Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [11] - Tell Me the Reason!



Cerbung

A Painful Morning




Episode 11:

Tell Me the Reason!




Itu sudah 11 tahun yang lalu. Saat itu sang pemuda masih belia. Sewaktu kecilnya, ia agak berbeda dengan anak-anak seumurannya, ia lebih terlihat lebih terpatri dengan keluarga daripada bermain dengan kawan-kawan sebayanya. 
 
Bara kecil selalu berusaha meminta perhatian kedua orang tuanya. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Namun, berbeda sekali dengan orang tua kebanyakan, kedua orang tuanya lebih memperhatikan kedua kakaknya ketimbang dirinya yang haus perhatian.

Itu sudah sejak dulu. Ayah dan ibunya lebih mengelu-elukan nama kedua kakaknya. Mereka menganggap dua anak pertama mereka lebih pintar dari si sulung, padahal Bara sendiri tak kalah pintarnya.

Bara mencoba menepis pikiran tersbut. Ia pikir mungkin kedua kakaknya memang pintar, dan kedua orang tuanya juga masih memperhatikan perkembangannya. Tapi ....

Suatu hari, ia tak sengaja menyenggol guci di tepi tangga. Kedua orang tuanya langsung mendatanginya dan memarahinya. Bara kecil berkali-kali menjelaskan bahwa ia tak sengaja, namun tetap saja kedua orang tuanya tetap tak terima. Sang ibu bahkan mengambil sapu lidi, ia menghukum anaknya dengan benda itu.

“Kau anak tidak berguna! Kenapa kau begitu bodoh?! Tidak bisakah kau menjadi cerdas seperti kakak-kakakmu?! Berhentilah manja! Tidak usahlah bertingkah yang macam-macam! Kau mengecewakan! Untuk apa kau terlahir ke dunia ini, hah?!”

Berbagai caci-maki yang tak pantas keluar dilampiaskan oleh sepasang pengurus rumah tangga tersebut. Bara tak mampu lagi membalas. Ia juga mulai menyerah untuk membela dirinya, kedua orang tuanya tak akan pernah mempercayainya.

Dalam hatinya, Bara terus bertanya-tanya dengan lirih. Mengapa ia tersingkir dari keluarganya sendiri? Mengapa ia begitu dibenci kedua orang tuanya sendiri? Apa yang pernah ia lakukan sebelumnya hingga ia harus menerima ini semua?

Apa alasannya?

Semalaman ia memikirkannya di kamar. Menangis sendirian. Di malam itu, ia juga menyadari bahwa kedua kakaknya pun tak pernah peduli padanya. Mereka tak pernah membantu Bara atau apapun, mereka seolah menganggap Bara tak pernah ada.

Beberapa hari kemudian, ia melihat seorang lelaki 15 tahunan di suatu lapangan terpencil. Lelaki itu bersama seorang laki-laki lagi. Mereka mengenakan seragam. Bara sembunyi-sembunyi memperhatikan mereka.

Bathin Bara, Apa mereka sedang berkelahi?

Bara tetap memperhatikan. Ia tak menyadari kalau dirinya sangat tertarik dengan perkelahian itu.

Tiba-tiba, salah satu dari laki-laki itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Lawannya sungguh kaget, ia merinding. Dan akhirnya tak bisa dihindarinya serangan terakhir tersebut.

Mata Bara melebar. Ia tak merasa ngeri, justru ia sama sekali tak berkedip melihatnya. Ada sedikit sinar kekaguman dari matanya, namun Bara masih terlalu belia untuk menyadarinya. Bara segera berlari mendekati pemuda di lapangan tersebut.

“Kakak!”

Si pemuda tak langsung berbalik. Ia diam sejenak di tempatnya. Sementara, Bara yang tak bisa membaca sikapnya tersebut tetap lanjut berbicara.

“Aku ingin melakukannya juga!”

Pemuda itu berkacak pinggang. Masih belum berbalik. Ia bertanya singkat, “Apa maksudmu?”

“Yang barusan Kakak lakukan itu! Yang dengan pisau itu! Aku juga ingin pinjam pisau Kakak dan melakukan seperti itu!” jawab Bara polos dan penuh semangat.

Kini si pemuda berbalik. Ternyata ia tersenyum ramah. Ia memandangi wajah anak kecil di depannya yang berwajah serius, tak tersenyum sedikit pun. Dengan wajah itu, ia tahu anak kecil ini tak sedang bergurau.

