Cerbung
Minggu, 20 November 2016
A Painful Morning - [14] - Last Hour
By Arumi Cinta
Minggu, November 20, 2016
A Painful Morning, Action, Criminals, Kekeluargaan, Suspense
No comments
Cerbung
A Painful Morning
Episode 14:
Last Hour
Entah apa maksudnya. Kunta tak membawa senjata apapun. Tangan kosong ia menghadapi Ferdo. Mungkin ia kehabisan amunisi, atau karena sudah terlanjur turun, pikir Ferdo.
Ferdo seharusnya bisa meraih sebuah pistol. Tapi
tengah-tengah ruangan di lantai empat ini sungguh bagaikan arena duel untuknya—bersih, tak ada apapun
selain lantai berdebu dan partikel bekas ledakan.
Ferdo pikir ia bisa mengulur waktu. Karena beberapa polisi
kini mulai sadar dan membantunya. Mengejutkannya, senapan mereka telah
kehabisan peluru, sepertinya mereka terlalu ceroboh untuk menghabisi amunisi,
sebelumnya. Karena itu, mau tak mau mereka harus menyerang Kunta tanpa senjata
apapun lagi.
Ferdo agak tak menyangka lawannya cukup kuat. Ternyata
sekian banyak orang melawan Kunta yang seorang diri seolah bukan apa-apa untuk
penjahat sebaya Ferdo itu.
A Painful Morning - [13] - Before the Goodbye
By Arumi Cinta
Minggu, November 20, 2016
A Painful Morning, Action, Criminals, Kekeluargaan
No comments
Cerbung
A Painful Morning
Episode 13:
Before the Goodbye
Ruangan kini tersamarkan. Hanya nampak debu-debu dan kabut. Udara kini menyesakkan paru-paru untuk beberapa saat. Darwan terbatuk, ditutupinya mulut sebentar kemudian kembali dengan tangannya yang lain, menjaga Salinda erat-erat.
Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya pusing. Darwan meraih
pelipisnya dan menyadari noda merah membekas ke jarinya.
A Painful Morning - [12] - The On-Timing Man
By Arumi Cinta
Minggu, November 20, 2016
A Painful Morning, Action, Criminals, Kekeluargaan
No comments
Cerbung
A Painful Morning
Episode 12:
The On-Timing Man
Orang-orang di sekitar sangat kebingungan. Mereka tak tahu apapun. Lalu tiba-tiba segerombolan polisi datang dan menyuruh mereka menjauh, jauh sekali dari sebuah ruko yang hari itu nampak tak buka.
“Bukankah pemiliknya hanya sedang pergi?”
“Mungkin keluarga itu sebetulnya kriminal!”
“Tidak! Mustahil! Mereka sangat baik! Aku kenal keluarga itu
sejak dulu masih bujangan!”
“Sepertinya ini sangat genting. Lihat seberapa banyak pria
berseragam hitam itu! Dan coba lihat senjata-senjata yang mereka bawa itu!”
“Benar. Kurasa ini lebih dari apa yang kita pikirkan.
Sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman. Ayo!”
A Painful Morning - [11] - Tell Me the Reason!
By Arumi Cinta
Minggu, November 20, 2016
A Painful Morning, Criminals, Kekeluargaan, Suspense
No comments
Cerbung
A Painful Morning
Episode 11:
Tell Me the Reason!
Itu sudah 11 tahun yang lalu. Saat itu sang pemuda masih belia. Sewaktu kecilnya, ia agak berbeda dengan anak-anak seumurannya, ia lebih terlihat lebih terpatri dengan keluarga daripada bermain dengan kawan-kawan sebayanya.
A Painful Morning - [10] - Half-Lived Girl
Cerbung
A Painful Morning
Episode 10:
Half-Lived Girl
Telah kering air matanya. Tak lama
waktu yang dibutuhkannya untuk menumpahkan kegelisahan. Mungkin itu karena ia
sudah beberapa kali terbangun di tengah malam dan menangis setelahnya.
Kedua mata Salinda tertutup. Wajahnya memandang ke dinding
di seberang rak. Kunta mendongak, memandang wajah Salinda yang lembut.
“Apa kau tidur?” tanya Kunta.
Selasa, 03 Mei 2016
A Painful Morning - [9] - Blurry Founded
Cerbung
A Painful Morning
Episode 9:
Blurry Founded
| Da |
Di dapat kembali pesan penting ke kedua polisi di kursi
belakang.
