Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 15 Desember 2014

Lighter's Fault (Cerpen)

Lighter’s Fault 

Cerpen
Slice of life, supranatural



Sandra. Gadis remaja dengan sejuta kemampuan supranatural. Selama ini, dia selalu menggunakan itu untuk menolong orang lain. namun, Sandra tak pernah mengatakan itu pada siapapun, dan dia selalu menolong orang lain di belakang. Bahkan, Sandra selalu berusaha untuk menyembunyikan pertolongannya.

Sandra masih bersekolah. Dia kelas IX SMP di sebuah sekolah swasta. Karena dirinya yang cerdas, ramah dan baik hati, Sandra sering menjadi idola di sekolahnya.

Di suatu sore, sepulang sekolah. Sandra pulang berjalan kaki sendiri. Itu karena arah rumahnya berbeda dengan teman-temannya yang lain. di perjalanan, Sandra mendengar suara tangis.

Sandra menoleh ke sekitarnya. Tepat di sebelahnya berdiri, terdapat sebuah lapangan yang sepi. Nampak seperti tak ada orang, namun Sandra tahu pasti seseorang sedang menangis di sana.



Minggu, 26 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 4 || Dering Bel Pagi ini ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 4 
Dering Bel Pagi ini 




Leo mengecek kembali penampilannya di cermin. Dia sekarang telah rapi dengan seragam sekolahnya. Kemeja putih panjang dengan jas biru, juga celana biru panjang dan sepatu hitam. Baru pertama kalinya bagi Leo dia mengenakan seragam sekolah. 

Leo mulai iseng bergaya di depan cermin. Dia menyanggul sebelah tali ransel biru gelapnya di sebelah bahunya dan berkacak pinggang dengan tangan sebelahnya lagi. Di wajahnya, dia menyunggingkan senyum miring. 

"Aku keren juga ternyata," tanggap Leo setengah bergurau dengan bayangannya. 

Leo menyudahi posenya. Dia mulai menggendong ransel di kedua bahunya dan pergi dari kamar. Dia lekas pergi ke ruang makan untuk sarapan. Di ruang makan, kedua orang tuanya dan adiknya, Cheryl telah duduk di sana menunggunya. 

"Pagi, Pa! Ma!" sapa Leo cerah. Dia langsung melepas ransel dan duduk di salah satu kursi yang kosong. 

"Pagi, Sayang," balas Bu Maria. Lalu beliau ikut bergabung duduk di kusinya. "Bagaimana? Sudah siap untuk sekolah hari ini?" tanya Bu Maria pada Leo. 

"Tentu saja!" jawab Leo mantap. 

Pak Waston turut tersenyum pada Leo. Beliau lalu berkata, "Papa yakin kamu bisa berteman baik dengan teman-temanmu nanti." 


Dark Forest: Chapter 3


Dark Forest 
Chapter 3:
Mahkota yang Sebenarnya


~~~~~
Hmm ... terlalu lamakah? Maaf, yaaa .... :)
~~~~~



Pagi hari itu sepi dan sunyi. Cahaya hangat matahari menyinari rerumputan hijau yang rapi dan juga dedaunan pohon-pohon yang begitu rimbunya. Hewan-hewan dan serangga yang bekerja di siang hari telah terbangun dan kini pergi mencari makananya. 

Cahaya hangat matahari itu telah menimpa tubuh Ray dari sebuah jendela. Seraya mengerang pelan, Ray membuka matanya perlahan, memandang jendela di samping ranjang tempatnya tertidur. Pandanganya masih agak buram.

"Pagi?" gumamnya. Ray pikir cahaya matahari seharusnya tak akan pernah tertembus oleh pepohonan di hutan ini.



Sabtu, 25 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 3 || Langit Baru ||


Reprisals Blood of the Tiger 



PART 3 
Langit Baru 




Sebuah rumah yang nampak minimalis. Tak begitu mewah, namun cukup rapi dan indah. Di halaman depan yang cukup lebar, banyak tanaman hias tertata cantik. Sangat memanjakan mata yang metihatnya. 

Leo sudah sedari tadi mengulur senyum. Dia memperhatikan taman itu dengan senang. Wanita muda di sebelahnya hanya turut tersenyum melihatnya begitu cerah. 

Leo mulai memandangnya. "Pasti senang tinggal di sini, ya?" 

Wanita itu lalu mulai berjongkok. Dia menjawab, "Tentu, apalagi setelah ada kamu, Sayang." Wanita itu tertawa kecil. "Mulai sekarang kamu panggil kami Mama dan Papa, ya." 

"Iya, Ma," jawab Leo riang. 

Sekarang, Mamanya yang gemas dengan Leo itu mencubit sebelah pipi anak barunya. Leo hanya mengaduh dan kemudian mengusap-usap sebelah pipinya. 

"Sudah, Maria," tegur pria, Papa Leo. "Dia bukan anak lima tahun lagi." 

Bu Maria tertawa kecil. "Tapi bukankah dia lucu, Waston?" 

Pria itu hanya mendengus. Nampaknya dia agak tak suka sikap istrinya yang sedikit berlebihan dengan anak baru mereka. Leo hanya cekikikan menanggapi ekspersi itu. 

Bu Maria menggandeng tangan Leo seraya berdiri. "Ayo kita masuk ke rumah!" ajak Bu Maria sambil berjalan menuntun Leo. Leo mengikuti.

