Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [13] - Before the Goodbye



Cerbung

A Painful Morning




Episode 13:

Before the Goodbye




Ruangan kini tersamarkan. Hanya nampak debu-debu dan kabut. Udara kini menyesakkan paru-paru untuk beberapa saat. Darwan terbatuk, ditutupinya mulut sebentar kemudian kembali dengan tangannya yang lain, menjaga Salinda erat-erat.

Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya pusing. Darwan meraih pelipisnya dan menyadari noda merah membekas ke jarinya.

Ledakkan. Seorang polisi yang sempat melihat Nudira melempar sebuah benda kecil asing terdengar berteriak panik tadi. Kemudian semuanya berlari menuruni tangga. Namun Darwan terhimpit, ia tak bisa ikut berlari turun.

“Tadinya kupikir mereka sadar kalau kami sedang berlindung di sini, tapi kelihatannya tidak,” keluh Darwan.

Tentu tak semua polisi turun ke bawah. Darwan yakin, pasti ada beberapa yang masih tiarap dengan siaga di lantai empat, namun Darwan tak tahu apakah mereka masih baik-baik saja. Debu masih terlalu tebal.

Darwan sendiri terpaksa harus merapat ke tembok. Ia berbalik menghadap ke dinding, menjaga Salinda dari apapun yang kiranya akan terlontar akibat ledakan.

Telinga Darwan masih menangkap suara erang kesakitan beberapa pria dewasa. Itu pasti para polisi, mereka sepertinya terluka karena percikan ledakan tadi. Namun, Darwan menyadari ia juga mendengar isak tangis, dan ia mendapati Salinda menangis.

“Salinda ....” Darwan mendekapnya lebih erat. “Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Kakak ada di sini, menjaga kamu.”

Tapi isak tangis Salinda justru semakin nyata.

Darwan membelai rambut Salinda yang pendek tak beraturan. “Pasti mereka telah menakut-nakutimu. Mereka sudah menyakitimu, ya? Salinda, tenang saja, sudah ada Kakak di sini sekarang. Kita akan pulang ke rumah, Salinda.”

“Kak ... Darwan ...,” lirih Salinda, suaranya parau karena ditengah isak tangis. “Kak, maafkan Salinda.”

Darwan mendengus. “Tak ada kesalahan yang telah kamu buat, ini bukan salahmu, Salinda. Ssstt ... sudahlah.”

Kali ini, terdengar sedikit tawa kecil. “Kak, aku mulai bersyukur. Kalau Salinda tidak bersikap sombong dan egois, yang akan diculik mungkin saja bukan Salinda.”

“Kamu ini bicara apa? Salinda bukan perempuan yang sombong atau egois,” hibur Darwan.

Salinda diam sejenak. Isak tangisnya pun mereda. Walau Darwan tahu, Salinda masih meneteskan air mata.

“Salinda masih ingat,” tutur Salinda, masih dengan suara parau. “Dulu, Salinda sering mencuri kertas-kertas tulis Kakak. Salinda sebetulnya tahu kalau itu kertas rancangan rencana, atau jadwal, atau yang lainnya yang sangat penting. Tapi dengan jahatnya Salinda buang itu semua setelah dengan jelas melihat Kak Darwan mencari-cari dengan khawatir.”

“Salinda juga pernah melakukan hal yang sama untuk Kak Ferdo. Apalagi Melia, Salinda merebut banyak hal dari Melia sewaktu dulu. Apa Kak Darwan masih ingat juga? Dulu Melia sampai pernah mengatakan kalau Ayah dan Ibu sangat tidak adil, selalu Salinda yang dibela.”

“Salinda juga ingat apa yang selalu Salinda bilang untuk membela diri kalau Salinda ketahuan jahat. Salinda juga pernah bilang ke Kak Darwan, bukan? Salinda bilang, ‘Kak Darwan harus melatih ingatan Kakak saja! Buat apa rencana-rencana segala? Yang penting adalah otak Kakak saja! Makanya dilatih!’ Itu perkataan yang menyakitkan. Salinda jadi sering merasa bodoh sendiri karena bertingkah sok, di depan Kak Darwan yang jelas-jelas jauh lebih hebat dari Salinda.”

“Salinda sebetulnya sungguh tidak berguna, yah, Kak Darwan. Piagam Salinda hanya beberapa, masih jauh sekali dibanding Kak Darwan dan Kak Ferdo yang serba bisa. Salinda memang adik yang memalukan, ya, Kak?”

“Tapi ... ke ... kenapa, ya ... Kak ....” Suara Salinda kembali sangat parau. “Kenapa ... Ayah selalu saja ... membela Salinda? Pa ... padahal ... Ayah ... Kak Darwan ... Kak Ferdo ... kalian semua pasti sudah tahu ... kalau ... Salinda ... hanya ... sok dewasa.”

