Cerbung
A Painful Morning
Episode 14:
Last Hour
Entah apa maksudnya. Kunta tak membawa senjata apapun. Tangan kosong ia menghadapi Ferdo. Mungkin ia kehabisan amunisi, atau karena sudah terlanjur turun, pikir Ferdo.
Ferdo seharusnya bisa meraih sebuah pistol. Tapi
tengah-tengah ruangan di lantai empat ini sungguh bagaikan arena duel untuknya—bersih, tak ada apapun
selain lantai berdebu dan partikel bekas ledakan.
Ferdo pikir ia bisa mengulur waktu. Karena beberapa polisi
kini mulai sadar dan membantunya. Mengejutkannya, senapan mereka telah
kehabisan peluru, sepertinya mereka terlalu ceroboh untuk menghabisi amunisi,
sebelumnya. Karena itu, mau tak mau mereka harus menyerang Kunta tanpa senjata
apapun lagi.
Ferdo agak tak menyangka lawannya cukup kuat. Ternyata
sekian banyak orang melawan Kunta yang seorang diri seolah bukan apa-apa untuk
penjahat sebaya Ferdo itu.
Darwan hanya mendelik mendengarnya. Salinda dengar juga,
tapi hanya terdiam tak percaya, kakaknya yang itu ternyata tak pernah berubah.
Para polisi yang turun kini kembali naik. Dan entah sejak
kapan, Bara dan Nudira juga telah kembali muncul di area lantai empat, mereka
bergabung dengan Kunta.
Salah satu polisi menepuk bahu Darwan. “Kami sudah
menghubungi bantuan pada lembaga kepolisian di Bandung, mereka akan sampai tak
lama lagi. Ketiga teroris itu akan segera kami tangkap. Kami rasa Pak Darwan
dan keluarga bisa pergi dari sini sekarang.”
“Seberapa lama mereka akan sampai, Pak?” tanya Darwan, bertanya
dengan maksud tertentu.
“Sekitar setengah jam lagi.”
Ferdo angkat suara, “Saya dan kakak saya akan ikut membantu
mengulur waktu. Kami berdua bisa melihat keadaan di sini, terlalu banyak polisi
yang telah terluka, tinggal sedikit yang masih bisa berusaha. Izinkan kami membantu,
Pak!”
Bapak polisi itu nampak terkejut sesaat. Dengan cepat ia
membalas, “Iya. Tolong bantuannya, Pak Ferdo.”
Ferdo mengangguk. Ia mengadahkan tangan. “Maaf, boleh saya
pinjam pistolnya, Pak?”
Diberikannya pistol. Bapak polisi itu mengangguk pada Ferdo
dan berlalu. Ferdo menyodorkan pistol itu pada Darwan.
“Ini!” kata Ferdo. “Jagalah Salinda, jangan jauh-jauh
darinya!”
“Tidak. Kita bertukar, biar aku yang hadapi mereka dalam
jarak dekat, kau simpan tenagamu dan jagalah adikmu di sini.” Darwan beranjak
seraya menepuk bahu Ferdo.
Ferdo tak memprotes. Ia segera berbalik dan mengokang
senjata.
Salinda kini bisa melihat, tiga penjahat melawan sekumpulan
anggota kepolisian yang seadanya. Mereka melawan ketiga penjahat dengan keadaan
seadanya. Banyaknya
kepolisian yang tersisa seolah hanya tinggal sebentar lagi selesai oleh ketiga
penjahat. Hanya beberapa yang masih memiliki amunisi untuk menembak, dan hanya
mereka gunakan untuk membantu polisi lain di depan sana, tak lagi untuk
dihabiskan terang-terangan seperti sebelumnya.
Salinda menunduk sedikit. Sementara semua orang sibuk
menghadang ketiga penjahat itu dan berpikir untuk mengulur waktu, Salinda rasa
keganjilan ini hanya dirinya saja yang sempat memikirkannya baik-baik. Salinda
melirik ketiga penjahat itu sekilas.
“Kenapa mereka tak berupaya kabur setelah ledakkan tadi?”
tanya Salinda pada dirinya sendiri, mencoba mencari jawabannya sendiri.
Mereka sedang menunggu
bantuan? Untuk melarikan diri?
