Writer: Arumi Cinta "Hanya agar sebuah hobi kecil tak akan mereka sebut percuma"

Senin, 30 November 2015

Selamat Ulang Tahun, Mama



Senin, 30 November 2015

Pukul 9:29 PM





Kali ini aku menoleh ke samping. Sekedar melihat sebuah tumpukan buku dengan beberapa helai kain di atasnya. Pada akhirnya aku mendengus dan membereskannya baru kemudian melanjutkan mengetik.

Aku menyadari bahwa buku pelajaranku belum siap. Kuputuskan menghampiri lemari buku, saat itu aku melewati Mama di ruang tengah. Mama tengah tertidur di sofa. Televisi masih menyala, memutar sinetron kesukaan Mama. Kala aku akan berjalan kembali ke kamar, Mama terbangun dan melihatku.

“Oh ...,” kata Mama. “Mama ketiduran, ya.”
  
Aku menoleh. “Iya, dari tadi Mama tidur di situ, Ma.”

“Kamu kok pake kacamata Bapak? Emangnya matanya min?”

Aku sudah berdiri sejak awal Mama bicara. Sekarang aku sudah kembali di kamar. “Ini kacamata punyaku, Ma. Tadinya kan beli soalnya laptopnya gak bisa dikurangin kecerahannya, nah, sekarang udah bener itu laptopnya. Ini udah lama gak dipake. Ini bukan min, cuma kacamata buat gaya-gayaan.”

Tapi aku tak menggunakan kacamata ini untuk bergaya. Kadang aku masih khawatir untuk terpapar cahaya laptop secara langsung, jadi kugunakan lagi sesekali saat mengetik.

Dan kacamataku tidak terlihat sejadul itu. Kacamata yang papaku beli saja yang kekinian. Tapi model kacamataku ataupun kacamata Papa tidak terlalu modern seperti kedengarannya, tetap simpel, hanya frame-nya saja yang berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari plastik. Walau begitu, Papa masih punya beberapa kacamata yang frame-nya besi, khas model kacamata klasik.

Selama beberapa menit berlalu, aku tetap berkutat dengan laptop. Aku tidak tahu pasti sebetulnya apa yang ingin kutulis, tapi aku mencoba untuk tetap menulis beberapa kata yang terpintas dalam pikiranku.

Sebetulnya aku sudah bersikeras. Sudah sejak beberapa hari lalu aku memikirkan apa yang akan kutulis hari ini. Tapi buntu. Berjuta gagasan hanya berterbangan di atas rambut hitamku yang tipis.

Ini tak semudah sebelumnya. Sebelumnya saat aku menulis untuk Abiem, adikku di ulang tahunnya. Hanya perlu ingatan kecil dan aku dapat apa yang harus kukatakan, dan aku menceritakannya dalam sebuah cerita semi-transparan tentang kami berdua.

Aku bukan anak yang baik. Aku akui itu. Aku masih belum bisa menjadi seorang anak yang sangat baik untuk orang tuaku. Tapi aku selalu berharap aku bisa membanggakan mereka suatu hari nanti.

Tangis. Tawa. Caci. Keluh. Tapi masih ada hati untuk keluarga kecilnya. Kadang itu membuatku bingung tentang apa yang harus kukatakan.

Kudengar dengkur lembut suara Mama. Mama tengah tertidur pulas lagi di sofa. Aku hanya bisa mendengus seraya tersenyum tipis.

Hari ini, 30 November, adalah ulang tahun Mama. Maaf untuk segala yang pernah kulakukan, dan terima kasih untuk segala yang telah kau lakukan. 

Selamat ulang tahun, Mama. 


 

Kamis, 08 Oktober 2015

Blue-Cold Glass (7.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 7, Part 1 
--—Detik Penderitaan—--





Sementara kusadari kobaran api di sekelilingku, aku tak bisa merasakan panas lagi. Tubuhku sudah terasa dingin. 

Aku melirik potongan tubuh di atas permadani. Aku hanya bisa memandang begitu saja karena pandanganku pun sudah mulai kabur. 

Aku sudah tahu. Aku juga akan menyusul mereka. Aku sudah tak akan bisa melakukan apapun. Aku akan mati! Mati! 

Aku mulai tak sadar. 

Dan samar-samar kemudian, kudengar suara seseorang. Saat sadar, aku sudah ada di rumah sakit, dan beberapa hari kemudian dokter mengatakan padaku semuanya. Menyadari bahwa sekarang aku sudah menjadi anak sebatang kara, rasanya seakan kehidupanku sudah lumpuh. 

Kenapa? Aku seharusnya mati beberapa waktu lalu itu. Dan sekarang aku masih hidup. Sendirian. Terpisah dari mereka semua. Mereka yang kucintai. Kenapa harus sekejam ini? Kenapa harus aku? 

Kenapa? 


Blue-Cold Glass (6.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 6, Part 1 
--—Kembali pada Rencana—--





Tentu malam itu juga aku harus mengatasi lukaku. Mengeluarkan peluru, membersihkan luka, mengobatinya, serta menutupnya dengan kain kasa dan perban. Tentu juga, itu tak mudah. 

Belum pernah aku tertembak seperti ini. 

Selesainya, kuletakkan kotak P3K itu di atas meja di dekat ranjang. Sebelumnya, kupikir aku tak akan pernah membutuhkan peralatan medis sederhana itu. Walau memang tak pernah terluka di tengah rencana begini, aku memang tak pernah berniat membuang kotak itu dan sesisinya. 

