Minggu, 20 November 2016

A Painful Morning - [14] - Last Hour



Cerbung

A Painful Morning




Episode 14:

Last Hour




Entah apa maksudnya. Kunta tak membawa senjata apapun. Tangan kosong ia menghadapi Ferdo. Mungkin ia kehabisan amunisi, atau karena sudah terlanjur turun, pikir Ferdo.

Ferdo seharusnya bisa meraih sebuah pistol. Tapi tengah-tengah ruangan di lantai empat ini sungguh bagaikan arena duel untuknyabersih, tak ada apapun selain lantai berdebu dan partikel bekas ledakan.

Ferdo pikir ia bisa mengulur waktu. Karena beberapa polisi kini mulai sadar dan membantunya. Mengejutkannya, senapan mereka telah kehabisan peluru, sepertinya mereka terlalu ceroboh untuk menghabisi amunisi, sebelumnya. Karena itu, mau tak mau mereka harus menyerang Kunta tanpa senjata apapun lagi.

Ferdo agak tak menyangka lawannya cukup kuat. Ternyata sekian banyak orang melawan Kunta yang seorang diri seolah bukan apa-apa untuk penjahat sebaya Ferdo itu.

“Oh, wow.”

Darwan hanya mendelik mendengarnya. Salinda dengar juga, tapi hanya terdiam tak percaya, kakaknya yang itu ternyata tak pernah berubah.

Para polisi yang turun kini kembali naik. Dan entah sejak kapan, Bara dan Nudira juga telah kembali muncul di area lantai empat, mereka bergabung dengan Kunta.

Salah satu polisi menepuk bahu Darwan. “Kami sudah menghubungi bantuan pada lembaga kepolisian di Bandung, mereka akan sampai tak lama lagi. Ketiga teroris itu akan segera kami tangkap. Kami rasa Pak Darwan dan keluarga bisa pergi dari sini sekarang.”

“Seberapa lama mereka akan sampai, Pak?” tanya Darwan, bertanya dengan maksud tertentu.

“Sekitar setengah jam lagi.”

Ferdo angkat suara, “Saya dan kakak saya akan ikut membantu mengulur waktu. Kami berdua bisa melihat keadaan di sini, terlalu banyak polisi yang telah terluka, tinggal sedikit yang masih bisa berusaha. Izinkan kami membantu, Pak!”

Bapak polisi itu nampak terkejut sesaat. Dengan cepat ia membalas, “Iya. Tolong bantuannya, Pak Ferdo.”

Ferdo mengangguk. Ia mengadahkan tangan. “Maaf, boleh saya pinjam pistolnya, Pak?”

Diberikannya pistol. Bapak polisi itu mengangguk pada Ferdo dan berlalu. Ferdo menyodorkan pistol itu pada Darwan.

“Ini!” kata Ferdo. “Jagalah Salinda, jangan jauh-jauh darinya!”

“Tidak. Kita bertukar, biar aku yang hadapi mereka dalam jarak dekat, kau simpan tenagamu dan jagalah adikmu di sini.” Darwan beranjak seraya menepuk bahu Ferdo.

Ferdo tak memprotes. Ia segera berbalik dan mengokang senjata.

Salinda kini bisa melihat, tiga penjahat melawan sekumpulan anggota kepolisian yang seadanya. Mereka melawan ketiga penjahat dengan keadaan seadanya. Banyaknya kepolisian yang tersisa seolah hanya tinggal sebentar lagi selesai oleh ketiga penjahat. Hanya beberapa yang masih memiliki amunisi untuk menembak, dan hanya mereka gunakan untuk membantu polisi lain di depan sana, tak lagi untuk dihabiskan terang-terangan seperti sebelumnya.

Salinda menunduk sedikit. Sementara semua orang sibuk menghadang ketiga penjahat itu dan berpikir untuk mengulur waktu, Salinda rasa keganjilan ini hanya dirinya saja yang sempat memikirkannya baik-baik. Salinda melirik ketiga penjahat itu sekilas.

“Kenapa mereka tak berupaya kabur setelah ledakkan tadi?” tanya Salinda pada dirinya sendiri, mencoba mencari jawabannya sendiri.