“Kembali, ini dari
Kepala Kepolisian. Ada laporan dari kepolisian sekitar Jakarta dan Bandung.”
Senin, 25 April 2016
A Painful Morning - [8] - Second Guardian
Cerbung
A Painful Morning
Episode 8:
Second Guardian
Kunta tak perlu bertanya lagi. Ada
sedikit sekali sisa ruangan yang masih dapat mereka gunakan. Untuk menyimpan
tawanan, Kunta rasa hanya ada satu ruangan yang cukup pantas saat ini.
Kunta meraih handel pintu dengan sebelah tangannya. Tangannya
yang lain membawa laptop. Cklek ...
dibukanya pintu dan didapatinya seorang gadis yang terkapar di salah satu sudut
di antara ujung rak dan dinding. Kunta masuk dan menutup pintu kembali.
Ia berjalan dua langkah saja. Setelahnya ia langsung duduk
bersila. Poisinya menghadap lurus ke arah rak, dan walaupun punggungnya sudah
menempel dengan dinding, kakinya tak berjarak jauh dari rak.
Kunta meletakkan laptop di pangkuannya. Ia kembali memandang
ke arah layar laptop. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang Kunta tak lagi menggunakan
tetikus, namun ia tetap membawa headphone-nya.
Minggu, 17 April 2016
A Painful Morning - [7] - Poison!
Cerbung
A Painful Morning
Episode 7:
Poison!
Salinda berdiri di tengah ruangan dengan kaki gemetar. Sangat bergemetar, hingga Salinda pikir hanya ini saja yang mampu dilakukannya. Tubuhnya terasa agak dingin, tapi di saat yang bersamaan ia merasa seperti sedang demam.
Brug!
Nudira mengangkat kepalanya. Ia lihat Salinda tergeletak di
lantai.
“Kau tidak sedang meminta belas kasihan, bukan?” olok Nudira
menyeringai.
Salinda tak merespon apapun. Nudira pun menyadari wajah
gadis itu yang sangat pucat. Instingnya menangkap dengan cepat bahwa ada yang
tidak beres di sini.
Baru saja pemuda itu bangkit dari kursi, Bara memasuki
ruangan. Segera, pandangan Nudira beralih padanya. Wajah Bara tetap datar,
walau ia telah melihat sandra mereka meringkuk lemah di tengah ruangan.
Bara bergumam, “Umurnya sudah tak lama, ya.”
Sabtu, 09 April 2016
A Painful Morning - [6] - Second Hour
Cerbung
A Painful Morning
Episode 6:
Second Hour
Selagi banyak waktu untuk menunggu, Bara
memutuskan mengecek persenjataannya. Tak seluruhnya, tapi sedikit bagian dari
yang ada di persediaannya telah dipindahkan ke bangunan ini sejak semalam.
Bukan hanya persedian senjata, tapi juga obat-obatan dan beberapa dokumen.
Bangunan ini masih memiliki banyak ruangan yang cukup kosong
di lantai tertingginya. Tepatnya, dua lantai yang paling atas. Bangunan ini
memiliki lima lantai.
Bara menghampiri rak obat-obatannya. Raknya sejak awal telah
di situ, tetapi kosong, jadi Bara meletakan obat-obatannya di situ. Ruangannya
berwarna putih. Ubinnya, dindingnya, langit-langitnya, apalagi cahaya lampunya;
semuanya putih.
Dua baris rak telah penuh. Itu sangat sedikit dari perediaan
Bara, sebetulnya.
Mungkin terasa tak perlu. Toh, mereka hanya meminjam tempat
ini untuk setengah malam dan tiga jam saja. Tapi di paling awal, Bara tak
berpikir semuanya akan berjalan jauh lebih mudah. Rencananya untuk menculik
anak si pengusaha, bukan dirancangnya seperti ini.
Jumat, 01 April 2016
A Painful Morning - [5] - A Rush Call
Cerbung
A Painful Morning
Episode 5:
A Rush Call
Beberapa waktu lalu, sang ayah telah memisahkan diri. Ketiga anaknya menyusul keluar rumah. Ibu mereka sempat menghampiri sebelum mereka menaiki mobil.