Jumat, 24 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 2 || Aku akan Merindukanmu ||


Reprisals Blood of the Tiger



PART 2
Aku akan Merindukanmu





Pagi itu suasana begitu ceria. Setelah sarapan, semua anak bermain ke tempat yang mereka suka. Mereka ada di halaman belakang, di perpustakaan, atau juga di ruang keluarga. Memang hari ini adalah hari minggu, dan itu artinya mereka bebas bermain hari ini. 

Leo dan Rian memilih pergi ke halaman belakang. Mereka bermain sepak bola bersama anak-anak lainnya.

"Hei! Ke sini! Over ke sini!" panggil Leo, meminta bola dari teman setimnya. 

"Ini, Leo!" balas temannya seraya menendang bola ke arah Leo. 

Leo menerimanya dan langsung menggiring bola itu. Posisinya sudah cukup dekat dengan gawang. 

Rian tak diam saja. Dia yang merupakan anggota tim lawan dari Leo dan timnya berlari mendekati Leo. Dia berusaha merebut bola dari kaki Leo. 

Leo sudah tahu itu. Dengan lebih sigap dia menendang bola ke gawang tepat sebelum Rian mencoba merebut bola. Beruntungnya, saat itu tak ada banyak anak di sekitar gawang. Bola lolos dari tangan kiper, tak sempat diraihnya. 

"GOOOLL!!" seru Leo dan anak-anak lain yang satu tim dengannya. Mereka berkerumun dan saling berpelukan sambil berseru-seru kegirangan. 

"Sudah, ya, aku capek! Kita main lagi nanti sore!" kata seorang anak. 

"Baiklah," balas Leo mewakili teman-temannya.

Semua anak laki-laki yang berada di lapangan bola itu pun pergi. Leo dan Rian memilih duduk di bawah pohon rindang yang terletak tak jauh dari lapangan. Duduk di bawah pohon itu selalu menjadi kesukaan mereka.

Rian mengeluh, "Padahal tadi aku hampir dapat." 

"Hahaha ... nyatanya aku masih lebih gesit daripada kamu," sindir Leo setengah bercanda.

Rian tak membalas. Leo pun tak berkata-kata lagi. Anak-anak lain di sekitar mereka masih berisik bermain bersama, namun di antara mereka dapat terasa dengan jelas kesunyian yang dalam. Leo awalnya membiarkan itu, tapi semakin lama dia semakin tak nyaman dengan keadaan di antara mereka berdua ini. Tidak biasanya mereka saling diam, mereka selalu berceloteh bersama setiap kali berdua. 


Sabtu, 11 Oktober 2014

|| Reprisals Blood of the Tiger || PART 1 || Dua Bersaudara ||


  Reprisals Blood of the Tiger 



PART 1 
Dua Bersaudara





Leo mengecek buku-buku di lemari. Dia perlu memastikan tidak ada buku yang berantakan disusunnya, atau belum dimasukkan ke lemari. Sambil membersihkannya dengan kemoceng, Leo bersenandung.

Seseorang yang masuk membuat Leo berpaling. Dia menoleh ke pintu dan memandang seorang anak sebayanya yang berdiri di sana.

"Terlalu rajin kamu," gumam Rian. Dia kemudian menutup pintu.

Leo mendengus. "Aku kira siapa yang masuk," kata Leo.

Rian mendekati Leo. "Sudah kukira kamu pasti ada di perpustakaan. Tapi tak biasanya kamu bukan sedang membaca buku," kata Rian.

"Hahaha ... yah, melihat lemari buku yang berantakan dan kotor, aku jadi terpikir untuk membersihkan dan membereskannya," balas Leo. "Tidak bagus juga kalau ada ruangan di panti ini yang terlihat berantakan. Iya, bukan?"

Rian tertawa kecil mendengarnya. Dia lalu berkata lagi, "Aku pikir kamu lebih suka olahraga daripada bersih-bersih."

Leo tersenyum miring. Lalu dia mengangkat kemocengnya ke depan wajah Rian sambil berkata, "Mau kubersihkan juga wajahmu?"

Rian refleks menyingkirkan kemoceng itu. "Ayolah," kilahnya sambil tertawa kecil. "Sudah waktunya makan siang. Ayo ke ruang makan! Nanti kita tidak kebagian makanan lagi."

Leo meletakan kemocengnya di atas meja. Lalu dia mengapit tangan Rian.

"Hei, aku tidak keberatan kalau makanan hari ini sarden," kata Leo.

"Aku juga tidak kalau itu," balas Rian. "Rasa sarden buatan Bu Cinny terlalu aneh. Seperti busuk."

Leo terbahak, "Hahaha ... mungkin begitu, ya."

Rian ikut tertawa saja. Mereka masih saja mengobrol sampai keluar dari perpustakaan panti.