“Kenapa ... Salinda harus ... jadi anak yang ... paling disayang oleh Ayah? Pa ... padahal, Kak Darwan ... Salinda bukan anak baik. Salinda sok baik ... buat bisa jadi jahat pada kalian semua. Jahat di belakang itu ... lebih kejam ... daripada jahat di depan.”

Salinda kian terisak. Kedua tangannya meremas pakaian Darwan yang telah basah oleh air matanya.

Darwan tertawa kecil. “Kalau begitu, Salinda bisa lihat sendiri, bukan? Tidak ada yang menganggap Salinda jahat.”

Salinda sedikit mendongak. Wajah Darwan yang ada di samping telingannya tak bisa dilihatnya, tapi Salinda bisa merasakan senyuman lembut di wajah itu.

“Apa tadi Salinda bilang kalau Salinda memalukan? Tapi penghargaan yang Salinda punya di ruang keluarga ada banyak. Kak Darwan bahkan bangga. Kenapa Salinda bisa punya penghargaan sebanyak itu, ya?”

Salinda membalas, “Kak, Salinda masih ... ingin seperti Kak Darwan, dan Kak Ferdo.”

“Baguslah. Karena sejak dulu, Kakak bisa terus termotivasi karena kamu, Salinda,” ujar Darwan. “Kakak selalu berpikir, kamu hanya iseng, walaupun keterlaluan. Tapi kata-katamu yang menusuk itu, itu yang memberi Kakak dorongan untuk maju. Dan juga, Salinda ... keisenganmu mencuri kertas-kertas penting Kakak itulah yang membuat Kakak terbiasa melakukan semuanya langsung di pikiran, bahkan saking terbiasanya Kakak tak pernah melupakan detil-detilnya. Itu sangat jarang bisa dilakukan orang-orang, lho.”

Salinda tertegun mendengarnya. Namun kemudian diangkatnya suara, “Tapi ....”

“Kita tahu Salinda pasti berubah,” potong Darwan, seolah tahu apa yang akan Salinda katakan. “Salinda hanya belum paham soal kebaikan yang sebetulnya, kalau nanti Salinda sudah mengerti, Salinda pasti jadi anak yang baik. Bahkan coba lihat! Melia, terlalu modis. Kak Ferdo, terlalu banyak main game. Kak Darwan, Salinda ingat, bukan? Kak Darwan sering terlalu sibuk bekerja dan belajar, hingga kadang terlalu serius dan terlalu dingin, malah katanya bos yang seram. Hanya Salinda sendiri di dalam keluarga yang sangat ramah, hangat, lembut dan penuh kasih sayang.”

Darwan kembali membelai lembut. “Sejak dulu, Ayah selalu yakin, suatu hari Salinda akan jadi anak baik,” bisiknya.

Salinda tak bisa mengatakan apapun. Sungguhkah Ayah berpikir begitu? Salinda menenggelamkan kembali wajahnya ke pelukan Darwan. Kembali menangis, tangisan lega.

Darwan menjauhkan badannya sedikit. Kedua tangannya meraih pipi Salinda yang sedikit merah karena menangis. Diusapnya bekas air mata di sana.

“Lebih baik masa depan yang cerah, dan masa lalu yang buram, daripada kebalikannya,” ujar Darwan, menghibur adiknya.

Salinda tersenyum memandang Darwan. Tapi senyumannya tak lama, ia kembali merenung memandang ke bawah. Salinda terdiam membisu.

Bukh! Suara hantaman sesuatu menyadarkan mereka.

Kabut debu telah pudar. Nampak Kunta yang terseret mundur dengan posisi berdiri. Tak jauh dari Darwan dan Salinda, Ferdo berdiri tegap dengan kuda-kuda siap. 

“Mau coba ambil adikku lagi?” tandas Ferdo. “Coba lewati pemegang medali emas kejuaraan bela diri nasional ini dulu!” 


Entah ada dimana anggota teroris yang lain. Pintu tadi sudah reot dan lepas dari engselnya. Sekilas, ruangan yang sesak oleh tumpukan kardus itu nampak tak ada orang. Mungkin Kunta hanya sedang dalam rencana, entah rencana seperti apa.







  Next episode  

Last Hour

 
 ~~~~~ 

Jangan pada ketawa kalian.

Aku emang gak pinter bikin konflik
bathin, jadi aku maksain hal gak penting
yang bagaimanapun juga gak ada
hubungannya sama cerita.
 
-_-V
 

0 tanggapan:

Posting Komentar