Wajahnya penuh kekhawatiran. Ia menepuk pundak Darwan lembut seraya bertanya, “Kemana Ayah kalian pergi? Mau kemana kalian? Apa kalian sudah tahu dimana Salinda? Biarkan ibu ikut dengan kalian.”
“Maaf, Ibu, sebaiknya Ibu tetap di rumah, kami pasti kembali dengan Salinda,” ujar si sulung sambil menggenggam telapak tangan keriput ibunya.
“Apa sungguh Salinda diculik? Apa maksudnya mereka melakukan ini? Ya ampun, Nak, Ibu tidak bisa tenang memikirkannya,” resah sang ibunda degan isak tangisnya.
Wajahnya penuh kekhawatiran. Ia menepuk pundak Darwan lembut seraya bertanya, “Kemana Ayah kalian pergi? Mau kemana kalian? Apa kalian sudah tahu dimana Salinda? Biarkan ibu ikut dengan kalian.”
“Maaf, Ibu, sebaiknya Ibu tetap di rumah, kami pasti kembali dengan Salinda,” ujar si sulung sambil menggenggam telapak tangan keriput ibunya.
“Apa sungguh Salinda diculik? Apa maksudnya mereka melakukan ini? Ya ampun, Nak, Ibu tidak bisa tenang memikirkannya,” resah sang ibunda degan isak tangisnya.
Kamis, 24 Maret 2016
A Painful Morning - [4] - First Knife-Cutted
Cerbung
A Painful Morning
Episode 4:
First Knife-Cutted
Sudah beberapa waktu lalu. Sekarang bekas tamparannya tak lagi terasa panas, namun Salinda tetap memiliki alasan untuk mengerang kesakitan. Dan setiap kali ia memberanikan diri membuka mata, tak lagi didapatinya wajah hangat pemuda itu. Dia kini menyeringai melihat penderitaan di depan matanya.
Namun ia mendengus sekarang. “Aku lelah. Kita bicara saja, oke? Kau bisa tanyakan sesuatu sekarang.”
Tak ada pertanyaan. Salinda bahkan takut salah bicara.
“Kita akan di sini selama dua jam lebih. Itu waktu yang sangat lama kalau kita menunggu.”
Namun ia mendengus sekarang. “Aku lelah. Kita bicara saja, oke? Kau bisa tanyakan sesuatu sekarang.”
Tak ada pertanyaan. Salinda bahkan takut salah bicara.
“Kita akan di sini selama dua jam lebih. Itu waktu yang sangat lama kalau kita menunggu.”
Rabu, 16 Maret 2016
A Painful Morning - [3] - Messaging
Cerbung
A Painful Morning
Episode 3:
Messaging
Pagi hari jadi tak setenang biasanya. Seharunya, saat ini pemilik rumah tengah duduk manis menyantap sarapan hangat di meja makan. Namun, hari ini tak ada yang menjamah sarapan.
Seisi rumah berkeliaran. Ruangan demi ruangan diperiksa. Ada banyak ruangan di dalam satu rumah yang besar tersebut, namun dengan banyaknya pekerja di sana pencarian cukup singkat. Walau berakhir dengan tak memuaskan.
“Nona Salinda tak ada di sekitar kamar.”
“Nona Muda juga tak ada di ruang kerjanya.”
“Nona juga tak ada di ruang musiknya.”
“Sepertinya juga tak ada di sekitar halaman depan.”
“Halaman samping juga kosong.”
“Halaman belakang tak ada siapapun. Para tukang kebun rumah ini juga belum datang, Tuan.”
Sang bapak pemilik rumah. Mulai memijat keningnya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Namun tidak adanya sang putri sangat mengkhawatirkannya.
Tidak mungkin putrinya pergi keluar sebelum semua orang bangun. Ia tahu pasti gadis seperti apakah putrinya.
Putriku ....
Terbesit pemikiran mengerikan tentang anaknya. Tuan Jumanta setengah mati tak rela anaknya menjadi korban kejahatan.
Ia tentu tahu, orang kaya banyak bahayanya. Tapi dari keempat anaknya, kenapa harus yang ini? Yang manapun juga, ia tak rela, namun Salinda ... bahkan sarapannya yang nampak sangat lezat berubah menjadi tuna kadaluwarsa dimatanya yang membuatnya enggan menyentuh seujung sendok pun.