***


Sabtu, 04 Oktober 2014

Kilas Persahabatanku (Cerpen)





Kilas Persahabatanku



Cerpen
Sad Story, Friendship, Slice of Life, School life

~~~~~
Kebetulan lagi nyari-nyari novel yang unfinished, eh ... dapet cerpen tua ini. Setelah diliat lagi, kasian juga kalo cerpen ini belumut doang di folder. Hehehe ... happy reading! 
~~~~~



Kita dulu berteman begitu dekat. Aku dan kamu bersahabat begitu cepat. Tak terasa sudah 3 tahun berlalu persahabatan kita, ya.
Aku selalu berfikir kamu pasti akan ada di sampingku, karena kamu sahabatku. Dan karena itulah aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku dengan senang hati menemanimu untuk urusan apapun ke manapun. Sejak kelas 5 SD, saat kita saling menggenggam kelingking dengan kelingking kanan kita dan berjanji akan menjadi sahabat, aku selalu melakukan apapun yang bisa kulakukan agar kamu tetap menjadi sahabatku.
Masih kuingat nada-nada keindahan itu.
"Sa, kamu mau, gak, jadi sahabatku?"
"Ya iyalah, Lin! Kita pasti bakal jadi sahabat, kok!"
"Janji?"
"Aku janji."
Saat ini, keadaannya lain. Memori itulah yang mengiris hatiku. Setelah belum lama tadi kamu meninggalkanku. Setelah dengan tak pedulinya kamu berbicara sedingin itu, lalu pergi bersama teman-temanmu sekarang.
Sekarang nada itu yang terngiang di kepalaku.
"Aku gak mau jadi sahabat kamu lagi! Kamu, tuh, gak seru banget orangnya! Lagian sahabat-sahabat aku sekarang banyak, gak cuma kamu!"
Aku masih mengingat dirimu yang dulu. Dirimu yang sebelum berjanji bersahabat dengaku adalah seseorang yang selalu kujumpai duduk di bangku belakang sendirian, menunduk. Kacamata di wajahmu, kemuraman di matamu, beban di segala ucapanmu, segala dirimu yang dulu. Kau yang bukanlah siapapun di mata orang lain, yang aku akui bukanlah orang setenar aku di waktu itu. Kau yang kubantu keluar dari lubang kesedihan dan kesepian itu.
Sekarang kamu sangat menyenangkan untuk mereka. Dan aku bukan lagi siapapun di matamu.
Aku masih punya pesan dari sahabatku yang lain. Sahabat yang sering datang padaku dan menangis di depanku. Dengan segala duka di hatinya yang tak lagi kuat, dia katakan segala isi hati itu padaku. Gadis yang cantik, cantik sekali, dan memiliki hati yang sedikit ... mudah rapuh. Kami berpisah di perpisahan kelas 6. Tapi aku dan dia masih dapat terhubung dengan sosial media yang kami punya. Dia juga gadis yang hampir sama. Gadis yang kini telah punya seseorang yang lebih dia pedulikan. Yang dia cintai dan dia harapkan selalu. Ya, kekasihnya. Bukankah indah? Pasti itu indah, itulah mengapa dia tak lagi perlu datang padaku bila hanya untuk mencurahkan isi hatinya–dia punya orang yang lebih berharga daripada aku. Dan aku tetap harus memahami dengan jalan pikiran itu saat dia mengirimiku pesan ini:



Sa, gue udah males sama pertanyaan lo yang terlalu peduli sama gue! Gue sama sekali gak ngarepin lo ngirim pesan ke gue! Kayaknya lebih baik lo gak usah nanya-nanya lagi ke gue, lo juga gak perlu lagi ngedeketin gue kalau gue dateng ke sekolah elo. Gue gak berharap lo ngedeketin gue, gak usah GR-an deh, Sa! Lebih baik elo bersikap gak kenal aja sama gue, deh! KITA bukan sahabat lagi! Oke?



Itu bukan yang kedua. Bukan juga yang terakhir. Itu hanya salah satunya. Aku tahu, cinta kadang membuat kita ingin selalu terlihat sebagai yang terbaik di depan dia yang kita cinta. Aku paham itu walau aku belum merasakan cinta seperti yang ia rasakan.
Pesan itu kadang menggores hatiku untuk beberapa kali. Mengingat gadis yang mengirimnya adalah seorang gadis cantik yang selalu ceria di depan orang lain. Gadis yang selalu ingin hanya aku yang ada di sampingnya saat dia ingin mengungkapkan segalanya. Gadis yang seringkali menitikkan air mata kepedihan itu saat mengeluarkan segala isi hatinya.
Tapi dia tetap seorang gadis cantik yang berusaha mendapat perhatian. Tak peduli bagaimana caranya.
Kau tahu, segalanya di masa lalu itu sangat indah untukku, tapi ternyata memang kita harus setiap saat siap untuk kuat saat sudah waktunya itu pergi. Karena kebahagiaan juga titipan. Karena kamu dan dia bukan yang pertama memutuskan persahabatanku sekejam itu, karena mereka yang kutolong dari lubang yang sama juga telah berubah menjadi segala yang lebih indah di mata orang lain. Mereka telah punya lebih banyak teman. Dan aku hanya kenangan, yang tak lama lagi dibuang jauh.
Tapi aku bangga. Aku ternyata berhasil, dengan persahabatan kita. Walau aku terluka, tapi ada kebahagiaan dalam diriku yang lebih besar dari segala kesedihan itu. Kemenanganku, membuatku berhasil menghindari perih itu. Dan aku tak akan mundur hanya karena luka ini.
Aku akan tetap mencari sahabat lagi yang seperti kau yang dulu. Tak akan pernah berhenti, sampai kutemukan yang sejati. 



Jumat, 19 September 2014

Reprisals Blood of the Tiger (Sinopsis)




Judul : Reprisals Blood of the Tiger 
Genre : Thriller, school life, kekeluargaan
Tipe : Cerbung


~~~~~
Oke, aku udah bilang aku malah gak inget buat bikin cerita percintaan. Salah satu alasan kenapa Kinara ketunda lanjutannya. Sebagai gantinya, mungkin horror satu ini menarik.

Lagian, ya ... aku udah lama kepikiran buat bikin horror di sini.
~~~~~ 




                     Sinopsis ...                    


