Cerbung
A Painful Morning
Episode 11:
Tell Me the Reason!
Itu sudah 11 tahun yang lalu. Saat itu sang pemuda masih belia. Sewaktu kecilnya, ia agak berbeda dengan anak-anak seumurannya, ia lebih terlihat lebih terpatri dengan keluarga daripada bermain dengan kawan-kawan sebayanya.
Itu sudah sejak dulu. Ayah dan ibunya lebih mengelu-elukan
nama kedua kakaknya. Mereka menganggap dua anak pertama mereka lebih pintar
dari si sulung, padahal Bara sendiri tak kalah pintarnya.
Bara mencoba menepis pikiran tersbut. Ia pikir mungkin kedua
kakaknya memang pintar, dan kedua orang tuanya juga masih memperhatikan
perkembangannya. Tapi ....
Suatu hari, ia tak sengaja menyenggol guci di tepi tangga.
Kedua orang tuanya langsung mendatanginya dan memarahinya. Bara kecil
berkali-kali menjelaskan bahwa ia tak sengaja, namun tetap saja kedua orang
tuanya tetap tak terima. Sang ibu bahkan mengambil sapu lidi, ia menghukum
anaknya dengan benda itu.
“Kau anak tidak berguna! Kenapa kau begitu bodoh?! Tidak
bisakah kau menjadi cerdas seperti kakak-kakakmu?! Berhentilah manja! Tidak
usahlah bertingkah yang macam-macam! Kau mengecewakan! Untuk apa kau terlahir
ke dunia ini, hah?!”
Berbagai caci-maki yang tak pantas keluar dilampiaskan oleh
sepasang pengurus rumah tangga tersebut. Bara tak mampu lagi membalas. Ia juga
mulai menyerah untuk membela dirinya, kedua orang tuanya tak akan pernah
mempercayainya.
Dalam hatinya, Bara terus bertanya-tanya dengan lirih.
Mengapa ia tersingkir dari keluarganya sendiri? Mengapa ia begitu dibenci kedua
orang tuanya sendiri? Apa yang pernah ia lakukan sebelumnya hingga ia harus
menerima ini semua?
Apa alasannya?
Semalaman ia memikirkannya di kamar. Menangis sendirian. Di
malam itu, ia juga menyadari bahwa kedua kakaknya pun tak pernah peduli
padanya. Mereka tak pernah membantu Bara atau apapun, mereka seolah menganggap
Bara tak pernah ada.
Beberapa hari kemudian, ia melihat seorang lelaki 15 tahunan
di suatu lapangan terpencil. Lelaki itu bersama seorang laki-laki lagi. Mereka
mengenakan seragam. Bara sembunyi-sembunyi memperhatikan mereka.
Bathin Bara, Apa
mereka sedang berkelahi?
Bara tetap memperhatikan. Ia tak menyadari kalau dirinya
sangat tertarik dengan perkelahian itu.
Tiba-tiba, salah satu dari laki-laki itu mengeluarkan pisau
lipat dari sakunya. Lawannya sungguh kaget, ia merinding. Dan akhirnya tak bisa
dihindarinya serangan terakhir tersebut.
Mata Bara melebar. Ia tak merasa ngeri, justru ia sama
sekali tak berkedip melihatnya. Ada sedikit sinar kekaguman dari matanya, namun
Bara masih terlalu belia untuk menyadarinya. Bara segera berlari mendekati
pemuda di lapangan tersebut.
“Kakak!”
Si pemuda tak langsung berbalik. Ia diam sejenak di
tempatnya. Sementara, Bara yang tak bisa membaca sikapnya tersebut tetap lanjut
berbicara.
“Aku ingin melakukannya juga!”
Pemuda itu berkacak pinggang. Masih belum berbalik. Ia
bertanya singkat, “Apa maksudmu?”
“Yang barusan Kakak lakukan itu! Yang dengan pisau itu! Aku
juga ingin pinjam pisau Kakak dan melakukan seperti itu!” jawab Bara polos dan
penuh semangat.
Kini si pemuda berbalik. Ternyata ia tersenyum ramah. Ia
memandangi wajah anak kecil di depannya yang berwajah serius, tak tersenyum
sedikit pun. Dengan wajah itu, ia tahu anak kecil ini tak sedang bergurau.
Namun tetap saja, ia tertawa kecil. Ia merendah dan mencubit
pelan pipi Bara. “Kamu ini sangat menggemaskan, ya. Memangnya kamu mau
melakukannya pada siapa, sih?”