Aku merebahkan diri. Dalam hati, aku masih tak percaya malam ini aku benar-benar selelah ini. Aku bahkan tak sedikit pun berniat menyentuh agendaku, aku sudah terlalu lelah. 

Snow White melompat ke atasku. Dia mengeong padaku. Aku tak berniat mengacuhkannya, tapi aku juga tak tahu apa yang Snow White inginkan sekarang. Jadi aku hanya menutup mataku. 

Perlahan aku mulai tertidur. Namun saat kedua kalinya Snow White mengeong, aku membuka mataku lagi untuk menyadari Snow White ada di sisi wajahku, mengusapkan wajahnya di pipiku. Aku pun hanya bisa membiarkan kucing kecil itu meringkuk manja di bahuku, dan lalu tidur di sisiku. 

***


Minggu, 16 Agustus 2015

Blue-Cold Glass (5.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 5, Part 2 
--—Jeritan Malam—--






Keadaan di sekitar sekolah tak sesepi lingkungan rumahku. Belum lama beberapa toko di sekitar situ menutup pintu depan mereka. Perlahan, dari jarak yang masih jauh dari gerbang sekolah, aku berjalan ke sana. Kulihat beberapa bapak-bapak keluar dari gerbang sekolah. Mereka berbicara sebentar dengan penjaga sekolah, lalu pergi. 

Kurasa pihak kepolisian tak mencurigai apapun. Juga untuk berpikir bahwa ada lagi korbannya malam ini. 

Aku tak secepat itu mengambil asumsi barusan. Sejenak aku berhenti dan bersembunyi di teras sebuah toko yang gelap. Kuperhatikan sekitar lalu memperhatikan gerak-gerik mereka sembunyi-sembunyi. 

Tak ada tanda-tanda mereka akan berpencar. Tak ada sandi tertentu juga yang mungkin menandakan sesuatu pada seseorang di kejauhan. Mereka hanya segera masuk ke mobil setelah saling berbicara sebentar. 

Kulirik daerah di sekitar sekolah. Tak ada gerakan apapun seperti cahaya senter atau suatu bayangan. Aku juga tak merasa ada seseorang yang sedang mengintai area sekolah. Sepi. 

Perlu beberapa waktu aku berdiam di sana. Barulah setelah sekian lama itu, aku bisa yakin tak ada siapapun lagi. 

Aku melepas kacamataku. Kuselipkan kacamata itu di saku bajuku dan kemudian kurisleting jaket hitam yang kukenakan. Sambil mulai mengambil langkah, kukenakan tudung jaket. 


Jumat, 07 Agustus 2015

Blue-Cold Glass (5.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 5, Part 1 
--—Jeritan Malam—--






Hari sabtu, hari ini libur. Menjelang siang, saat aku tak ada pekerjaan, aku berdiri sebentar di teras kamar di belakang balkon.

Suasana pagi masih sedikit terasa. Karena lingkungan sekitar apartemen tempatku tinggal lumayan sepi, menjelang siang hari seperti ini pun masih terasa tenang.

Aku mulai beranjak dari belakang balkon. Di hari libur tanpa tugas sekolah dan rencana apapun seperti ini, yang akan kulakukan adalah berbaring di atas ranjang sepanjang hari. Bruk. 



Jumat, 03 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 3 
--—Teh dan Madu—--







Sampai di rumah, aku tak melihat Snow White di atas ranjang. Dia pun tak mendatangiku saat aku menutup pintu. Aku mulai meletakkan tasku dan beranjak mencarinya. 

Aku tak membawa Snow White ke sekolah lagi hari ini. Aku hanya berharap dia tak bermain keluar karena aku pikir dia mungkin akan bermain jauh-jauh. Lagipula, tadi pagi Snow White tak mengejarku ke pintu saat aku akan keluar. 

Aku berhenti sejenak. Kuurungkan niatku mencari Snow White saat kudengar meongan singkat di dapur bersamaan dengan suara sesuatu yang jatuh. Aku berjalan ke dapur dan mendapati panci, sendok sup dan peralatan masak lain berserakan di lantai. Lemari makanan di sampingnya terbuka dan Snow White duduk di atas lemari itu, menggigit seekor ikan mentah. 

Aku mendengus. Kudekati lemari itu dan mengangkat kedua tanganku, memberi isyarat pada Snow White untuk turun. Snow White pun melompat padaku. 

“Ah!” ringisku saat sebelah pipiku terbasahi sisik ikan. Aku tak berpikir akan terkena ikan tadinya. Snow White hanya memandangiku dan mengerung pelan. Aku mulai membelainya. 

Aku berkata, “Kau sudah terlanjur lapar, ya? Maaf, ya, karena aku pulang agak terlambat.” 

Aku menurunkan Snow White di atas meja dapur. Lalu aku memunguti peralatan dapur yang berserakan tidak pada tempatnya. Beberapa saat kemudian, aku berhenti untuk memandang Snow White yang tak kunjung memakan ikannya. 

“Makanlah! Aku mau mandi dulu nanti,” kataku pada Snow White. 

Barulah Snow White memakan ikan itu di atas meja. Sementara aku kembali merapikan dapur. Tak lama kemudian, aku selesai dan mandi. Setelah itu aku makan. 

Saat makan, masih kuingat pisau dan sapu tangan bernoda darah di tasku. Aku berniat mencucinya setelah makan nanti. Kalau tidak, tasku akan beraroma darah. 