Sewaktu balita, Leo kehilangan kedua orang tuanya. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan bersama anak-anak yatim piatu lainnya. Di sana, dia tak merasa kesedihan lagi setelah ditinggal kedua orang tuanya.

Hingga di suatu hari yang tak Leo sangka, di beberapa harinya setelah keluar dari panti, Leo menemukan sesuatu. Sesuatu tentang kedua orang tuanya! Hal yang membuat Leo tak menyangka segalanya terjadi begitu berbeda dari yang dia pikir selama ini. Hal itu membuat Leo tak lagi mengingat segalanya sekaligus mengingat semuanya.

Akankah kau mengakui sesuatu yang ada bertolak belakang dengan alasan keberadaan semua itu? Apakah kau mengerti? Lantas bagaimana saat fakta itu datang padamu?



Minggu, 03 Agustus 2014


Jumat, 01 Agustus 2014

Dark Forest: Chapter 2

Dark Forest
Chapter 2:
Bayangan Hitam


~~~~~
Kadang kalo tau tinggal dikit lagi ending, jadi agak buru-buru. Jadi, sori yak kalo buntut chapter 2 ini agak begitu tu ....
~~~~~



Ray membuang pandang. Dia masih belum mengucapkan apapun lagi. Sementara itu, Ara terus memandangnya dengan bingung. Mereka masih di lapangan rumput, kini duduk dan berusaha berbicara satu sama lain.

"Ray, apa yang terjadi?" tanya Ara lagi untuk yang kesekian kalinya. 

Ray tak menjawab. Dia hanya diam memandang rerumputan tinggi. 

Ara diam tak mengerti. Dia tetap memandang Ray dengan bingung. Dalam hatinya, dia masih yakin Ray tetap Ray yang dia kenal. Ray tidak berniat buruk padanya. Ray pasti punya alasan yang tetap untuk apa yang baru saja dia lakukan. 

Seperti saat itu. 

"Ray, kumohon ceritakan padaku, apa yang sebetulnya kau lakukan," pinta Ara. 

Ray tetap diam. 

"Kau tidak benar-benar berniat menculikku, bukan?" 

Ray tak menoleh. 

"Kau tidak bermaksud menyakitiku, bukan?" 

Dia tak bergeming. 

"Ray ...." Ara mendesah berat. Dia sekarang menahan air mata. Entah kenapa, sesuatu yang baru saja terjadi sedikit memukul hatinya. "Kau masih temanku, 'kan?" 

Ray menoleh, memandang Ara. Lalu dia menunduk lagi dan mendesah. Ray pun kembali menatap Ara, namun dia belum berbicara. Dia kini hanya memandang Ara dengan pnadangan yang sulit dijelaskan.

Ara tetap menatapnya, menunggunya berbicara.

Ray membuka mulutnya. Namun ternyata dia tertahan, lalu akhirnya mendesah. Dia menunduk sejenak, lalu mengangkatnya lagi menatap dalam kedua mata Ara, namun Ray tak kunjung berbicara. Dia terdiam tanpa kata-kata.

Hal itu tentu membuat Ara sangat bingung. Namun Ara berusaha menyimpan pertanyaannya. Dia menunggu Ray bebicara.

Ray memalingkan wajahnya ke samping. Tak lama kemudian memandang Ara lagi, namun dia tetap tak dapat berkata-kata. Semua kalimat seakan tersendat di tenggorokannya. Ray mengerjap penuh emosi seraya menggeleng singkat, setelah itu Ray diam memandang ke arah lain. Akhirnya dia menyerah, dia tak bisa menjelaskannya.

Ara mengerti itu. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.

"Umh ...." Ara menyentuh telapak tangan Ray yang tertutup sarung tangan. Ray menoleh padanya perlahan. "Kalau begitu, terima kasih," lanjut Ara.

Ray diam. Namun tak lama kemudian, perlahan-lahan Ray menggeser telapak tangannya dari telapak tangan Ara. "Kau seharusnya tidak berterima kasih padaku, Putri," katanya.

"Kenapa?" tanya Ara.

"Apa kau pikir aku membuatmu lebih aman? Aku pikir aku malah semakin membahayakan nyawamu." Ray mendongakkan kepalanya memandang langit dengan sedikit gelisah.

Tentu Ara tak mengerti. Tak pernah terlintas di benaknya selama mengenal Ray bahkan sampai saat ini bahwa Ray akan menyakitinya. Ara tentu hanya terdiam memandang Ray.

"Ray ... kau masih temanku, bukan?"

Ray menoleh. Kaget, tak menyangka Ara akan menanyakan hal itu, untuk kedua kalinya.

Ara tetap memandang Ray.

Suasana mulai hening. Baik Ray maupun Ara, mereka tak berbicara.

Ray berniat memecah keheningan itu. Dia membuka mulutnya, hendak berbicara lagi, namun lagi-lagi tak ada satu kata pun yang keluar. Semuanya seperti tersendat, atau bahkan menghilang begitu saja dan Ray tak punya apapun yang bisa membuatnya berbicara. Dia seperti benar-benar tercekat kalimat yang pergi begitu saja, pergi sambil mencekiknya hingga dia benar-benar tak dapat mengatakan apapun.

Ara agak terperangah. Menyadari itu, dia mulai diam lebih dalam lagi. Mungkin yang terjadi memang sulit dijelaskan, pikir Ara.