Bara dengan kesal menepis tangan pemuda itu. “Aku akan
melakukannya pada Ayah, Ibu, dan dua kakakku!”
Si pemuda diam sejenak. Wajahnya datar. Ia tetap menatap
langsung ke kedua mata anak kecil di depannya.
Dan senyumannya muncul kembali. “Hmm ... tapi kalau seperti
itu, nanti kamu tidak punya tempat tinggal lagi.”
Bara kecil tersentak. Ia tak sempat berpikir tentang hal
itu. Sekarang ia menunduk. “Tapi ... tapi ... tapi, kak ... aku ...,” sekarang
Bara kecil tak tahu harus mengatakan apa. Suaranya mulai parau, ia menahan
tangis.
Si pemuda diam sejenak.
“Manis ... cup cup cup ... anak laki-laki tidak boleh
menangis! Kamu harus kuat! Kalau kamu menangis, Kakak tidak akan pernah
memberikanmu pisau ini.”
Bara kecil dengan polosnya menurut.
“Kamu kelas berapa?”
“Kelas 2.”
“Kamu punya banyak teman di sekolah?”
“Tidak, Kak.”
“Kamu suka main-main keluar rumah? Atau pergi keluar rumah
tanpa izin?”
“Tidak pernah, Kak. Biasanya aku bermain sendirian di
kamar.”
Si pemuda mulai tersenyum. Ia berkata, “Kalau kamu mau Kakak
pinjamkan pisau ini, jawab pertanyaan Kakak yang ini dengan baik, ya.”
Bara memandang penuh rasa penasaran. Ia terus diam,
menunggu.
“Kamu, kalau tidak punya Ayah dan Ibu, mau bagaimana?”
Bara kecil mengerjapkan mata beberapa kali. “Aku tidak
mengerti, Kak,” jawabnya. “Tapi kalau Ayah dan Ibu tidak ada, aku juga tak akan
pernah merindukan mereka. Begitupun kedua kakakku, sebab mereka tak pernah
memperhatikan aku.”
“Jawabanmu sudah bagus,” balas pemuda yang disahut senyuman
oleh Bara. “Nah, sekarang, siapa namamu?”
“Namaku Bara Adipramestya, Kak.”
“Oh ... jadi, Bara, panggil saja Kakak ....” Ia meletakkan
telapak tangan di dada, memperkenalkan diri. “Kak Nudira.”
Bara mengangguk. Dalam hati, ia sangat tak sabar untuk
menerima pisau dari pemuda itu.
“Sebelum Kakak berikan,” kata si pemuda lagi. “Kakak mau
memperhatikan kamu saat menggunakan pisau Kakak. Jadi, Kakak akan datang ke
rumahmu juga, ya.”
Akhirnya, Nudira memberikan pisaunya. Bara kecil menerimanya
dengan mata berbinar. Ia menutup kembali mata pisau ke lipatannya. Melihatnya,
Nudira tertawa kecil.
“Kau anak yang pintar, Bara.”
Bara mendongak cepat. Ia tertegun sesaat. Itu adalah pertama
kalinya ia mendengar seseorang memujinya. Bara pun tersenyum senang.
***
Sore hari di hari yang sama, sang
kakak kedua pulang. Ia memasuki ruang tamu dan mendapati pemandangan
mengerikan. Ada samar tercium aroma masakan yang terlalu lama dipanaskan. Ayah
dan kakaknya ada di ruang tamu, sementara sang ibu ada di dapur. Semuanya telah
tak bernyawa.
Dilihatnya adik kecilnya duduk di pojok ruangan. Ia masih
bernafas, duduk dengan gemetar membelakanginya. Langsung saja ia meraih bahu
adiknya.
“Bara! Apa-apaan ini?! Kamu biarkan ini terjadi?! Kamu diam
saja?! Seharusnya kamu berteriak keras-keras agar para tetangga mendengarmu dan
segera datang!! Seharusnya kamu menelpon polisi!! Jangan bilang kalau kamu
justru bersembunyi sedirian! Kau bodoh sekali, Bar ...!”
Bara berbalik cepat. Bersamaan dengan itu, ia menghunuskan
mata pisau. Sang kakak terjatuh.
Nudira berdiri bersandar pada tepi antara dua dinding. Ia
memperhatikan Bara dengan seringai puas di wajahnya.