Setelah makan, aku mencuci peralatan makan. Sedikit juga kubersihkan dapur yang agak kotor. Sebelum kuambil tasku, aku menghampiri lemari pakaianku dulu untuk mengambil kaus. 

Aku tinggal sendirian. Karena itu aku sering berbuat sekehendak hatiku. Seperti tadi, aku makan sebelum mengenakan baju atasan apapun. 

Lemariku tak begitu besar. Aku menyimpan pakaian dengan dilipat dan ditumpuk di atas rak di dalam lemari. Ada tiga rak di dalamnya. Rak paling atas untuk menyimpan barang-barang penting, rak di tengah untuk menyimpan pakaian, dan paling bawah yang lebih besar untuk menyimpan beberapa barang. 

Aku mengambil atasan secara acak. Kadang aku tak begitu peduli soal pakaianku di rumah. Akhirnya aku mengenakan sebuah kemeja putih. 

Saat itu, aku lihat sebuah keranjang kecil di rak atas. Itu adalah keranjang berisi alat-alat jahit. Keranjang itu hanya kuambil bila ada pakaian yang perlu kuperbaiki, saat iseng merajut, ataupun kalau aku ingin menyulam sesuatu. Aku cukup mahir dengan semua itu. 

Aku meraih sebuah bola gulungan wol berwarna putih di keranjang itu. Setelah itu, aku menoleh pada Snow White sambil menutup lemari. Snow White ada di seberang ranjang, meringkuk di atas lantai. Aku pikir mungkin Snow White mau bermain dengan ini. 

Aku mendekati ranjang. Aku mengeong pada Snow White yang langsung bangun dan menoleh padaku. Langsung kulempar pelan gulungan wol pada Snow White. Saat bola gulungan itu menggelinding melewati Snow White, ia mengejarnya dengan semangat. 

Snow White tampak lucu memainkannya. Kucing kecil itu menghentikan gulungan wol dan lalu terdiam sejenak memperhatikan bola wol itu. Lalu dia menyentuh gulungan itu sedikit-sedikit, hingga beberapa saat kemudian dia baru benar-benar memainkan gulungan itu. 

Aku duduk di lantai. Masih kuperhatikan Snow White, anak kucing yang bermain-main dengan gulungan wol putih. 

Aku masih ingat sebelumnya. Saat tadi Snow White membawa ikan di mulutnya. Ikan yang berukuran sedang itu tentu kebesaran untuk dibawa Snow White yang tak lebih besar dari dua telapak tanganku. Tapi tetap saja, Snow White terlihat lucu. 

Aku mulai mendekati Snow White. Aku meraih bola gulungan wol itu dan menggelindingkannya sedikit ke arah lain, membiarkan Snow White mengejarnya. Sebelum Snow White meraihnya, aku menangkapnya dan menggelindingkannya lagi ke tempat sebelumnya. Snow White tetap bermondar-mandir mengejar wol itu. 

Pada akhirnya Snow White tak mau kalah. Dia berhasil menggapai wol itu lebih dulu dan kembali memainkannya sendirian. Untuk beberapa saat, aku membiarkannya dan hanya memperhatikan Snow White. 

Beberapa waktu kemudian, aku kembali menarik wol. Snow White tetap berusaha meraih bola wol itu dariku. Entah apa aku menggelindingkannya, menahannya hingga tak berputar, atau mengangkatnya di atas wajah Snow White, kucing kecil itu tetap berusaha mendapatkannya kembali. 

Lambat laun, Snow White terlihat malas bergerak. Hingga akhirnya Snow White tak mempedulikan gulungan wolnya, dia hanya meringkuk. Aku baru menyadari kalau Snow White sudah mengantuk. 

Aku tak merasa perlu melirik jam dinding lagi. Aku sudah bisa menebak, sudah beberapa jam lewat, buktinya Snow White sudah bosan bermain dan mengantuk. 

Aku pun meraih bola gulungan wol putih yang sudah sedikit berantakan. Aku membelai lembut Snow White, lalu naik ke ranjang. Belum lama aku merebahkan diri, Snow White melompat ke atasku dan kembali tidur. Aku hanya menutup mata saja, membiarkan Snow White tidur bersamaku. 

***

Pagi esoknya, tasku dan seisinya sepenuhnya berbau darah. 




End of chapter 4



          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


Kamis, 02 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 2 
--—Teh dan Madu—--









Marino bertanya kalem, “Kau belum pulang juga, ya?” 

“Ada panggilan untukku,” jawabku. 

“Oh, begitu, ya,” balas Marino, masih dengan senyumannya. Dia lalu menoleh ke piano di belakangnya. “Aku tiba-tiba ingin sekali ke sini. Bermain piano di sini.” 

Aku menggedikkan kepala ke samping, menyingkirkan rambut yang sedikit menutupi mataku. “Kau tidak takut?” 

Marino tertawa kecil. Lalu dia kembali menoleh padaku sambil menjawab, “Rasanya, bila musik sudah memanggil hatiku, aku tidak bisa memikirkan yang lain lagi selain mendatanginya dan bermain bersamanya.” 

“Tidak peduli apapun lagunya?”

“Ya, begitulah. Walau begitu, rasanya aku tetap tenang bersama nada-nada ini,” jawab Marino sambil memainkan jemarinya di atas tuts piano. 