Namun begitu, Ara tetap mempertanyakan apa yang terjadi. Karena dia seharusnya tahu, dia benar-benar terlibat dengan ini.

Ara kembali menoleh pada Ray. Nampaknya Ray masih frustasi karena tak bisa menjelaskan perbuatannya.

"Sudahlah, Ray ...." Ara menumpuk telapak tangannya pelan di atas telapak tangan Ray. "Aku pasti akan tahu nanti," lanjutnya sambil memandang tangannya.

Hening. Suasana tetap hening di antara mereka berdua. Hanya ada angin yang berdesir lembut. Membawa hawa dingin malam di hutan itu.

***

Suasana di desa kerajaan begitu pekat. Dari arah perkebunan mulai muncul kabut putih pekat yang menjalar menuju rumah-rumah warga. Kabut itu menembus segalanya, masuk ke dalam rumah-rumah dengan kepekatannya. Seluruh warga mulai ketakutan dan keluar dari rumah. Namun mereka tak, tahu apa yang justru menimpa mereka karena itu.

Kabut pekat itu menjalar menuju istana kerajaan. Dia menembus begitu saja dari gerbang dan tembok tinggi pagar istana, hingga akhirnya menembus masuk dengan mudah ke dalam istana. Tak ada yang menyadarinya masuk, karena saat itu pekerja-pekerja istana yang masih tinggal pun telah tertidur. Namun beberapa saat setelah kabut itu menerpa mereka, mereka terbangun, tersentak.

"Ha ... ha ... nafasku ... terasa ... sesak ...!" ringis keras salah seorang mereka.

Semua pekerja istana merintih penuh sesak. Hingga akhirnya mereka benar-benar tak dapat bernafas dan pingsan.

Saat kabut itu memasuki kamar raja dan ratu kerajaan, mereka terbangun. Mereka tak merasa kesesakan, mereka terbangun dengan kaget tak terkira.

"I ... ini ...," Sang Ratu, Afira tak dapat melanjutkan perkataannya.

"Tidak mungkin ... tapi mereka ... ini ...," Raja Lonerare hanya dapat bergumam pada dirinya.

"Bagaimana ini?" tanya Ratu Afira sedikit panik. "Gawat! Mereka pasti sudah di gerbang istana atau lebih dekat lagi. Kita tak bisa pergi!"

"Tidak mungkin mereka datang lagi!" gretak Raja.

"Tapi bagaimana dengan ini? Ini sudah petanda! Mereka benar-benar datang! Mereka sebentar lagi datang! Kita harus bagaimana?"

Raja Lonerare hanya dapat diam.

Di halaman depan kerajaan, beberapa langkah berpijak. Mereka berjalan di sana, menuju ke dalam istana. Entah ada berapa orang di sana, atau mungkin pun mereka bukanlah manusia. Beberapa dari mereka melangkah, namun tak terdengar suara sama sekali. Kabut putih begitu tebal di sekitar mereka, namun itu sama sekali tak mengganggu pandangan mereka.

Seseorang yang berjalan sendiri di paling depan, mengulur sebelah tangannya lurus ke sampingnyamengisyaratkan mereka untuk berhenti. Semua yang berada di belakangnya pun berhenti, termasuk beberapa yang berterbangan di atas mereka. Dia berbalik menghadap pada pasukannya yang berbaris agak acak dari hadapannya sampai gerbang kerajaan. Jubah kulit yang menjuntai dari punggungnya sampai mata kakinya sedikit berkibar saat dia berbalik. Seutas senyum licik terpampang di wajahnya.

"Habisi mereka!"

***

Keadaan begitu gelap. Namun di padang rumput itu, cahaya bintang-bintang menyinari dengan terangnya. Ara dan Ray berbaring berdampingan di sana. Di antara mereka, rumput-rumput dibiarkan berdiri, membatasi keduanya. Keduanya nampak canggung, tak satu pun yang menyingkirkan rumput sekedar untuk memandang. Mereka pun lama belum berbicara.

Ara melirik ke rerumputan itu. Dia sebetulnya ingin menyibaknya dan berbicara pada Ray, namun dia ragu. Dia tak tahu apa yang sebaiknya mereka bicarakan saat ini.

Ray melirik sebentar ke rerumputan di sampingnya. Dia ingin menyingkirkan rerumputan itu sejenak dan bicara pada Ara, namun dia ragu. Dia tak tahu harus membicarakan apa.

Mereka hanya memandang bintang-bintang di langit malam. Menikmati keindahan malam yang tak berubah dengan saat pertama mereka bertemu. Ara memang kadang pun memandang bintang-bintang dari beranda kamarnya, namun tak sebanyak dan seindah di lapangan rumput ini. Sebetulnya pun dia selalu merindukan keindahan langit malam di lapangan rumput ini saat pertama kalinya dia bertemu dengan Ray. Ara selalu mengenangnya.

Ray bangun. Dia memandang rerumputan yang berdiri tepat di sebelahnya, membatasinya dan Ara. Dia masih ingin menyibaknya dan berbicara. Namun, lagi-lagi dia ragu.

Ray hanya berbicara. "Tuan Putri, apa tidak sebaiknya kita mencari tempat lain selain dalam hutan ini?"

Ara kembali melirik rerumputan itu. Perlahan, Ara bangun, duduk. "Tapi kemana? Kita tak bisa kembali ke dalam kerajaan lagi, bukan, Ray?"