“Tuan. Tuan Jumanta. Tuan tidak apa-apa?”
“Wajah Tuan pucat, sebaiknya Tuan menghabiskan sarapan Tuan dulu.”
Ditengah semuanya, telepon rumah yang tepat di sampingnya berdering. Karena sedang tak sabar, pria 50-an itu menyambar gagang telepon sebelum pelayannya sempat mendekat.
Ia berusaha terdengar tenang. “Kediaman kami sedang sibuk, jadi ....”
“Anakmu akan mati.”
Emosi Jumanta sangat tersulut. Namun dengan akal sehatnya, ia merubah umpatan asal yang akan ia katakan dengan seruan menggelegar yang lain.
“KAU PRIA SIALAN!! DIMANA PUTRIKU?!!”
Seluruh pelayan sampai terperanjat mendengarnya. Bulu kuduk mereka meremang. Umpatan Tuan Jumanta sungguh bagaikan guntur.
“Dia tak apa untuk sekarang. Tapi kalau kau ingin ia kembali, aku minta kau datang dengan uang satu miliyar rupiah, tidak kurang. Kami tunggu di sebuah ruko perfotoan, Bandung ....”
“BAJINGAN!! JANGAN PERNAH KAU MENYENTUH PUTRIKU SEUJUNG RAMBUTPUN!!”
“Tidak mungkin tidak kami lakukan, apalagi kalau kau datang terlambat. Kami juga punya batas kesabaran untuk menunggu.”
Tuan Jumanta kembali terdiam. Dari perkataan datar dan tenang yang ia dapatkan, Jumanta sendiri justru merinding. Kini ia mulai kembali khawatir akan keadaan putrinya.
“Waktunya! Kapan sebetulnya waktu yang kau tetapkan?!” Tuan Jumanta masih berteriak, namun tak menggelegar seperti sebelumnya.
“Pukul 9 pagi, jam waktu Bandung.”
Klik! Tut ... tut ... tut ....
Informasi itu setidaknya sudah cukup. Satu miliyar. Jam 9. Di Bandung.
Sekarang sudah hampir jam 7. Tepatnya, sisa waktu Jumanta hanya 2 jam lagi. Tapi mereka tinggal di Jakarta. Belum lagi mengambil uang di bank. Belum lagi kalau mengantri mengambil uang. Belum lagi kalau macet.
“Kami mendengar teriakan Ayah. Ada apa?”
Tiga anaknya mendekat. Di belakang mereka, beberapa pelayan mengikuti.
Tuan Jumanta menghela nafas dengan berat hati. Ia benar-benar terlihat seolah tercekik oleh takdir putrinya di sana.
Kakak tertua, pria dewasa 27 tahun mengangkat suaranya. “Ini pasti penculikan. Mereka meminta tebusan, bukan? Baru saja mereka menelpon Ayah. Begitu, bukan?”
“Kita harus laporkan hal ini pada polisi, Ayah!” putri bungsu berbicara. “Kami akan pergi ke kantor polisi! Kita akan biarkan polisi menangkap para penculik itu!”
“Tidak, Melia.” Tuan Jumanta melangkah pergi. Anak-anaknya mengikuti langkahnya, begitupun beberapa pelayan pribadi mereka masing-masing.
Langsung anak kedua, putra 23 tahun bertanya lugas, “Apa maksud Ayah? Apa Ayah berencana untuk benar-benar memberikan uang yang mereka minta itu?”
“Niala! Tolong segera ambilkan kunci mobilku di ruang kantor! Yang mana saja!” seru Tuan Jumanta keras.
Putra keduanya bersikeras. “Ayah sungguh akan mengambil uangnya?! Jawablah Ayah!”
Mereka ke depan rumah, menuju garasi. Seketaris Tuan Jumanta berlari mengejar tuannya dan memberikan kunci mobil.
“Yang mana ini?” Tuan Jumanta tak menghentikan kakinya, bahkan saat menerima kunci dan bertanya.
“Sedan putih, Tuan.”
“Terima kasih.”
“Ayah! Ayah akan kemana?” Putri bungsunya turut bersikeras.
Tuan Jumanta berkata, “Kita tak tahu hal seburuk apa yang akan menimpa Salinda. Karena itu kita tak punya banyak pilihan.”
Dihampirinya salah satu mobil.