Kata-kata Marino memang terdengar agak puitis. Tapi itu tak ada hubungannya dengan pribadinya yang romantis. Aku tahu itu. Dia tidak disebut romantis hanya karena gadis-gadis menyukainya, melainkan karena dirinya yang hangat dan tenang. Di sini pun dia tak berpura-pura, dia mengatakan apa yang ada di hatinya. 

Aku melangkah mendekati sebuah kanvas. Aku perhatikan kanvas putih bersih itu. “Aku paham,” balasku sambil meraih kuas tebal dan mencelupkannya sedikit ke cat hitam. “Bila kau sudah bersama dengan yang kau cintai, tak ada lagi yang bisa kau pikirkan, hanya ingin terus bersamanya.” 

Dia menghentikan permainan jemarinya. Marino mulai memperhatikanku yang menggoreskan warna hitam di sekitar pinggir kanvas. Dari posisi kami, dia tentu bisa melihat apa yang kulukis. 

“Kau juga pernah mencintai sesuatu? Begitu dalam?” 

Aku mencoba tak mengacuhkannya. 

“Atau, kau belum menyadarinya?” 

Aku meletakkan kuas. Setelah itu kuambil kuas yang lebih tipis dan kucelupkan sedikit ke cat hijau. Sambil menggoreskan kuas, aku menjawab, “Itu hanya masa lalu.” 

“Ah! Maafkan aku. Aku lupa kalau kau yatim piatu.” 

“Tidak apa. Kupikir kau tak tahu soal itu.” Aku mencelupkan kuas lagi ke cat hijau. 

“Kau bukan hanya bintang kelas, kau tahu? Aku sudah mendengar cukup banyak tentangmu. Kau ini lebih dari sekedar cerdas.” 

Aku tak membalas. Kucelupkan kuas ke air, lalu menganggkatnya dan kemudian mengketuk-ketukkannya pada pinggir gelas, mengeringkannya sedikit. Setelahnya, kucelupkan sedikit ke cat biru cerah. Kugoreskan di sebelah warna hijau. 

“Mereka pasti bangga padamu, Tone.” 

Aku berhenti sebentar. Mendengus berat dan perlahan, lelah. Dasar dramatis. “Terima kasih,” jawabku. Kucelupkan lagi kuas dengan sedikit cat biru dan kembali ke kanvas. 

Aku tak menoleh padanya. Namun bisa kurasakan pandangannya sedikit berubah, senyumannya memudar dan hilang. 

“Kalau boleh tahu, aku penasaran dengan keluarga Reville dulu.” 

Aku masih serius melukis gradasi biru. “Maaf, Marino, tapi kurasa kita tak perlu membicarakan hal ini.” 

“Iya, maaf.” 

Kucelupkan kuas ke air. Setelah mengeringkannya sedikit, kucolek cat jingga kekuningan. Aku melukisnya di bawah-antara warna hijau dan biru. 

Kudengar langkah kaki Marino mendekatiku. Dengan tenang dia berjalan pelan ke arahku. 

Padahal aku melangkah ke sini untuk menjauhinya sejenak. 

Dia berhenti, diagonal di belakangku. Sejenak dia diam, aku tahu dia tersenyum. “Lukisan itu bagus,” tanggapnya kemudian. 

Aku berhenti sebentar. “Begitu menurutmu?” tanyaku datar, tak peduli pujiannya. 

“Iya,” jawab Marino. “Seakan kau menggambarkan tiga cahaya terang di kegelapan. Dan ketiganya bukan hanya sekedar cahaya. Bukankah begitu?” 

Aku kembali berdiri tegap. Lalu menoleh padanya. “Tadinya, aku pikir kau hanya tahu tentang musik,” tanggapku, menangkap maksud perkataan Marino. 

Marino tertawa kecil. Dia kembali memandang lukisanku dan berkata lagi, “Hitam, bermakna kegelapan. Hijau, bermakna kehidupan. Biru, bermakna ketenangan. Dan kuning, bermakna kebahagiaan. Ketiga warna tersebut adalah cahaya yang akan selalu ada bersamamu. Dan dengan begitu, maka artinya, walau kau dunia segelap apapun, kehidupan, ketenangan dan kebahagiaan pasti akan selalu ada mendampingimu.” 

Aku sebetulnya tak tertarik dengan itu. Aku pun hanya kembali membelakanginya seraya berkata, “Aku kagum dengan jiwa senimanmu.” 

Aku meletakkan kuasku. Sambil mengambil kuas lain, aku berkata lagi, “Tapi, lukisan ini masih belum selesai.” 

Aku terdiam sejenak melihat sebuah gelas cat yang kosong. 

“Kalau begitu, warna apa selanjutnya?” tanya Marino. 

Aku mulai meletakkan kuas itu. “Merah.” 

“Ah, jarang ada yang menggunakan warna itu saat melukis di ruang seni. Bahkan anak-anak klub seni pun juga tak ingin menggunakannya. Sepertinya mereka trauma, atau mulai takut dengan warna itu.” 

Aku mengerti itu. Karena itu aku menganggukkan kepala saat aku berbalik, berhadap muka dengan Marino. Aku menunduk sedikit dengan kedua mata kututup dan kedua tanganku kumasukkan ke saku. 

“Kau bisa mengambilnya di gudang sekolah bila memang memerlukannya.” 

“Sepertinya aku tak butuh, kalau begitu.” 

“Kalau aku boleh tahu, untuk memaknakan apa warna merah itu di lukisanmu?” 

“Untuk sebuah simbol penghancur ....” Perlahan, kubuka mataku, langsung menatap tajam Marino. “Dan peringatan.” 