Ray diam sejenak. Lalu dia berbicara lagi, "Tapi bukankah sebaiknya kita pergi dari sini? Kita tidak mungkin bermalam di hutan ini. Binatang buas ada dimana-mana."

"Tapi kita tak tahu harus kemana lagi. Biarlah untuk semalaman ini kita tidur di lapangan ini. Aku pikir di lapangan ini kita akan baik-baik saja."

"Tapi kita juga tak tahu serangga apa yang ada di lapangan rumput ini, Tuan Putri. Bahkan mungkin saja ada yang mematikan."

"Ray, tidakkah kau ingat sudah berapa lama kita di sini. Tak ada apapun terjadi pada kita. Aku pikir kita akan tetap aman di antara rerumputan ini."

"Tidak, Putri Ara, sebaiknya kita pergi saja."

Ara terdiam. Dia teringat, dia masih belum tahu alasan Ray membawanya kabur dari istana. Mungkin Ray lebih tahu apa yang terbaik saat ini, pikir Ara.

"Baiklah," balas Ara.

Ara dan Ray meletakan tangan di rerumputan yang menghalang mereka. Sejenak mereka ragu, mereka terhenti bersamaan. Saat mereka telah meyakinkan diri dan menyibak rumput itu, baik Ara maupun Ray, mereka membeku. Membisu seketika, memandang wajah satu sama lain. Terhenyak setengah kaget dan setengah ....

Secara bersamaan, mereka membuang muka. Wajah Ara nampak sedikit memerah, begitupun dengan Ray. Keduanya masih tak dapat berbicara.

Ray yang pertama keluar dari perasaannya. "Ayo, Tuan Putri!" ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Ara.

Ara menoleh. Dia memandang tangan Ray yang berada di samping lengannya sejenak, lalu memandang wajah Ray, memandang mata Ray yang memperhatikannya. Ray tak berkata-kata, hanya tetap mengulurkan tangannya. Ara mulai kembali memandang tangan Ray. Lalu, Ara menerimanya, dia meletakan tangannya di atas telapak tangan Ray.

Ray menggenggamnya dan berdiri. Ara menyusulnya. Ray melangkah lebih dulu, menuntun Ara keluar dari padang rumput. Ara hanya mengikuti langkah-langkah Ray sambil menggenggam erat telapak tangan Ray yang dibungkus sarung tangan hitam. Angin yang agak dingin berhembus menerpa mereka. Ara tampak sedikit kedinginan saat gaun tidur tipisnya tampak berkibar diterpa angin. Hal itu membuat Ray sedikit mempercepat langkahnya.

Sampai akhirnya, Ray dan Ara kini telah di dalam hutan. Ara mendekatkan dirinya pada Ray seraya mengeratkan genggaman tangannya. Ray dan Ara kini mulai melangkah memasuki kegelapan yang cukup pekat. Sayang Ray tak membawa apapun, dia memang tak banyak berpikir dan mempertimbangkan hal-hal lain selain keputusannya membawa kabur Ara.

"Ray ...," panggil Ara. "Kau yakin ... kita ... akan ...."

"Aku akan menjagamu, Tuan Putri," potong Ray. "Percayalah padaku."

Ara kini bungkam. Dia memutuskan untuk tak berbicara lagi. Kini kedua tangannya menggenggam tangan Ray.

Ray berusaha untuk mengambil langkah yang benar. Dia benar-benar meyakinkan tak ada lubang, genangan besar, batu besar atau apapun yang perlu dia hindari, bila memang ada, dia akan memberitahu Ara. Mereka tak banyak berbicara.

Dalam hati, Ray berharap dia tak mengambil jalan yang salah. Kegelapan yang semakin pekat di sekelilingnya membuatya merasa seperti berjalan dalam kebutaan, sementara Ara sedari tadi menutup rapat kedua matanya.

Srek! 

Ray dan Ara seketika berhenti. Jantung mereka berdebar cepat. Mereka begitu waspada.

Srek! Sheek! Srak! 

Ara mengeratkan pegangannya. Ray tetap berwaspada. Dia berbalik, memandang ke asal suara itu, walau percuma karena dia hanya memandang kegelapan hutan.

Srhek! Sakk! Sukk! Sreek! Sreeek! 

Suara dedaunan semak yang saling berdesir itu terdengar semakin jelas. Seakan sesuatu di sana semakin mendekati mereka. Tak ada suara lain yang terdengar.

Ray dan Ara tetap berwaspada.

Srreeeeekkk!! Shak! Sak! 

Ray dan Ara merasakan hawa dingin berhembus cukup cepat menerpa mereka. Untuk sejenak, mereka merasa lega.

"Hanya angin," gumam Ray menanggapi. Dia kembali berbalik ke depan dan kembali mengambil langkah ... tepat saat Ara memekik.

"RAY!!"

Ctas! Sesuatu yang tajam seperti melayang cepat menggores sebelah pipi Ray.

"Aah!" Ray mengusap pipinya, memang terluka.

Ara segera menarik Ray ke belakang. Ray susah-payah mengikuti langkah Ara. Ara berlari cepat menarik sebelah tangan Ray seraya sebelah tangannya mengangkat rok gaun tidurnya yang sepanjang betis. Terkadang Ara berhenti tiba-tiba dan berlari ke arah lain. Ara dan Ray hampir-hampir jatuh-bangun karena berlari dalam kegelapan. Ray yang sangat kesusahan, karena harus mengikuti Ara.