“Aku mengerti, Ayah,” sahut si sulung. “Ferdo, Melia, ikut aku! Kita harus ke kantor polisi secepatnya!”
Kedua adik pria itu hanya terdiam dengan wajah kusut. Namun mereka sudah cukup dewasa untuk tak terlalu mendesak jawaban dari kakak dan ayah mereka.
Seisi rumah berkeliaran. Ruangan demi ruangan diperiksa. Ada banyak ruangan di dalam satu rumah yang besar tersebut, namun dengan banyaknya pekerja di sana pencarian cukup singkat. Walau berakhir dengan tak memuaskan.
“Nona Salinda tak ada di sekitar kamar.”
“Nona Muda juga tak ada di ruang kerjanya.”
“Nona juga tak ada di ruang musiknya.”
“Sepertinya juga tak ada di sekitar halaman depan.”
“Halaman samping juga kosong.”
“Halaman belakang tak ada siapapun. Para tukang kebun rumah ini juga belum datang, Tuan.”
Sang bapak pemilik rumah. Mulai memijat keningnya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Namun tidak adanya sang putri sangat mengkhawatirkannya.
Tidak mungkin putrinya pergi keluar sebelum semua orang bangun. Ia tahu pasti gadis seperti apakah putrinya.
Putriku ....
Terbesit pemikiran mengerikan tentang anaknya. Tuan Jumanta setengah mati tak rela anaknya menjadi korban kejahatan.
Ia tentu tahu, orang kaya banyak bahayanya. Tapi dari keempat anaknya, kenapa harus yang ini? Yang manapun juga, ia tak rela, namun Salinda ... bahkan sarapannya yang nampak sangat lezat berubah menjadi tuna kadaluwarsa dimatanya yang membuatnya enggan menyentuh seujung sendok pun.
“Tuan. Tuan Jumanta. Tuan tidak apa-apa?”
“Wajah Tuan pucat, sebaiknya Tuan menghabiskan sarapan Tuan dulu.”
Ditengah semuanya, telepon rumah yang tepat di sampingnya berdering. Karena sedang tak sabar, pria 50-an itu menyambar gagang telepon sebelum pelayannya sempat mendekat.
Ia berusaha terdengar tenang. “Kediaman kami sedang sibuk, jadi ....”
“Anakmu akan mati.”
Emosi Jumanta sangat tersulut. Namun dengan akal sehatnya, ia merubah umpatan asal yang akan ia katakan dengan seruan menggelegar yang lain.
“KAU PRIA SIALAN!! DIMANA PUTRIKU?!!”
Seluruh pelayan sampai terperanjat mendengarnya. Bulu kuduk mereka meremang. Umpatan Tuan Jumanta sungguh bagaikan guntur.
“Dia tak apa untuk sekarang. Tapi kalau kau ingin ia kembali, aku minta kau datang dengan uang satu miliyar rupiah, tidak kurang. Kami tunggu di sebuah ruko perfotoan, Bandung ....”
“BAJINGAN!! JANGAN PERNAH KAU MENYENTUH PUTRIKU SEUJUNG RAMBUTPUN!!”
“Tidak mungkin tidak kami lakukan, apalagi kalau kau datang terlambat. Kami juga punya batas kesabaran untuk menunggu.”
Tuan Jumanta kembali terdiam. Dari perkataan datar dan tenang yang ia dapatkan, Jumanta sendiri justru merinding. Kini ia mulai kembali khawatir akan keadaan putrinya.
“Waktunya! Kapan sebetulnya waktu yang kau tetapkan?!” Tuan Jumanta masih berteriak, namun tak menggelegar seperti sebelumnya.
“Pukul 9 pagi, jam waktu Bandung.”
Klik! Tut ... tut ... tut ....
Informasi itu setidaknya sudah cukup. Satu miliyar. Jam 9. Di Bandung.
Sekarang sudah hampir jam 7. Tepatnya, sisa waktu Jumanta hanya 2 jam lagi. Tapi mereka tinggal di Jakarta. Belum lagi mengambil uang di bank. Belum lagi kalau mengantri mengambil uang. Belum lagi kalau macet.
“Kami mendengar teriakan Ayah. Ada apa?”
Tiga anaknya mendekat. Di belakang mereka, beberapa pelayan mengikuti.
Tuan Jumanta menghela nafas dengan berat hati. Ia benar-benar terlihat seolah tercekik oleh takdir putrinya di sana.