Marino tampak sangat tegang. Terlihat jelas dia jauh lebih ketakutan, daripada saat memandangku di awal perbincangan. Bahkan dia mulai mundur secara tak sadar. 

Aku tak mengatakan apapun lagi. Untuk beberapa saat, aku tetap memandangnya, mempersilahkannya sadar sepenuh pikirannya bahwa aku sama sekali serius. 

Tapi dari segalanya, aku tahu dia akan tetap bingung. Membingungkan tentang untuk apa aku serius. 

“Kita sekontras hitam dan putih, Marino,” kataku. “Kau seharusnya tahu itu.” 

Marino nampaknya baru tersadar. “Apa ... maksudmu?” suaranya mulai tersendat untuk bicara. 

Aku mengedipkan mata perlahan. Sedikit lelah dengan pembiacaraan ini. Saat kubuka mata pandanganku tak berubah, namun Marino nampak lebih tegang memandangku setelah itu. 

“Kau lembut dan sangat berperasaan. Aku pahami itu, karena aku juga tahu kalau kau berasal dari keluarga berada. Di tempatmu, kau selalu ada di nuansa tenang. Kau hanya ada paham tentang hal-hal indah, dan tak pernah mengalami masalah berat.” 

Aku mulai melangkah mendekati Marino. Sementara Marino semakin menjauhiku. 

“Kita sangatlah kontras,” sambungku. “Dengan itu, bisa kau bayangkan kehidupanku? Dan aku?” 

Kukeluarkan tangan kananku. Kuangkat di depan bibirku dengan punggung tangan yang menghadap ke bibir. Klik! 

Rasa takut Marino kian melingkupinya. Marino tak mampu mengatakan apapun, hanya bisa berdiri dengan penuh gemetar memandangiku dan pisau di tanganku. 

Aku tak tertarik membuatnya lebih takut lagi. Aku sudah sering melihat wajah itu. Justru rasanya ingin segera mencincangnya. 

“Bukankah kau juga takut ... dengan warna merah?” 

Tak ada yang bisa diucapkan Marino. Walau dia sadar, dia sudah tak bisa berpikir jernih, pikirannya kalut dengan berbagai dugaan. 

“Marino ....” Aku mempercepat langkahku. “Kau kompleks memiliki hijau, biru, dan kuning. Namun ....” 

Sampai aku tepat di depan Marino. Langsung kutarik kerahnya, mencegahnya lari. Tampak jelas wajah syok Marino yang mulai memucat. 

“Kau tak pernah merasakan hitam ....” 

Aku mengangkat pisau. Kutempelkan pelan ujung mata pisau di dagu Marino. 

“Karena itu kau tak akan memahami merah. Dia adalah kematian.” 

Kutusukkan pisauku, melubangi kerongkongan Marino. Teriakannya tertahan, dan tak ada lagi suara yang keluar. Marino tak sempat berteriak, bahkan berkutik sedikitpun. 

Aku memandang wajahnya yang masih nampak ketakutan. Wajahnya masih terlihat tegang. Aku biarkan darahnya keluar deras, namun belum kutarik pisauku agar tak mengucur mengenaiku. Perlahan kemeja putih Marino berubah warna, seiring darah yang terus turun. 

Akhirnya kutarik pisauku. Segera aku membanting Marino dan melangkah mundur. Masih kudengar sedikit suara Marino saat itu, dia masih sadar. Sedikit kudekati Marino untuk mentelentangkannya, dan menusuknya di ulu hati. Benar saja, Marino tersentak. 

Kuangkat pisauku kembali. Tapi setelah itu kutusukkan lagi. Lalu kuangkat lagi, dan kutusukkan lagi, berkali-kali. Hingga akhirnya Marino benar-benar tak bernafas. 

Aku menjauhi Marino. Darah segar keluar membasahi ubin dan terus meluas. Kuperhatikan wajah jasad Marino yang penuh luka tusukan dan kini tak berbentuk. 

Kujatuhkan pisauku secara sengaja. Pisau itu sudah sangat basah. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku kanan celanaku dengan tangan kiri dan mengelap tangan kananku. 

Aku berbalik. Aku kembali ke depan kanvas untuk mengambil kuas bersih sebelumnya dengan tangan kanan yang menggenggam sapu tangan. Lalu kembali mendekati genangan darah yang semakin meluas. 

Sejenak kuperhatikan lagi wajah Marino. Ekspresi tegang itu hilang sudah, tersisa koyakan daging dan tulang terpotong yang bersimba darah. Tubuhnya pun penuh luka tusuk, walau nyaris tak separah wajahnya. 

Aku berjongkok. Kucolek genangan merah di depanku secukupnya dengan  kuas dan berjalan kembali ke depan kanvas. 

Di depan kanvas, aku mencoret-coret tipis lukisanku. Tidak dengan hati-hati seperti sebelumnya, namun dengan agak asal. Garis-garis merah pun menghiasi ketiga warna cerah di kanvas. Sesekali aku berbalik dan mencolek darah lagi. Hingga pada akhirnya, aku mencelupkan kuas sampai cukup basah. Dengan kuas basah itu, aku memberikan sentuhan terakhir pada lukisanku, yaitu sebuah segitiga merah besar terbalik yang memotong ketiga warna. 

Selesainya, kuletakkan kuas berdarah di samping kuas lain. Masih dengan sapu tanganku, aku mengelap batang kuas lain dan meletakkannya dengan hati-hati. 

