Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [12] - The On-Timing Man



Cerbung

A Painful Morning




Episode 12:

The On-Timing Man




Orang-orang di sekitar sangat kebingungan. Mereka tak tahu apapun. Lalu tiba-tiba segerombolan polisi datang dan menyuruh mereka menjauh, jauh sekali dari sebuah ruko yang hari itu nampak tak buka.

“Bukankah pemiliknya hanya sedang pergi?”

“Mungkin keluarga itu sebetulnya kriminal!”

“Tidak! Mustahil! Mereka sangat baik! Aku kenal keluarga itu sejak dulu masih bujangan!”

“Sepertinya ini sangat genting. Lihat seberapa banyak pria berseragam hitam itu! Dan coba lihat senjata-senjata yang mereka bawa itu!”

“Benar. Kurasa ini lebih dari apa yang kita pikirkan. Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman. Ayo!”

Pak Jumanta keluar dari mobilnya. Ia mengecek arloji di tangannya seraya menutup pintu mobil. Salah satu tangannya menggenggam koper hitam, 1 miliyar rupiah ada di dalamnya. Dengan gundah, mata keriput Pak Jumanta Susanto memperhatikan gedung tinggi di hadapan.

Darwan dan Ferdo keluar hampir bersamaan. Sepasang polisi di belakang mobil telah lebih dulu keluar dari mereka dan berkumpul di depan bersama ketua kepolisian.

Darwan menoleh pada adiknya, “Inikah rukonya, Ferdo?”

Ferdo mengambil langkah maju. Ia tak berkata, hanya mengangguk dengan wajah tetap memandang gedung tersebut, seolah mencari tanda-tanda keberadaan adik perempuan mereka.

Gedung tersebut bertingkat. Posisinya berada di paling ujung dari barisan ruko-ruko. Pembangunan kompleksnya tak seluruhnya merapat antar gedung rukobangunan bagian lantai satu dan dua merapat dengan gedung sebelahnya tetapi dari lantai tiga sampai lantai lima bangunan menjadi lebih kecil lebarnya sehingga tak menempel dengan gedung sebelahnya. Atapnya berupa lantai teratas yang bisa digunakan pemilik ruko untuk keperluan lain.

Gedung ruko itu berwana hijau. Di bagian depan terpampang tulisan bercorak lucu yang berbunyi, “Foto Nana Family”. Ruko perfotoan.

Memang sekilas seperti terlihat sedang tutup. Seluruh bagian depan tertutup rapat oleh beberapa pasang pintu harmonika berwarna biru kehijauan. Tak ada bekas apapun di halaman parkir di depan ruko tersebut. Seolah memang tak sedang terjadi apapun.

Beberapa polisi mendekati pintu itu dengan siaga. Seorang polisi mencoba menarik pintu. Tidak bisa.

“Pintu terkunci, Pak!” lapornya tegas pada kepala kepolisian.

“Rusak dindingnya! Cepat!”

Bawahannya tersebut membalas singkat. Beberapa polisi di dekat pintu mulai mencoba merusak sisi dinding pintu tersebut dengan menghantamkan ujung senapan ke besi pintu. Dibantu rekan-rekannya, seng yang menjadi dinding pintu pun penyok. Cukup mudah untuk “merobek” seng tersebut. Tulang besi dari pintu pun menghadang, dan kembali dihantam hingga dapat dicabut dari tempatnya, terpisah dari tulang-tulang pintu yang lainnya. Dengan terputusnya dinding dan tulang pintu itu, pintu harmonika pun dapat digeser ke tepian.

Betapa kaget. Ternyata pintu kaca ruko tersebut telah pecah, tak ada lagi pintu kaca di sana, hanya sedikit pecahan kaca di engsel pintu. Sementara, pintu harmonika memang dikunci kembali, dari dalam.

“Cepat masuk ...!” Bapak kepala kepolisian menepuk pelan bahu Tuan Jumanta. “Dahulukan Bapak Jumanta Susanto!”

Tuan Jumanta setengah berlari memasuki bangunan tersebut. Darwan dan Ferdo menyusul, diikuti polisi-polisi lain di belakang mereka.

Ferdo bergumam, “Ya ampun. Mereka melakukannya dengan sangat rapi.”

Darwan melirik. Lalu menambahkan, “Penjahat bintang enam.”

Lampu toko tak menyala. Namun tak terasa terlalu gelap karena cahaya matahari masih dapat masuk melalui pintu harmonika yang telah terbuka. Beberapa polisi yang berada di paling depan memastikan keamanan ruangan. Mereka menuju tangga, Pak Jumanta dapat melihat cahaya dari atas. Lampu di lantai dua menyala terang.

Di lantai dua, terdapat ruang foto dan ruangan merah. Beberapa polisi di depan meminta Pak Jumanta berhenti di tangga, mereka akan memeriksa ruangan-ruangan yang ada. Mereka memasuki ruangan merah dan mengecek ke dalam, tak ada siapapun. Lalu mereka keluar dan beralih ke ruang foto. Hanya terdapat layar background dengan beberapa lampu kejut. Tak ada siapapun.