Kakak tertua, pria dewasa 27 tahun mengangkat suaranya. “Ini pasti penculikan. Mereka meminta tebusan, bukan? Baru saja mereka menelpon Ayah. Begitu, bukan?”
“Kita harus laporkan hal ini pada polisi, Ayah!” putri bungsu berbicara. “Kami akan pergi ke kantor polisi! Kita akan biarkan polisi menangkap para penculik itu!”
“Tidak, Melia.” Tuan Jumanta melangkah pergi. Anak-anaknya mengikuti langkahnya, begitupun beberapa pelayan pribadi mereka masing-masing.
Langsung anak kedua, putra 23 tahun bertanya lugas, “Apa maksud Ayah? Apa Ayah berencana untuk benar-benar memberikan uang yang mereka minta itu?”
“Niala! Tolong segera ambilkan kunci mobilku di ruang kantor! Yang mana saja!” seru Tuan Jumanta keras.
Putra keduanya bersikeras. “Ayah sungguh akan mengambil uangnya?! Jawablah Ayah!”
Mereka ke depan rumah, menuju garasi. Seketaris Tuan Jumanta berlari mengejar tuannya dan memberikan kunci mobil.
“Yang mana ini?” Tuan Jumanta tak menghentikan kakinya, bahkan saat menerima kunci dan bertanya.
“Sedan putih, Tuan.”
“Terima kasih.”
“Ayah! Ayah akan kemana?” Putri bungsunya turut bersikeras.
Tuan Jumanta berkata, “Kita tak tahu hal seburuk apa yang akan menimpa Salinda. Karena itu kita tak punya banyak pilihan.”
Dihampirinya salah satu mobil.
“Aku mengerti, Ayah,” sahut si sulung. “Ferdo, Melia, ikut aku! Kita harus ke kantor polisi secepatnya!”
Kedua adik pria itu hanya terdiam dengan wajah kusut. Namun mereka sudah cukup dewasa untuk tak terlalu mendesak jawaban dari kakak dan ayah mereka.
***
Kembali ke ruangan hitam. Seorang pemuda baru saja menutup pintu. Melihat wajah pemuda itu, Salinda ingat betul kejadian malam lalu.
Tapi air mukanya sangat berbeda. Dingin. Seperti wajahnya di akhir kesadaranku tadi malam, bathin Salinda.
Pemuda di dekat Salinda berjalan mendekatinya. Katanya, “Kau jarang sekali bertemu orang lain kalau tak ada apapun. Ingin memberi sambutan?”
Terlihat, ia membalas dengan lirikan tak acuh. “Kau menceritakan semuanya, hm?”
“Itu tak apa. Sudahlah.”
Itu tak apa. Salinda yakin pasti, dia tak akan dibiarkan keluar dari tempat ini dalam keadaan bernafas bersama informasi penting yang mereka berikan pada ingatannya.
“Baiklah, Bara, apakah ada yang ingin kau katakan pada sandra manis ini?”
Kata “manis” tak menyanjung Salinda. Ia justru kini menundukkan kepala lagi, karena menyadari bahwa kedua penjahat di depannya memperhatikannya.
Beberapa saat setelahnya, pemuda di depan pintu berjalan mendekati gadis di tengah ruangan. Salinda ingin bergeser mundur, namun kalau dipikir lagi, itu percuma saja. Pemuda itu berhenti di depannya, berdiri beberapa senti dari Salinda.
“Berdiri.”
Ragu-ragu, Salinda bangun. Wajahnya terus menunduk, tak berani bertatap mata dengan si dalang kejahatan ini.
“Hanya satu pertanyaan.”
Pemuda di belakang hanya memperhatikan. Tapi tak sedang tersenyum.
“Apa kau pernah berfikir pagi ini kalau kau telah melakukan kesalahan?”
Salinda diam sejenak. Ia merasa jawabannya akan berpengaruh besar. Namun tak lama setelah ditanya, Salinda menjawab, “Tidak.”
“Hm.” Pemuda di depan Salinda mengangkat tangan. Ia tak menyentuh wajah Salinda, namun memberi isyarat agar Salinda mengikuti tangannya dan mengangkat wajahnya.
Terlintas ingatan semalam kala Salinda melihat wajahnya.
Plak!
“Ah!”