Apa helikopter untuk
nanti kabur ke atap? Tapi mereka justru mudah dicari kalau kabur di langit.
Mungkin ada rencana
untuk turun ke bawah. Rencana seperti apa?
Salinda mendongak terkejut. Bara tersiap dengan pisaunya,
tepat di depannya, membelalak penuh hasrat membunuh.
Ferdo dengan sigap menarik Salinda. Pisau itu kini menancap
di dinding. Ferdo mencoba menembaknya beberapa kali, memaksa Bara melompat
mundur untuk menghindari setiap tembakan yang diberikannya. Setelah itu
Darwanlah yang menghadang Bara, kelihatannya Darwan juga melihat Bara berlari
ke arah Salinda.
“Salinda, kamu tak apa?” tanya Ferdo, sebelah tangannya
mendekap erat.
“Uhuk ... iya. Terima kasih, Kak.”
Ferdo menoleh sekilas. “Wajahmu masih pucat, suaramu juga
masih serak. Sungguh benar kau tak apa?”
“Percayalah, Kak.”
“Ugh ... mereka benar-benar pemeras sialan,” umpat Ferdo.
“Uangnya sudah diberikan, tapi masih saja mencecar sandra.”
Salinda terdiam. Terdiam memperhatikan Bara, dan kedua mata
Bara yang seolah tak lepas memandangnya. Baru tadi saja Salinda melihat
langsung mata seorang pembunuh. Bara masih menginginkan nyawanya.
Pakaian Ferdo tak sadar digenggam erat. Tapi, Ferdo sendiri
menyadarinya, ia mendekap Salinda lebih erat, berharap bisa mengurangi
ketakutan yang turut terasa olehnya.
“Kak ...,” bisik Salinda parau, suaranya bergetar. “Aku ...
takut.”
“Kadang kita bisa tahu sejatinya seseorang, saat kita
memandang matanya langsung,” ujar Ferdo diselingi nafas yang memburu kelelahan.
“Karena itu, tak semua orang berani berlama-lama memandang mata seorang
pembunuh, Salinda.”
Jantung Salinda berdebar cepat. Setiap debarnya terasa sakit
untuk Salinda, sepertinya penawar racunnya belum bekerja sempurna
memulihkannya. Kini nafasnya agak sesak. Pusing. Panas. Lalu jantungnya dengan
cepat berdebar lemah.
“Mmm ....”
“Salinda!” Ferdo terkejut mendapati Salinda tiba-tiba tak
kuasa. Hampir saja adiknya jatuh bila saja Ferdo tak menahannya dengan kedua
tangan.
Ferdo berusaha menyerap apa yang terjadi. Siksaan macam apa
yang bisa menyebabkan seseorang lemah hanya karena debaran jantung?
“Apa jangan-jangan ...,” teka Ferdo pelan. “Kamu diracuni
tadi malam?”
Salinda tak bisa menjawab. Telinganya terlanjur berdenging.
Ferdo menoleh pada Darwan. Ferdo sangat ingin bertukar
dengan sang kakak, dia ingin menghajar langsung dengan kepalan tangannya
sendiri. Tapi, disadarinya Nudira berlari ke arah Bara. Darwan akan dikeroyok berdua! Ferdo segera menembak Nudira beberapa
kali, memaksanya menjauh dengan menghindari setiap tembakan.
Salinda menyadari pandangannya mulai buram. Khawatir akan
mulai pingsan, Salinda mencoba tetap fokus agar pandanganya makin jelas. Tapi
daripada itu, Salinda menyadari para polisi dan Darwan di sana menghajar
sepasang penjahat di tengah ruangan.
Hanya ada Bara dan
Nudira, pikir Salinda. Kemana Kunta?
Tak ada waktu bagi Salinda memikirkannya lagi. Kepalanya
kembali berdenyut. Salinda merintih tegang.
Entah darimana, Kunta muncul kembali. Segera ia menghampiri
Bara.
“Beri aku waktu.”
“Ada lima menit,” balas Kunta cepat. Mereka saling berbisik
saat saling melewati. Bara kini berlari, kembali mendekati Salinda.
Ferdo terlalu sibuk menolong Darwan yang bersama Nudira.