Aku mulai melangkah mundur. Sejenak kuperhatikan lukisanku saat aku berjalan, memastikan cat warna lain tak luntur karena darah yang cair. Lalu aku berbalik, meninggalkan lukisanku dan jasad Marino begitu saja. Tak kulupa juga pisauku. 

Aku tak menutup pintu ruang seni. Sengaja agar ada seseorang yang segera mencium wangi amis darah dari dalam ruangan. Aku meraih ranselku yang ada di depan pintu ruang seni, memasukkan pisau dan sapu tanganku ke tas, lalu pergi. 

***






          Tbe continued ...






[ Previous ]                                             [ Next ]


Rabu, 01 Juli 2015

Blue-Cold Glass (4.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 4, Part 1 
--—Teh dan Madu—--







Esok paginya, aku kembali seperti biasa. Snow White duduk di atas lantai, memakan makanannya sementara aku duduk di kursi, menghabiskan sarapan. Selesai dengan telur dadar di atas piring, aku meraih secangkir teh hangat. 

Di atas meja, kuletakkan juga tasku. Kupandangi sebentar tasku saat aku memberi sesendok gula ke dalam teh. Aku memikirkan agenda kecilku yang ada di dalam tas. 

Kemarin sore, aku benar-benar terbakar emosi. Rencana membunuh guru kimiaku, Mister Hollard yang seharusnya hari ini jadi kupercepat sore sepulang sekolah kemarin. Sebetulnya tak bagus juga bila terburu-buru seperti itu, game ini jadi kurang seru. 

Aku tak akan lupa. Kami bertiga sedang dalam permainan. 

Aku kembali memandang tasku. Kali ini kuputuskan untuk mengambil agenda itu. Dengan satu tangan, kubuka dan kurogoh tasku. Setelah kukeluarkan, kubuka lembaran agenda itu dengan satu tangan juga. Sambil mengecek beberapa sisa rencanaku, aku menyeruput tehku. 

Tak sebanyak itu kasusnya. Sejak awal, aku tak berpikir untuk menjadikan ini permainan yang panjang. Saat ini, kupikir merubah sedikit rencanaku adalah ide yang bagus juga. 

Aku menutup kembali agendaku. Kuletakkan agenda itu sambil berdiri dari kursi. Tehku pun kubawa. 

Teh itu sudah manis. Tapi kalau hanya manis, tak akan cukup. Daripada menambahkan dengan gula lagi, lebih baik ditambah dengan rasa yang lain. 

Seperti itu juga yang kupikir untuk rencanaku selanjutnya. 

Aku menyeruput kembali tehku setelah kuberikan madu. Aku lebih suka rasa teh-ku yang sekarang. 

***


Selasa, 16 Juni 2015

Blue-Cold Glass (3.5)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 5 
--—Hari Kenangan—--








Kelas sudah sangat sepi. Sepanjang jalanku ke kelas, tak ada siapapun kutemui. Officeboy dan officegirl juga sudah kembali pulang, beberapa sedang keluar. Setelah mengambil tas, aku berniat berjalan ke sekitar sekolah. Namun kuurungkan niat itu karena saat melihat ke gerbang, kulihat sesuatu di dekat pos jaga. 

Aku mendekatinya. Lalu kuambil dia seraya berkata, “Di sini rupanya.” 

Snow White mengeong padaku. Tadinya dia tertidur, dan terbangun saat kuangkat. Aku mengusap lembut kepalanya. 

***


Blue-Cold Glass (3.4)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 4 
--—Hari Kenangan—--








“Kutukan! Kutukan! Koridor di samping halaman belakang sekarang terkutuk!” 

“Ya ampun! Istirahat tadi ada yang terbunuh di sana!” 

“Mengerikan sekali! Lehernya putus!” 

“Lynn! Pustakawan perpustakaan itu! Murid kelas 10–A! Dia terbunuh!” 

“Itu pasti karena dia bilang tak ada hantu atau kutukan seperti itu di sekolah ini. Hantu itu pasti sangat marah padanya!” 

“Ini mengerikan! Dia pasti akan mengutuk yang lain lagi! Huaaaa ...!!” 

Bel sudah berdering tadi. Guru kimia belum datang, sementara kelas sudah sangat ribut. Aku hanya memandang ke luar jendela. 

Buku dari perpustakaan masih di tanganku. Terbuka dengan ibu jari menahan lembarannya, aku memegangnya dengan satu tangan. Satu tanganku yang lain ada di wajah, menyangga wajahku. 

Kata-kata Michele masih tengiang di kepalaku. Amarah itu masih membara, dan sekarang kian bergejolak. 

Aku meletakkan buku ditanganku sejenak. Kuraba laci meja dan mengambil agenda kecil. Ada rencana yang harus kupercepat. 

Sementara aku menulis, suasana ribut mulai merendah.

“Mister Hollard pasti tidak akan mengajar kelas kita hari ini. Dia pasti sedang sedih sekali.” 

“Benar. Kasihan sekali Mister Hollard. Dia pasti sedang sangat sedih atas kematian anaknya itu. Aku turut berduka untuknya.” 

***


Blue-Cold Glass (3.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 3 
--—Hari Kenangan—--








Sekolah masih cukup sepi saat aku datang. Aku berjalan melewati gapura dengan kedua tanganku kumasukkan ke saku celana. Diam-diam, aku tak berjalan menuju kelasku saat itu. Aku memutar ke belakang gedung. 