Namun tetap saja, ia tertawa kecil. Ia merendah dan mencubit pelan pipi Bara. “Kamu ini sangat menggemaskan, ya. Memangnya kamu mau melakukannya pada siapa, sih?”

Bara dengan kesal menepis tangan pemuda itu. “Aku akan melakukannya pada Ayah, Ibu, dan dua kakakku!”

Si pemuda diam sejenak. Wajahnya datar. Ia tetap menatap langsung ke kedua mata anak kecil di depannya.

Dan senyumannya muncul kembali. “Hmm ... tapi kalau seperti itu, nanti kamu tidak punya tempat tinggal lagi.”

Bara kecil tersentak. Ia tak sempat berpikir tentang hal itu. Sekarang ia menunduk. “Tapi ... tapi ... tapi, kak ... aku ...,” sekarang Bara kecil tak tahu harus mengatakan apa. Suaranya mulai parau, ia menahan tangis.

Si pemuda diam sejenak.

“Manis ... cup cup cup ... anak laki-laki tidak boleh menangis! Kamu harus kuat! Kalau kamu menangis, Kakak tidak akan pernah memberikanmu pisau ini.”

Bara kecil dengan polosnya menurut.

“Kamu kelas berapa?”

“Kelas 2.”

“Kamu punya banyak teman di sekolah?”

“Tidak, Kak.”

“Kamu suka main-main keluar rumah? Atau pergi keluar rumah tanpa izin?”

“Tidak pernah, Kak. Biasanya aku bermain sendirian di kamar.”

Si pemuda mulai tersenyum. Ia berkata, “Kalau kamu mau Kakak pinjamkan pisau ini, jawab pertanyaan Kakak yang ini dengan baik, ya.”

Bara memandang penuh rasa penasaran. Ia terus diam, menunggu.

“Kamu, kalau tidak punya Ayah dan Ibu, mau bagaimana?”

Bara kecil mengerjapkan mata beberapa kali. “Aku tidak mengerti, Kak,” jawabnya. “Tapi kalau Ayah dan Ibu tidak ada, aku juga tak akan pernah merindukan mereka. Begitupun kedua kakakku, sebab mereka tak pernah memperhatikan aku.”

“Jawabanmu sudah bagus,” balas pemuda yang disahut senyuman oleh Bara. “Nah, sekarang, siapa namamu?”

“Namaku Bara Adipramestya, Kak.”

“Oh ... jadi, Bara, panggil saja Kakak ....” Ia meletakkan telapak tangan di dada, memperkenalkan diri. “Kak Nudira.”

Bara mengangguk. Dalam hati, ia sangat tak sabar untuk menerima pisau dari pemuda itu.

“Sebelum Kakak berikan,” kata si pemuda lagi. “Kakak mau memperhatikan kamu saat menggunakan pisau Kakak. Jadi, Kakak akan datang ke rumahmu juga, ya.”

Akhirnya, Nudira memberikan pisaunya. Bara kecil menerimanya dengan mata berbinar. Ia menutup kembali mata pisau ke lipatannya. Melihatnya, Nudira tertawa kecil.

“Kau anak yang pintar, Bara.”

Bara mendongak cepat. Ia tertegun sesaat. Itu adalah pertama kalinya ia mendengar seseorang memujinya. Bara pun tersenyum senang. 

***

Sore hari di hari yang sama, sang kakak kedua pulang. Ia memasuki ruang tamu dan mendapati pemandangan mengerikan. Ada samar tercium aroma masakan yang terlalu lama dipanaskan. Ayah dan kakaknya ada di ruang tamu, sementara sang ibu ada di dapur. Semuanya telah tak bernyawa.

Dilihatnya adik kecilnya duduk di pojok ruangan. Ia masih bernafas, duduk dengan gemetar membelakanginya. Langsung saja ia meraih bahu adiknya.

“Bara! Apa-apaan ini?! Kamu biarkan ini terjadi?! Kamu diam saja?! Seharusnya kamu berteriak keras-keras agar para tetangga mendengarmu dan segera datang!! Seharusnya kamu menelpon polisi!! Jangan bilang kalau kamu justru bersembunyi sedirian! Kau bodoh sekali, Bar ...!”

Bara berbalik cepat. Bersamaan dengan itu, ia menghunuskan mata pisau. Sang kakak terjatuh.