Mereka sedang menunggu bantuan? Untuk melarikan diri?

Apa helikopter untuk nanti kabur ke atap? Tapi mereka justru mudah dicari kalau kabur di langit.

Mungkin ada rencana untuk turun ke bawah. Rencana seperti apa?

Salinda mendongak terkejut. Bara tersiap dengan pisaunya, tepat di depannya, membelalak penuh hasrat membunuh.

Ferdo dengan sigap menarik Salinda. Pisau itu kini menancap di dinding. Ferdo mencoba menembaknya beberapa kali, memaksa Bara melompat mundur untuk menghindari setiap tembakan yang diberikannya. Setelah itu Darwanlah yang menghadang Bara, kelihatannya Darwan juga melihat Bara berlari ke arah Salinda.

“Salinda, kamu tak apa?” tanya Ferdo, sebelah tangannya mendekap erat.

“Uhuk ... iya. Terima kasih, Kak.”

Ferdo menoleh sekilas. “Wajahmu masih pucat, suaramu juga masih serak. Sungguh benar kau tak apa?”

“Percayalah, Kak.”

“Ugh ... mereka benar-benar pemeras sialan,” umpat Ferdo. “Uangnya sudah diberikan, tapi masih saja mencecar sandra.”

Salinda terdiam. Terdiam memperhatikan Bara, dan kedua mata Bara yang seolah tak lepas memandangnya. Baru tadi saja Salinda melihat langsung mata seorang pembunuh. Bara masih menginginkan nyawanya.

Pakaian Ferdo tak sadar digenggam erat. Tapi, Ferdo sendiri menyadarinya, ia mendekap Salinda lebih erat, berharap bisa mengurangi ketakutan yang turut terasa olehnya.

“Kak ...,” bisik Salinda parau, suaranya bergetar. “Aku ... takut.”

“Kadang kita bisa tahu sejatinya seseorang, saat kita memandang matanya langsung,” ujar Ferdo diselingi nafas yang memburu kelelahan. “Karena itu, tak semua orang berani berlama-lama memandang mata seorang pembunuh, Salinda.”

Jantung Salinda berdebar cepat. Setiap debarnya terasa sakit untuk Salinda, sepertinya penawar racunnya belum bekerja sempurna memulihkannya. Kini nafasnya agak sesak. Pusing. Panas. Lalu jantungnya dengan cepat berdebar lemah.

“Mmm ....”

“Salinda!” Ferdo terkejut mendapati Salinda tiba-tiba tak kuasa. Hampir saja adiknya jatuh bila saja Ferdo tak menahannya dengan kedua tangan.

Ferdo berusaha menyerap apa yang terjadi. Siksaan macam apa yang bisa menyebabkan seseorang lemah hanya karena debaran jantung?

“Apa jangan-jangan ...,” teka Ferdo pelan. “Kamu diracuni tadi malam?”

Salinda tak bisa menjawab. Telinganya terlanjur berdenging.

Ferdo menoleh pada Darwan. Ferdo sangat ingin bertukar dengan sang kakak, dia ingin menghajar langsung dengan kepalan tangannya sendiri. Tapi, disadarinya Nudira berlari ke arah Bara. Darwan akan dikeroyok berdua! Ferdo segera menembak Nudira beberapa kali, memaksanya menjauh dengan menghindari setiap tembakan.

Salinda menyadari pandangannya mulai buram. Khawatir akan mulai pingsan, Salinda mencoba tetap fokus agar pandanganya makin jelas. Tapi daripada itu, Salinda menyadari para polisi dan Darwan di sana menghajar sepasang penjahat di tengah ruangan.

Hanya ada Bara dan Nudira, pikir Salinda. Kemana Kunta?

Tak ada waktu bagi Salinda memikirkannya lagi. Kepalanya kembali berdenyut. Salinda merintih tegang.

Entah darimana, Kunta muncul kembali. Segera ia menghampiri Bara.

“Beri aku waktu.”

“Ada lima menit,” balas Kunta cepat. Mereka saling berbisik saat saling melewati. Bara kini berlari, kembali mendekati Salinda.