Di sana, kulepaskan ranselku. Aku berjongkok dan membuka risleting ransel. Lalu kukeluarkan seekor kucing kecil dari dalamnya. 

“Maaf, Snow White. Tapi aku tidak bisa membawamu ke kelas.” Aku menutup risleting dan menggendong ranselku. “Jangan keluar dari sekolah, ya. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti.” 

Snow White berlari pergi. Aku diam sejenak. Tak biasanya dia tidak mendekatiku dan mengeong di kakiku lagi. Apa Snow White mengerti apa yang kukatakan? 

Aku mendengus. Apapun itu, aku tak perlu memikirkannya. Bukan itu yang perlu kupikirkan. 

***


Blue-Cold Glass (3.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 2 
--—Hari Kenangan—--






Pagi buta. Aku bangun. Snow White masih di pangkuanku. Aku menyingkirkannya perlahan. Snow White pun terbangun dan mengeong saat aku meletakannya di atas ranjang. 

Aku mengambil handuk. Aku sudah biasa mandi di pagi buta yang dingin ini. Setelah itu aku akan langsung membereskan ruangan dan yang lainnya. Lalu bersiap ke sekolah setelahnya. 

Aku sempat terhenti di depan kalender. Tas sudah ada di pundak, aku baru saja akan keluar. Kalender itu ada di samping pintu, di bawah jam dinding. Aku baru sadar lebih tepat lagi, ini 28 Maret. 

Aku mendengus lelah. Apa aku memang terlalu serius? Aku hampir benar-benar lupa waktu. 

Kudengar Snow White mengeong. Aku menoleh, melihat Snow White turun dari ranjang dan mendatangiku. Aku berjongkok, mendekatinya. 

“Baiklah,” kataku. “Tapi jangan berisik, ya.” 

Snow White mengeong, aku anggap itu balasan. Aku membuka pintu dan melangkah keluar bersama Snow White. 

***


Blue-Cold Glass (3.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 3, Part 1 
--—Hari Kenangan—--








Malam hari, aku belajar dan membereskan bukuku. Dari meja belajar, aku berpindah duduk ke kursi kayu yang ada tepat di sebelah jendela. 

Di ruang apartemenku, ada 3 ruangan. Ruang tamu yang merangkap kamar tidur, dapur di sebelahnya, dan kamar mandi di pojok dapur. Kamar depan yang menjadi ruang tamu cukup luas, hingga jarak kasur dan pintu tak berdekatan. Di sisi kiri ruangan–bila dilihat dari posisi pertama masuk–terletak dapur yang jalannya tak berpintu. Di kamarku hanya ada sebuah jendela, sementara balkon tempatku berdiri tadi sore ada di sudut lain ruangan ini. Beranda teras itu tak begitu luas sebetulnya, dan aku lebih sering menutup pintu di sana. 

Aku masih menggunakan kacamataku. Sebetulnya, aku tidak benar-benar berkacamata. Itulah kenapa kadang aku memakainya dan kadang tidak. Salah satu mata pelajaran dimana aku tak mengenakan kacamata adalah pelajaran praktek olahraga. Situasi lainnya, saat aku adalah pembunuh misterius

Tak pernah aku lupa siapa diriku. Tapi aku tak selalu berjaga meskipun tetap mewaspadai kecurigaan orang lain. Lagipula belum pernah ada yang mencurigaiku, baru satu orang sepertinya. 

Entahlah, aku tak tahu pasti apa Michele mencurigaiku. Tapi karena aku orang pertama yang dia “introgasi” ada kemungkinan kecil dia curiga. 

Mungkin Michele pintar. Tapi dia tak pintar menanggapi (atau mengomentari) keanehan seseorang. Dalam hal itu, Alicia orang yang tepat untuk membantunya. 

Ditanganku, kugenggam sebuah agenda dan sebuah bolpoin. Aku tergelitik untuk mengambil agenda itu di meja belajarku saat tak sengaja aku meliriknya. Isinya tentang coretan deret rencana, pengeliminasian

Tentu tak semua pembunuhan aku rencanakan di sini. Hanya beberapa, saat aku pikir itu menarik untuk dilakukan. Membunuh seseorang yang berisik dan keras berteriak, atau seseorang yang tak mudah ditipu, atau seseorang yang bisa kubunuh dua kali lebih menyakitkan(seperti seseorang yang kubunuh di ruang musik, aku juga berhasil membunuh impiannya). 

Kali ini, tak hanya menarik. Berurusan dengan detektif. Hmm ... karena mereka mengenal orang-orang di sekolah, pasti lebih mudah mengumpulkan data. 


Minggu, 24 Mei 2015

Vanilla Cream (Cerpen)

Vanilla Cream 

Cerpen
Persaudaraan

~~~~~
Sejujurnya, ini cerpennya udah lama di folder laptop aku. Baru sekarang aku templokin ke blog ini.
~~~~~



Aku dan adikku selalu berantem. Tiap hari, pasti kita berselisih, gak peduli apapun masalahnya.

Aku Annie. Anak kelas 5. Dan adikku Vio, anak kelas 3. Aku 10 tahun, sementara adikku 8 tahun. Kami sekolah di sekolah yang sama.

Aku suka membaca dan bermain internet. Adikku suka bermain di luar dan bermain game, dia termasuk gamers cilik. Selain hobi, masih banyak lagi perbedaan di antara kami, kebanyakan di antaranya itu sering bikin kita berantem.