Nudira berdiri bersandar pada tepi antara dua dinding. Ia memperhatikan Bara dengan seringai puas di wajahnya.

Bara berwajah kosong, memperhatikan kakaknya. Ia menusuk lagi, beberapa kali. Tubuh sang kakak beberapa kali mengejang.

“Hm? Sadis sekali untuk seorang bocah ingusan,” gumam Nudira enteng, menyindir Bara.

Nudira pikir Bara akan berhenti. Namun ternyata Bara tetap menusuk-tusuk. Ternyata Bara tak mendengarnya.

“Bara, itu sudah cukup.”

Padahal tubuh kakaknya tak lagi bergemetar.

“Dia sudah mati, Bara!”

Bara tetap tak mendengar.

Nudira tak lagi bersandar. Sebetulnya ia berpikir untuk pergi dengan cepat setelah seisi rumah ini sudah dihabisi anak itu, agar tak ada tetangga atau siapapun yang mencurigai kejadian ini. Namun, karena tak ada suara, Nudira tak berpikir untuk terburu-buru seperti itu.

Iya. Mereka semua dihabisi oleh Bara. Anak kecil yang sangat cerdas. Tak ada jeritan keras yang sampai terdengar tetangga terdekat sekalipun, bahkan bisa dikatakan nyaris tak ada jeritan sama sekali.

Akhirnya Bara berhenti. Pakaiannya sangat kotor oleh noda merah. Tangannya sudah pegal. Ia diam membisu dengan sedikit terengah karena adrenalin yang memuncak.

“Baiklah, Bara, kemarilah,” pinta Nudira lembut.

Bara berbalik dan berjalan mendekati laki-laki itu. Nudira pun berjalan beberapa langkah mendekati Bara. Sebelum berbicara, Nudira memperhatikan tatapan mata Bara.

Kosong. Dingin. Benci. Terhina. Seolah semua masa lalu ada di kedua mata hitam tersebut.
Nudira merendah. Ia tersenyum seraya mengadahkan sebelah tangan pada Bara dan berkata, “Mana pisau Kakak?”

Tanpa berkata, Bara memberikan pisau tersebut. Nudira menerimanya, setelah itu ia kembali berdiri tegak. Ia mengadahkan tangannya lagi, memberi isyarat agar Bara memberikan telapak tangannya. Bara tetap menurut.

“Bara,” kata Nudira. “Kamu tahu? Kakak ini sebatang kara, tidak punya ayah, ibu, kakak, adik, ataupun anggota keluarga yang lain. Di rumah, Kakak tinggal sendirian. Kalau Bara berjanji tidak akan nakal, Bara boleh tinggal dengan Kak Nudira.”

Bara diam. Ia sangat tak menyangka Nudira akan menawarkan hal seperti itu. Tapi, dengan cepat setelahnya, Bara mengangguk-angguk semangat dengan wajah yang tak banyak berekspresi. Kemudian, Nudira pun menuntunnya keluar rumah.

Tak pernah ada yang tahu kemana Bara pergi. Sebab, Bara tak pernah keluar rumah. Nudira yang selama ini mengajarkannya semua yang diketahuinya. Seiring berjalannya waktu, Nudira menyadari bahwa Bara semakin tak memiliki emosi. 

***

Sungguh begitukah? Memang ia berkata sendiri bahwa dirinya tak percaya kalau pemuda dingin itu menjadi pembunuh tanpa sebab, tetapi ... Salinda tak menyangka itulah alasannya.

“Anak yang kejam, bukan?” tandas Kunta. “Seolah ia memang sudah terlahir untuk menjadi penjahat keji, seperti dirinya sekarang ini.”

Tidak .... Namun Salinda tak dapat membalas. Ia hanya terdiam, entah kenapa tak bisa mengangkat suaranya.

 “Yah, baiklah. Kurasa sudah hampir tiba waktunya,” dengus Kunta seraya bersiap berdiri.

Tetapi, Kunta tak membawa laptopnya, hanya meletakkannya di atas lantai. Setelah meletakakannya, ia mengecek arloji di pergelangan tangan kirinya.

“Ayahmu sudah di Bandung, dan sepertinya segera kemari. Masih cukup pagi. Dia luar biasa, hm.” Sambil melirik Salinda, pria itu tersenyum kecil.
 
Salinda memutuskan menutup matanya. Dan memalingkan wajahnya. Gelisah.








  Next episode  

The On-Timing Man

 


0 tanggapan:

Posting Komentar