Pemuda di belakang sana bergumam sakartis. “Ooooww ....”
Sedikit terbawa ke samping, namun masih cukup seimbang berdiri. Salinda memegangi sebelah pipinya yang terasa pedih. Pipinya merah, merah sekali.
“Aku memandang matamu bukan untuk memperhatikan air mata.”
Salinda kini semakin menunduk. Ia berusaha menutupi kedua matanya.
Pemuda itu kembali ke pintu. Keluar dan menutup kembali pintu.
Satu lagi di dalam ruangan. Ia mendekati gadis yang masih meringis kesakitan di sana, ia berbicara sambil berjalan.
“Sepertinya kulitmu sangat sensitif, ya,” tanggapnya. “Pipimu langsung berubah kemerahan begitu. Ah, Bara juga menamparmu terlalu keras sepertinya.”
Melihat pemuda itu mendekat, Salinda melangkah menjauh. Namun entah kenapa ia sedikit terhuyung.
“Dasar kau ini. Terus saja berusaha menjauh dariku.”
Tiba-tiba kepala Salinda mendongak dengan paksa. Rambutnya tertarik. Ia nyaris menjerit karena kesakitan.
“Diam,” bisik si pemuda, untuk pertama kali kepada Salinda, dengan nada yang dingin.
Salinda hanya bisa merapatkan kedua matanya.
Next episode
First Knife-Cutted
~~~~~
Apa cuma aku sendiri yang ketawa?
Waktu Salinda ditampar dan si cowoknya
bilang, "Ooww ...."
Waktu Salinda ditampar dan si cowoknya
bilang, "Ooww ...."
Selasa, 08 Maret 2016
A Painful Morning - [2] - Sweet Chirp
Cerbung
A Painful Morning
Episode 2:
Sweet Chirp
Ruangan yang cukup terang. Namun sangat sunyi. Rasanya tak terlalu luas atau juga sempit, tapi tak ada barang. Salinda mencoba membuka matanya. Ia mendapati dirinya tergeletak di lantai.
Ruangan ini terang. Namun, warna dinding di setiap sisinya, termasuk langit-langit dan lantainya, berwarna hitam polos, membuat kesan ruangan yang gelap dan luas.
Salinda melihat sebuah pintu putih. Ada sebuah bangku di dekat pintu itu. Salinda berpikir untuk keluar, namun dia tahu pasti ada dua hal yang akan terjadi: pintunya terkunci, atau tidak namun sesuatu yang buruk akan terjadi padanya di luar pintu.
Salinda tahu pasti ia ada di situasi seperti apa.
Senin, 29 Februari 2016
A Painful Morning - [1] - A Night Before
Cerbung
A Painful Morning
Episode 1:
A Night Before
Waktu menunjukkan pukul 2 malam. Di saat ini, orang-orang masih terlelap tenang. Bahkan untuk orang-orang yang tak punya banyak waktu untuk tidur, mayoritas mereka memutuskan beristirahat di jam segini.
Salinda bangkit dari ranjangnya. Ia terbangun lagi malam ini. Dan rasanya, kali ini ia tak bisa tidur kembali.
Selasa, 09 Februari 2016
A Painful Morning (Preface)
Preface,
Sebuah cerita bersambung
A Painful Morning
Ini deskripsi pembuka dari penulis.
A Painful Morning merupakan up coming cerbung. Karena ini merupakan cerita bersambung, maka dari sesi cerita ke cerita selanjutnya saya sebut episode (bukan bab atau chapter, karena ini bukan novel seperti Dark Forest atau part-novel seperti Blue-Cold Glass).
Plotnya menggunakan time-trap plot. Seperti apa time-trap plot itu? Nanti juga akan tahu ( ^_^ ini adalah kesan yang di dapat dari ceritanya, jadi sebaiknya tidak dijelaskan di awal).
Rencananya, per episode akan dilanjutkan setiap 8 hari. Tapi mungkin kalau cerita ini menarik perhatian, bisa dipercepat lagi kelanjutan ceritanya.
Cerita ini tidak benar-benar dalam penulisan. Saat ini, sudah ditulis sampai episode 11 dari total hanya belasan episode saja. Dan saya berusaha untuk membuat ceritanya tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit sehingga dapat lebih nyaman dibaca.
Episode pertama akan dimulai minggu depan! Jangan ketinggalan!

