Dan juga, Salinda ... keisenganmu mencuri kertas-kertas
penting Kakak itulah yang membuat Kakak terbiasa melakukan semuanya langsung di
pikiran, bahkan saking terbiasanya Kakak tak pernah melupakan detil-detilnya.
Itu sangat jarang bisa dilakukan orang-orang, lho.”
Salinda tertegun mendengarnya. Namun kemudian diangkatnya
suara, “Tapi ....”
“Kita tahu Salinda pasti berubah,” potong Darwan, seolah
tahu apa yang akan Salinda katakan. “Salinda hanya belum paham soal kebaikan
yang sebetulnya, kalau nanti Salinda sudah mengerti, Salinda pasti jadi anak
yang baik. Bahkan coba lihat! Melia, terlalu modis. Kak Ferdo, terlalu banyak main
game. Kak Darwan, Salinda ingat,
bukan? Kak Darwan sering terlalu sibuk bekerja dan belajar, hingga kadang
terlalu serius dan terlalu dingin, malah katanya bos yang seram. Hanya Salinda sendiri di dalam keluarga yang sangat
ramah, hangat, lembut dan penuh kasih sayang.”
Darwan kembali membelai lembut. “Sejak dulu, Ayah selalu
yakin, suatu hari Salinda akan jadi anak baik,” bisiknya.
Salinda tak bisa mengatakan apapun. Sungguhkah Ayah berpikir begitu? Salinda menenggelamkan kembali
wajahnya ke pelukan Darwan. Kembali menangis, tangisan lega.
Darwan menjauhkan badannya sedikit. Kedua tangannya meraih
pipi Salinda yang sedikit merah karena menangis. Diusapnya bekas air mata di
sana.
“Lebih baik masa depan yang cerah, dan masa lalu yang buram,
daripada kebalikannya,” ujar Darwan, menghibur adiknya.
Salinda tersenyum memandang Darwan. Tapi senyumannya tak
lama, ia kembali merenung memandang ke bawah. Salinda terdiam membisu.
Bukh! Suara
hantaman sesuatu menyadarkan mereka.
Kabut debu telah pudar. Nampak Kunta yang terseret mundur
dengan posisi berdiri. Tak jauh dari Darwan dan Salinda, Ferdo berdiri tegap
dengan kuda-kuda siap.
“Mau coba ambil adikku lagi?” tandas Ferdo. “Coba lewati
pemegang medali emas kejuaraan bela diri nasional ini dulu!”
Entah ada dimana anggota teroris yang lain. Pintu tadi sudah reot dan lepas dari engselnya. Sekilas, ruangan yang sesak oleh tumpukan kardus itu nampak tak ada orang. Mungkin Kunta hanya sedang dalam rencana, entah rencana seperti apa.
Next episode
Last Hour
~~~~~
Jangan pada ketawa kalian.
Aku emang gak pinter bikin konflik
bathin, jadi aku maksain hal gak penting
yang bagaimanapun juga gak ada
hubungannya sama cerita.
Aku emang gak pinter bikin konflik
bathin, jadi aku maksain hal gak penting
yang bagaimanapun juga gak ada
hubungannya sama cerita.
-_-V

0 tanggapan:
Posting Komentar