Cukup lama mereka berlarian dalam kegelapan hutan. Hingga mereka melihat sedikit cahaya, namun tak jelas juga mereka memandangentah itu memang cahaya atau hanya kunang-kunang yang sedari tadi berkelap-kelip di mata mereka. Tiba-tiba mereka terpeleset, ternyata mereka berlari ke sebuah lereng yang cukup dalam. Ray dan Ara menggelinding di lereng rumput dan tanah yang agak sedikit licin itu. Tak ada semak yang menghantam mereka, namun lantai lereng yang berselang rumput kecil dan tanah cukup membuat mereka kotor, belum lagi beberapa kerikil di lereng yang menyakitkan.

Sampainya mereka di dasar lereng itu, barulah mereka berhenti berguling. Ray mengerang ... merintih. Dia memandang Ara di depannya yang telah tak sadarkan diri. Pandangannya kabur, kepalanya sudah benar-benar pusing, tubuhnya lunglai. Kini dia sudah tak mampu lagi bangun.

Di belakang tubuh Ara yang pingsan, seseorang berjalan mendekati mereka. Ray sudah tak dapat memandang orang itu lebih jelas. Pandangan kaburnya kian samar ... semakin samar ... hingga akhirnya hanya ada hitam dalam matanya yang tertutup perlahan. 

Jumat, 11 Juli 2014

Mimpi Kehidupan (Drama)



Judul : Mimpi Kehidupan  
Genre : slice of life
Pemain : 6 aktor 
Tipe drama : short drama 
Jumlah babak, lama permainan : 1 babak, 7 menit




Tokoh-tokoh:

Bara : tukang nyanyi, tukang tidur

Michael : sahabat Bara, suka bermain gitar

Yudha : kalem, sahabat Bara, teman yang paling baik

Steff : kutu buku, bukan cowok yang rapi tapi kalem dan kepala dingin

Juan : berkacamata, cerdik, besar rasa ingin tahu, adik Steff

Dafa : humoris, murah senyum, suka makan namun tak gemuk




Babak 1:

            Menampilkan latar tempat suatu ruang santai. Terdapat sofa dan meja serta beberapa hiasan dinding. Bara sedang tidur dengan duduk bersandar sofa; Michael sedang memainkan gitar; Yudha sedang duduk santai di sebelah Bara; Steff membaca buku; Juan sedang bermain rubrik; Dafa mencomot makanan di toples beberapa kali.



Yudha : (mengganti posisinya) “Eh, kenapa kita malah jadi males-malesan begini? Tadi katanya mau ngebahas lagu baru.” (mengangkat kertas di atas meja) “Kita bahkan belom nyoret nih kertas, lho.”

Michael : “Lha, gimana mau ngebahas lagu? Tuh, vokalisnya aja tidur. Begitu nyampe rumah orang langsung ndaprak tidur begitu.” (Melirik Bara)

Yudha : (mendesah rendah) “Masa karena Bara tidur kita gak jadi ngebahas masalah band kita? Apa gunanya kita sepakatan ketemu di sini, dong, kalo gitu.”

Steff : (tetap membaca buku) “Halah, gak jauh beda tuh sama itu orang.” (melirik Dafa sekilas) “Dateng ke sini langsung makan.”

Dafa : (terkekeh) “Sori lah, Steff, kalo gangu lo. Daripada makanan di toples dipajang doang di ruang tamu, kan sayang.”

Juan : “Ah, Kak Dafa mah pinteran ngeles. Yang itu jangan diabisin semua, lho! Aku masih suka.”

Michael : “Tau lo! Otak lo isinya makanan aja. Pantes aja badan lo kurus, orang lemaknya ada di otak semua.”

Dafa : “Bilang aja lo ngiri gara-gara gue bisa tetep kurus walau makannya banyak.”

Michael : “Masa bodo. Yang penting gue masih pinter.”

Steff : (menutup buku) “Michael. Micahel. Lo emang jaim, ya. Pokoknya dimana ada cewek cakep, tingkah lo pasti langsung sok keren.”

Juan : (menurunkan rubrik dari depan wajah sambil menoleh dengan gerakan cepat) “Hah?”

Michael : “Ih, apaan, sih, lo Steff. Gue bertingkah apa adanya, tuh! Kalo emang adek lo suka ama gue, itu mah karena gue emang ganteng!”

Dafa : “Bisa aja lo, Pentongan Pos Kamling.”

Semua (kecuali Michael) : (tertawa)

Michael : “Pinter banget lo, Kurungan Ayam.”

Semua (kecuali Dafa) : (tertawa)

Yudha : “Udah. Sebaiknya kita mulai ngebahas band kita ini. Kita lagi perlu lagu, nih. Udah dua album kita rilis, kan? Nah, sekarang kita mulai di album ketiga sama lagu apa. Ada yang bisa ngusul gak, nih?”



            Juan sudah sedari tadi kembali bermain rubrik. Sekarang keadaan agak sepi karena mereka sedang berpikir-pikir. Kesunyian ini berlangsung cukup lama, banyak dari mereka bahkan beberapa kali berganti posisi pelan-pelan. Tak lama dari ucapan Yudha, Bara telah sedikit demi sedikit terlihat tak nyaman dengan tidurnya, dia mulai merasakan mimpi buruknya. Tak ada yang menyadari perubahan Bara.



Bara : (terbangun tiba-tiba seraya berteriak keras)

Semua (kecuali Bara) : (menoleh kaget ke arah Bara)

Bara : (terengah-engah karena menjerit keras)

Michael : (menenangkan Bara) “Woy … woy … tenang … tenang …. Tarik nafas dulu pelan-pelan.”