Bara berwajah kosong, memperhatikan kakaknya. Ia menusuk
lagi, beberapa kali. Tubuh sang kakak beberapa kali mengejang.
“Hm? Sadis sekali untuk seorang bocah ingusan,” gumam Nudira
enteng, menyindir Bara.
Nudira pikir Bara akan berhenti. Namun ternyata Bara tetap
menusuk-tusuk. Ternyata Bara tak mendengarnya.
“Bara, itu sudah cukup.”
Padahal tubuh kakaknya tak lagi bergemetar.
“Dia sudah mati, Bara!”
Bara tetap tak mendengar.
Nudira tak lagi bersandar. Sebetulnya ia berpikir untuk
pergi dengan cepat setelah seisi rumah ini sudah dihabisi anak itu, agar tak
ada tetangga atau siapapun yang mencurigai kejadian ini. Namun, karena tak ada
suara, Nudira tak berpikir untuk terburu-buru seperti itu.
Iya. Mereka semua dihabisi oleh Bara. Anak kecil yang sangat
cerdas. Tak ada jeritan keras yang sampai terdengar tetangga terdekat
sekalipun, bahkan bisa dikatakan nyaris tak ada jeritan sama sekali.
Akhirnya Bara berhenti. Pakaiannya sangat kotor oleh noda
merah. Tangannya sudah pegal. Ia diam membisu dengan sedikit terengah karena
adrenalin yang memuncak.
“Baiklah, Bara, kemarilah,” pinta Nudira lembut.
Bara berbalik dan berjalan mendekati laki-laki itu. Nudira
pun berjalan beberapa langkah mendekati Bara. Sebelum berbicara, Nudira
memperhatikan tatapan mata Bara.
Kosong. Dingin. Benci. Terhina. Seolah semua masa lalu ada
di kedua mata hitam tersebut.
Nudira merendah. Ia tersenyum seraya mengadahkan sebelah
tangan pada Bara dan berkata, “Mana pisau Kakak?”
Tanpa berkata, Bara memberikan pisau tersebut. Nudira
menerimanya, setelah itu ia kembali berdiri tegak. Ia mengadahkan tangannya
lagi, memberi isyarat agar Bara memberikan telapak tangannya. Bara tetap
menurut.
“Bara,” kata Nudira. “Kamu tahu? Kakak ini sebatang kara,
tidak punya ayah, ibu, kakak, adik, ataupun anggota keluarga yang lain. Di
rumah, Kakak tinggal sendirian. Kalau Bara berjanji tidak akan nakal, Bara
boleh tinggal dengan Kak Nudira.”
Bara diam. Ia sangat tak menyangka Nudira akan menawarkan
hal seperti itu. Tapi, dengan cepat setelahnya, Bara mengangguk-angguk semangat
dengan wajah yang tak banyak berekspresi. Kemudian, Nudira pun menuntunnya
keluar rumah.
Tak pernah ada yang tahu kemana Bara pergi. Sebab, Bara tak
pernah keluar rumah. Nudira yang selama ini mengajarkannya semua yang
diketahuinya. Seiring berjalannya waktu, Nudira menyadari bahwa Bara semakin
tak memiliki emosi.
***
Sungguh
begitukah? Memang ia berkata sendiri bahwa dirinya tak percaya kalau pemuda
dingin itu menjadi pembunuh tanpa sebab, tetapi ... Salinda tak menyangka
itulah alasannya.
“Anak yang kejam, bukan?” tandas Kunta. “Seolah ia memang
sudah terlahir untuk menjadi penjahat keji, seperti dirinya sekarang ini.”
Tidak .... Namun
Salinda tak dapat membalas. Ia hanya terdiam, entah kenapa tak bisa mengangkat
suaranya.
“Yah, baiklah. Kurasa
sudah hampir tiba waktunya,” dengus Kunta seraya bersiap berdiri.
Tetapi, Kunta tak membawa laptopnya, hanya meletakkannya di
atas lantai. Setelah meletakakannya, ia mengecek arloji di pergelangan tangan
kirinya.
“Ayahmu sudah di Bandung, dan sepertinya segera kemari.
Masih cukup pagi. Dia luar biasa, hm.” Sambil melirik Salinda, pria itu tersenyum
kecil.
Salinda memutuskan menutup matanya. Dan memalingkan wajahnya. Gelisah.

0 tanggapan:
Posting Komentar