Ferdo terlalu sibuk menolong Darwan yang bersama Nudira. Tendangan cepat yang menghantam tangannya mengejutkannya dengan menyakitkan. Pistol itu lepas dari genggaman. Belum sempat menyadarinya, kepalanya pun kena. Ferdo berbalik cepat dan menahan kaki Bara dengan tangannya. Tapi ia kalah cepat, tubuhnya sudah terhempas dengan dua tendangan di punggungnya. Tendangan pertama yang melepaskan tangannya membuat Salinda tertinggal di depan Bara.

Seharusnya Salinda terjatuh. Namun tangan Bara lebih dulu mencengkramnya dan membantingnya ke bawah tangga.

Ada dua tangga yang menghubungkan lantai tiga dan empat. Ada jari-jari tangga yang berupa dinding pendek. Salinda agak terkejut saat ternyata ia tak benar-benar kesakitan saat terhempas, kelihatannya ia tak dibanting sekuat tenaga.

Salinda bangkit. Dengan kesadaran seadanya, ia berlari menuruni tangga. Tak jauh dari tangga, Salinda jatuh dan terbatuk-batuk, pernafasannya tak kuat dengan hanya menuruni beberapa anak tangga.

Bara dengan cepat menyusulnya. Tapi di beberapa anak tangga terakhir, saat Salinda jatuh di depannya, Bara memelankan cepat larinya. Bara mendekati Salinda dengan berjalan.

“Kau berusaha lari dariku?”

Salinda tak sedikitpun mengangkat kepalanya. Untuk beberapa saat, batuk membuatnya tak bisa membalas.

“Bahkan aku tak pernah berharap.”

Bara merendah, ia berjongkok. “Kenapa?”

“Apa aku bisa?” Salinda balas bertanya. “Aku hanya tidak ingin, mereka melihat bagaimana aku mati.”

Bara terdiam sejenak. Ia bertanya lagi, “Pernah berpikir, kau tak pantas terbunuh?”

“Pernah,” jawab Salinda. Pikirannya masih mengingat bagaimana Darwan menceritakan semuanya padanya. “Tapi sudah terlambat.”

“Kalau begitu ....” Bara mendekatkan bibirnya ke telinga Salinda. Salinda dapat melihat telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam, menggenggam sebilah pisau. “Kau pernah merasa ketakutan?”

“Tentu saja.”

Lantai tiga ternyata lebih sepi. Seluruh polisi berada di lantai empat, beberapa di antara mereka tergeletak pingsan dengan luka tembak di tangga atas. Lampu-lampu di lantai tiga seluruhnya redup, terlihat gelap. Salinda tak tahu ada apa di lantai ini, tapi aroma busuk dan amis cukup membuatnya tak berani memandang sekitar, hanya ke bawah.

Sayup-sayup teriakan terdengar. Ada juga beberapa kali suara tembakan. Namun semuanya samar bagi Salinda, hanya terkesan hening baginya di sini.

“Kunta bercerita tentangku. Bukan begitu?”

Kedua lengannya mulai tak mampu. Salinda memutuskan untuk terkapar di atas lantai yang dingin. Salinda tetap menunduk, samar-samar ia mengangguk lemah.

“Kau sudah tahu banyak sekarang.”

Tangan Bara yang lain meraih wajah Salinda. Mungkin tangan ini yang akan dia gunakan untuk menahan kepalaku nanti, pikir Salinda.

Beberapa waktu lalu, Bara mengkomplain Nudira yang menceritakan rencana mereka bertiga pada Salinda. Nudira berkata bahwa itu tak apa. Lagipula, Kunta juga sempat mengatakan kalau Bara memang berencana membunuh ....

“Jadi sebetulnya bukan aku?” Rasa penasaran menuntun Salinda menanyakannya, tanpa menoleh.

Bara tak membalas. Telapak tangannya meraih sisi samping kepala Salinda. Hal itu membuat Salinda merinding ketakutan.

“Ku ... kumohon ... kumohon, sebentar saja.”
 
Tangan Bara itu menutup mulut Salinda. Sepi. Hanya suara nafas Salinda yang memburu terdengar di antara mereka. Tapi itu tak lama, karena kemudian Bara membuka suara.








  Next (last) episode  

It's Over

 

0 tanggapan:

Posting Komentar