Mereka melanjutkan ke lantai tiga. Mulai dari lantai ini, digunakan untuk keperluan keluarga. Ada beberapa kamar tidur dengan ruang keluarga dan dapur. Di lantai inilah semua anggota keluarga ditemukan, mereka telah tak bernyawa.

Pak Jumanta seolah bisa merasakan atmosfer dalam gedung berubah. Ia bergidik ketakutan. Hal yang sama terjadi pada Darwan dan Ferdo.

Bahkan Ferdo berbisik, “Kak, kita belum terlambat, bukan? Katakan padaku kita belum terlambat. Kita belum terlambat, bukan, Kak?”

“Tenang, Ferdo. Salinda baik-baik saja. Dia baik-baik saja,” balas Darwan, mencoba menenangkan. Sebetulnya sudah jelas sekali, bahwa dia juga khawatir pada keadaan adik perempuannya sekarang ini.

Lebih lagi Tuan Jumanta. Beliau tak henti berkeringat dingin. Berharap tak ada hal buruk yang menimpa putrinya. Tidak ada hal lain lagi yang dipikirkan Tuan Jumanta.

Lantai empat.

Beberapa polisi berhenti sejenak. Mereka mengisyaratkan pada Tuan Jumanta untuk menunggu sebentar di tengah-tengah tangga. Mereka akan naik terlebih dahulu untuk memastikan seberapa aman di lantai selanjutnya.

Tapi tidak. Tuan Jumanta berjalan lebih dulu dan sampai di ujung tangga paling awal. Seolah Tuan Jumanta sudah tahu, kalau di sanalah putrinya tergeletak bersama seorang pria yang berdiri di samping tubuhnya.

Tuan Jumanta tak bisa menahan untuk langsung menjerit. “Salinda!”

Hal itu membuat semua yang ada di tangga sontak terkejut. Beberapa polisi naik menyusul, kali ini cukup banyak. Mereka mengokang senjata ke arah Nudira.

“Kalau kalian menembak ....” Nudira mengeluarkan senjata kecilnya dari pinggang. “Dia akan mati.”
Darwan dan Ferdo yang terakhir menyusul sang ayah. Mereka memandang dengan mata lebar ke arah Salinda yang terkapar lemah dengan Nudira yang tersiap bersama pistolnya, di arahkan ke kepala tawanannya.

Ruangan ternyata cukup luas. Mungkin ini lantai yang menjadi gudang. Lantainya agak kotor. Beberapa bekas kardus tergeletak di beberapa sisi, isinya berhamburan. Ada beberapa pintu menuju beberapa ruangan kecil di pojok sana. Di belakang Salinda dan Nudira, ada beberapa jendela dengan gorden hijau pucat. Semua lampu redup, cahaya dalam ruangan hanyalah sinar matahari dari sela-sela gorden yang kusam oleh debu.

Nudira mengangkat tangannya yang lain. Wajahnya yang menyeringai menatap lurus ke arah Tuan Jumanta yang masih terkejut.

Tangan itu membuat Tuan Jumanta tersinggung. Matanya berubah nyalang. “Bedebah sialan!” umpatnya seraya menutupi koper dibelakang kedua kakinya. “Kalian telah mencoba menghabisi putriku! Lebih baik kubakar semua recehan ini daripada kuserahkan ke tangan busukmu itu!”

Mendengarnya, Nudira membuang muka. Ia berdecak kesal. Perlahan diturunkan tangannya, bersamaan dengan tubuhnya yang sedikit merendah.

“Dia masih bernafas.” Nudira menjambak rambut pendek Salinda. Sengaja ia jumput rambut depannya agar wajah Salinda yang mengerang lemah terlihat jelas.

Salinda membuka matanya perlahan. Tubuhnya belum pulih benar, bahkan untuk berdiri pun tak kuasa.

Deritanya sampai pada Darwan dan Ferdo. Mereka berdua tersentak kaget saat tangan Nudira menarik rambut Salinda. Kondisi Salinda yang terlihat pucat membuat mereka berdebar khawatir. Diam-diam mereka bertanya dalam hati tentang apakah Salinda sungguh bisa mereka bawa pulang dengan selamat.

“Aku hanya meminta rambutnya sedikit,” tambah Nudira seraya menoleh sebentar ke rambut hitam di tangannya.

Dilepaskannya genggaman rambut. Salinda agak kaget, tapi ia berusaha tetap terlihat sadar, tak ingin terkapar. Salinda duduk dengan kedua tangan menyangga tubuhnnya, tangannya masih gemetaran. Nudira tak lupa untuk membidik kepala Salinda kembali.

Tuan Jumanta masih memandang tajam. Tak sedikit pun dirinya berniat memutuar badan, tetap menutupi koper.

Nudira diam sejenak melihatnya. Lalu, Nudira mundur dua langkah. Pistolnya tetap mengarah pada Salinda.