Yudha : (menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Bara)

Bara : (menerima gelas dan meminumnya)

Steff : “Bar. Lo gak papa? Teriakan lo kenceng banget tadi.”

Bara : “Iyah … gueh ghak papah, kok.” (terbatuk satu kali) “Gue gak papa.”

Dafa : “Bar, lo serius lo gak papa? Mimpi apaan, sih, lo?”

Bara : “Iya, gue emang gak papa. Tadi itu, tuh, cuma … yaaaahh … mimpi kayak biasanya, lah.”

Yudha : (serius) “Bar, asal lo inget sendiri, akhir-akhir ini lo banyak kena mimpi buruk tau, gak? Sering banget lo bangun terus teriak kejer begitu.”

Bara : “Yudha … gue serius. Itu cuma … mimpi biasalah. Orang juga kalo tidur pasti ngimpi, terus kalo udah bangun nantinya juga lupa apa yang dia impiin waktu tidur itu. Nanti juga gue lupa sama mimpi gue ini.”

Juan : “Kak Bara yakin? Bukannya Kak Bara pernah bilang akhir-akhir ini Kakak ngimpiin hal yang sama berkali-kali? Mimpi yang kayak begitu jarang-jarang juga, lho, Kak … apalagi sampe sebulan. Itu terlalu ganjil.”

Bara : (terdiam lama)

Michael : “Coba aja, deh, Bar. Tadi lo mimpiin apa?”

Bara : “Yaaaa … yang biasanya. Gue didorong cewek dari gedung, jatoh gak nyampe-nyampe bawah, terus tau-tau ada di laut. Terus tangan gue ditarik cewek yang sama, dan tau-tau gue lagi lari sama cewek itu di jalanan. Akhir-akhirnya gua ditinggal di tengah jalan, dan gue seakan berdiri secara gak sadar sama apapun. Sampe tau-tau ada kereta yang udah deket banget sama gue, dan gue kebangun.”

Dafa : “Kegantengan, sih, lo! Mau nyata mau mimpi, lo dideketin cewek melulu! Gue heran, deh. Kayaknya itu cewek gak mau lepas dari mimpi lo, Bar.”

Michael : “Ya elah, bilang aja lo ngiri. Dasar, Karet Nasi Goreng.”

Juan : (tertawa tak begitu keras)

Yudha : (memperingatkan Michael dan Dafa) “Udah, udah.” (memandang Bara) “Hmm … lo bener-bener gak ngelakuin hal lain selain itu semua.”

Bara : “Enggak juga. Lo gak denger? Gue teriak.”

Yudha : (merendah) “Yah, selain teriak.”

Bara : (kembali bersandar sambil berpikir-pikir) “Hmm … gue berusaha bicara sama cewek itu. Tapi dia cuma bilang, ‘akhirnya ketemu … akhirnya ketemu …’.”

Juan : “Mmmh … agak kedengeran kayak malaikat maut, ya.”

Dafa : “Ih, lo tuh bicara apa, sih?”

Juan : “Yah, menurut aku cewek itu kayak udah lama nyariin Bara buat ngambil nyawanya. Gitu, deh. Atau mungkin cewek itu punya niat balas dendam gitu.”

Steff : “Gak mungkin, lah. Bara emang pernah terlibat sama apaan sampe dikejar-kejar cewek yang berkali-kali pengen ngebunuh dia.”

Juan : “Tapi gak aneh juga, kan? Mimpi kadang menjadi jalan untuk bertemu walau berada di dua dunia yang berbeda. Asal Kakak tau aja, mimpi juga sering banget menjadi petanda suatu kejadian dalam hidup, baik jangka pendek atau jangka panjang.”

Dafa : “Sotoy lo.”

Juan : (pura-pura sebal) “Ya udah kalo gak percaya.”

Yudha : “Tapi itu gak mungkin juga, Juan. Bara gak segitunya punya masalah.”

Juan : “Hati-hati, lho, Kak! Walau kita pikir kita gak bikin kesalahan, tapi siapa tau orang lain udah ada yang terlanjur terluka gara-gara kita, cuma kita gak tau atau gak inget.”

Bara : (mengangguk-angguk) “Mungkin juga. Tapi siapa dia?”

Juan : “Kita mana tau. Yang ngalamin, kan, Kak Bara sendiri, jadi Kak Bara tanya ke diri sendiri aja.”

Bara : (mendesah) “Coba aja gue bisa tau. Sedikitnya, namanya aja. Seandainya gue bisa inget orangnya, mungkin kan gue bisa tau apa kesalahan gue.”

Yudha : “Tapi nyatanya enggak juga, kan, Bar.” (diam, mengheningkan keadaan untuk beberapa saat) “Mungkin begitulah kita. Selalu lupa pada kesalahan. Berpikir kita selalu melakukan yang benar, sampai tau-tau ada yang menyakiti kita. Dan saat itu pun kita masih belum sadar kesalahan kita.”

Juan : (bicara pelan) “Kak Yudha bener. Sadar gak sadar, kita pasti pernah melakukan kesalahan.”

Bara : “Seandainya gue bisa tahu apa yang gue lakuin ke dia.”

Yudha : “Mungkin hidup juga gak segampang itu. Bahkan bukannya hidup itu gak gampang? Kehidupan yang mudah itu cuma ada di sisi lain mimpi lo, Bara. Cuma mimpi dalem tidur.”