Tendangan cepat yang menghantam tangannya mengejutkannya dengan menyakitkan.
Pistol itu lepas dari genggaman. Belum sempat menyadarinya, kepalanya pun kena.
Ferdo berbalik cepat dan menahan kaki Bara dengan tangannya. Tapi ia kalah
cepat, tubuhnya sudah terhempas dengan dua tendangan di punggungnya. Tendangan
pertama yang melepaskan tangannya membuat Salinda tertinggal di depan Bara.
Seharusnya Salinda terjatuh. Namun tangan Bara lebih dulu
mencengkramnya dan membantingnya ke bawah tangga.
Ada dua tangga yang menghubungkan lantai tiga dan empat. Ada
jari-jari tangga yang berupa dinding pendek. Salinda agak terkejut saat
ternyata ia tak benar-benar kesakitan saat terhempas, kelihatannya ia tak
dibanting sekuat tenaga.
Salinda bangkit. Dengan kesadaran seadanya, ia berlari
menuruni tangga. Tak jauh dari tangga, Salinda jatuh dan terbatuk-batuk,
pernafasannya tak kuat dengan hanya menuruni beberapa anak tangga.
Bara dengan cepat menyusulnya. Tapi di beberapa anak tangga terakhir,
saat Salinda jatuh di depannya, Bara memelankan cepat larinya. Bara mendekati
Salinda dengan berjalan.
“Kau berusaha lari dariku?”
Salinda tak sedikitpun mengangkat kepalanya. Untuk beberapa
saat, batuk membuatnya tak bisa membalas.
“Bahkan aku tak pernah berharap.”
Bara merendah, ia berjongkok. “Kenapa?”
“Apa aku bisa?” Salinda balas bertanya. “Aku hanya tidak
ingin, mereka melihat bagaimana aku mati.”
Bara terdiam sejenak. Ia bertanya lagi, “Pernah berpikir,
kau tak pantas terbunuh?”
“Pernah,” jawab Salinda. Pikirannya masih mengingat
bagaimana Darwan menceritakan semuanya padanya. “Tapi sudah terlambat.”
“Kalau begitu ....” Bara mendekatkan bibirnya ke telinga
Salinda. Salinda dapat melihat telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan
hitam, menggenggam sebilah pisau. “Kau pernah merasa ketakutan?”
“Tentu saja.”
Lantai tiga ternyata lebih sepi. Seluruh polisi berada di
lantai empat, beberapa di antara mereka tergeletak pingsan dengan luka tembak
di tangga atas. Lampu-lampu di lantai tiga seluruhnya redup, terlihat gelap.
Salinda tak tahu ada apa di lantai ini, tapi aroma busuk dan amis cukup
membuatnya tak berani memandang sekitar, hanya ke bawah.
Sayup-sayup teriakan terdengar. Ada juga beberapa kali suara
tembakan. Namun semuanya samar bagi Salinda, hanya terkesan hening baginya di
sini.
“Kunta bercerita tentangku. Bukan begitu?”
Kedua lengannya mulai tak mampu. Salinda memutuskan untuk
terkapar di atas lantai yang dingin. Salinda tetap menunduk, samar-samar ia
mengangguk lemah.
“Kau sudah tahu banyak sekarang.”
Tangan Bara yang lain meraih wajah Salinda. Mungkin tangan ini yang akan dia gunakan
untuk menahan kepalaku nanti, pikir Salinda.
Beberapa waktu lalu, Bara mengkomplain Nudira yang
menceritakan rencana mereka bertiga pada Salinda. Nudira berkata bahwa itu tak
apa. Lagipula, Kunta juga sempat mengatakan kalau Bara memang berencana
membunuh ....
“Jadi sebetulnya bukan aku?” Rasa penasaran menuntun Salinda
menanyakannya, tanpa menoleh.
Bara tak membalas. Telapak tangannya meraih sisi samping
kepala Salinda. Hal itu membuat Salinda merinding ketakutan.
“Ku ... kumohon ... kumohon, sebentar saja.”
Tangan Bara itu menutup mulut Salinda. Sepi. Hanya suara nafas Salinda yang memburu terdengar di antara mereka. Tapi itu tak lama, karena kemudian Bara membuka suara.

0 tanggapan:
Posting Komentar