“Tuan Jumanta Susanto,” kata Nudira. “Silahkan saja dekati putrimu, tapi jangan pernah membawanya kembali sebelum Anda berikan uang yang kami minta.”

Para polisi di barisan depan diam-diam melirik Tuan Jumanta. Tuan Jumanta sendiri tak gentar, ia berjalan tegap dan cepat mendekati Salinda. Langkahnya tak ada ragu sedikit pun.

Darwan memandang Ferdo. Ferdo balas memandang sang kakak. Mereka ingin melangkah ke depan barisan polisi, tapi entah mengapa mereka takut untuk bergerak mendekat.

Salinda bisa mendengar langkah kaki itu mendekat. Perlahan ia mengangkat wajah.

Nudira masih berjaga. Matanya tak lepas dari Pak Jumanta yang mulai berlari kecil.

Tuan Jumanta awalnya terlihat marah. Begitu mulai melangkah ia terlihat tegang. Dan kini begitu berjongkok meraih sebelah bahu Salinda, Tuan Jumanta terlihat amat cemas.

“Salinda. Oh ... ya, Tuhan. Apa saja yang telah terjadi padamu?”

“A ... Ayah ....” Suara Salinda terdengar bergetar dan pelan, tampaknya pita suaranya tak mampu. Ia mencoba memandang langsung ke kedua mata Jumanta yang turut sayu menatap dirinya.

Tuan Jumanta beralih kembali pada Nudira. Matanya kembali dipenuhi amarah. Dengan penuh emosi, dibantingnya koper sekuat tenaga ke arah Nudira. Nudira menahan koper itu dengan sebelah kaki. Kopernya terbuka karena kerasnya Tuan Jumanta membanting, beberapa lembar uang seratus ribu rupiah pun melayang keluar.

Nudira melirik kakinya sekilas. Seraya menurunkan pistol, Nudira membereskan uang-uang tersebut dan menutup kopernya kembali.

Seolah keadaan terasa hening sesaat. Hanya bisikan samar Tuan Jumanta yang penuh kekhawatiran yang menghias, beliau membantu Salinda berjalan. Tidak adanya angin yang berhembus membuat waktu dalam ruangan ini seolah berhenti sesaat.

Entah apa firasatnya yang tajam. Tapi saat Tuan Jumanta menoleh pada Darwan di belakang, Darwan merasa seperti itu adalah sebuah kekhawatiran lain yang diberikan sang ayah. Darwan pun menepuk pelan sebelah bahu Ferdo tanpa memandang adik laki-lakinya itu.

Para polisi tersiap dengan senapan mereka. Mereka mengeratkan tangan pada kokang senapan, siap menghabisi Nudira dengan peluru mereka.

Tapi sayang sekali. Mereka terlalu naif.

BRAKK!!

Serentenan peluru terhempas cepat dari senapannya. Peluru dari satu senapan. Peluru-peluru yang menghabisi para polisi di barisan paling depan.

Tuan Jumanta telah mendorong Salinda jatuh. Darwan merunduk cepat, ia merangkul Ferdo.

Beberapa polisi di belakang balas menembak. Namun sedikit dari mereka yang tetap bertahan di tempat. Polisi yang menunggu komando di tangga berlari naik. Semuanya memberikan perlawanan, namun dalam waktu singkat, telah banyak yang tumbang.

Nudira berlari menuju pintu yang terbuka. Ada Bara di balik daun pintu tersebut, menembak dengan sebuah senapan panjang yang digenggamnya dengan kedua tangan. Bara segera menyodorkan Nudira senapan lain. Nudira menerimanya dan langsung menggunakannya.

Sang pimpinan polisi meraih media komunikasi di pinggangnya. Ia mendekatkannya ke sebelah wajah, antara mulut dan telinga. Namun belum sempat memberi pesan, ia dan perangkat komunikasinya telah tertembak, tertembak dari atas.

Di tempatnya, Kunta mengisi kembali amunisinya. Kemudian kembali ia mengokang senjata ke bawah tangga. Tangannya dengan gesit menembak setiap polisi yang berusaha menaiki tangga atau menembakinya dari bawah tangga yang menuju lantai tempatnya berdiri.

Darwan menerima Salinda yang lemah. Ia segera mendekap Salinda dan membawanya ke tangga. Ferdo di tempatnya berinisiatif mengambil senapan polisi yang tergeletak dan menggunakannya untuk turut membantu pekerjaan para polisi di sekitarnya. Tuan Jumanta yang tengah dalam rasa kalutnya meraih pula sebuah pistol polisi dan langsung mengokangnya.

Darwan terhenti di belakang barisan para polisi. Posisinya cukup tertutupi hingga kemungkinan terkena peluru cukup kecil. Ia tak berniat turun, ini sarang teroris, belum tentu Darwan baik-baik saja bila dia turun begitu saja sendirian.

Tapi ....

“Turun semuanya!”
 
DUAR!!







  Next episode  

Before the Goodbye

 

0 tanggapan:

Posting Komentar