Misalnya seperti minggu lalu sewaktu aku dan adikku berebut bermain laptop. Aku yang pertama memegang laptopnya waktu itu sedang membaca sebuah novel online. Adikku yang baru saja mandi setelah pulang bermain di luar meminta laptop yang sedang aku pinjam untuk bermain game. Jelas saja aku gak kasih, aku masih seperempat membaca salah satu bab dari novel itu. Tapi adikku merengek dan mengadu pada Mama. Mama juga malah membela. Akhirnya aku terpaksa menutup situs yang belum selesai aku baca dan memberikan laptop pada Vio. Sebagai gantinya, aku membaca buku novel yang sudah lama dan sangat membosankan buat aku.

Siang hari ini, aku sedang bermain laptop di ruang keluaga. Membaca novel yang waktu itu belum selesai kubaca. Vio sekarang sedang pergi bermain bersama teman-temannya di lapangan, paling-paling dia gak bakal pulang sebelum adzan ashar. Jujur, rumah kerasa tenang karena gak ada dia.

“Annie, bantuin Mama, yuk!” ajak Mama.

Aku tersentak kecil. Kok, Mama bisa tiba-tiba muncul di sampingku begitu, ya?

“Mama ngagetin banget,” kataku. “Bantuin apa, Ma?”

“Bantuin Mama bikin kue buat adek kamu. Besok, kan, dia ulang tahun.”

Aku terbelalak, melotot serius seakan bola mataku akan keluar dari tempatnya. Aku baru ingat itu. Besok, kan, 21 februari, ulang tahunnya Vio! Aku belum bikin ataupun beli hadiah apapun buat dia.



Senin, 11 Mei 2015

Blue-Cold Glass (2.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 3 
--—Kuncup Melati—--






Tenang sekali kukerjakan tugas. Kelas sedang senyap, sementara guru matematika sedang menuliskan soal. Semua murid nampak serius mengerjakan. 

Seorang officegirl membuka pintu. “Maaf, Miss,” katanya sopan. “Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan padamu.” 

Miss Wilkerson menutup spidolnya. Dia merasa ini pembicaraan penting. Dia pun mendekati Monica, officegirl berkacamata itu. 

“Ada apa?” tanya Miss Wilkerson. 

Monica menjawab, “Ini tentang anak murid kelasmu, Miss.” 

“Ada apa? Apa mereka membuat ulah lagi? Bukankah sudah kukatakan pada semua guru untuk menghukum saja mereka bila mereka melakukan sesuatu yang tak seharusnya?” 

“Bukan soal itu, Miss. Tapi ... ini soal ....” 

“Apa? Apa ada hal lain yang terjadi di kelasku?” 

“Iya. Di kelas 12–B ... Dave Hillary ... dia ... dia ... dia ditemukan tewas.” 

Miss Wilkerson segera menarik Monica keluar kelas. Pintu ditutup keras oleh wanita muda itu saat ia keluar. 

Suasana kelas pun riuh rendah. Karena kesunyian tadi, banyak yang mendengar apa yang disampaikan Monica. Mereka mulai menggunjingkannya. 

Tentu aku dengar. Tapi aku tak peduli. Pandanganku belum lepas dari buku tulis. 

“Ya ampun! Ada lagi hari ini?” kudengar pekikan Alicia. 

“Tidak pernah ada dua kali pembunuhan di hari yang sama seperti ini,” tanggap Michele. 

Oh! Aku hampir lupa dengannya. 

“Ini menyeramkan sekali! Sebetulnya apa maunya pembunuh itu?”  

“Pokoknya, kita harus hati-hati kalau begini.” 

“Michele! Jangan berkata seperti itu! Itu membuatku takut! Kau tahu itu?” 

“Dasar kau penakut. Omong-omong, siapa Dave Hillary?” 



Blue-Cold Glass (2.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 2 
--—Kuncup Melati—--






Saat istirahat, aku pergi ke perpustakaan. Aku harus mengembalikan buku yang kupinjam kemarin. Sepanjang jalan yang kulalui, suasananya tampak sepi, seperti biasanya. 

Kelas-kelas berada di lantai dua. Di lantai dasar, seluruhnya adalah ruang praktek dan fasilitas. Dari kelasku ke perpustakaan, aku perlu melewati satu ruas koridor, menuruni tangga, lalu melewati beberapa koridor di bawah. Empat koridor bawah yang terakhir kulewati menuju perpustakaan diantaranya koridor di depan ruang seni, koridor di depan UKS, koridor di depan pintu ruang guru, dan koridor menuju perpustakaan. Ada juga sebuah perempatan saat aku berjalan dari koridor di depan ruang guru menuju koridor terakhir. Di koridor terakhir, tepat di sampingnya adalah halaman belakang sekolah yang cukup luas. 

Banyak yang takut melewati koridor-koridor ini. Menurut mereka koridor-koridor ini sudah berhantu. Alasannya karena sudah banyak korban meninggal di sini. 

Aku ingat. Pernah ada murid yang tergeletak besimpa darah di pintu ruang seni. Ada juga yang mati di UKS, dua kali terjadi. Dan di koridor depan pintu ruang guru, terdapat sebatang pohon rindang di sebelah koridor itu. Di pohon itu, pernah ditemukan seorang murid dengan leher terjerat tambang menggangtung di bawah dahan pohon. Dan di koridor terakhir, karena kematian Joanne, pasti semakin sepi keadaan halaman belakang sekolah. 

Aku hanya mendengus lelah. Aku tak habis pikir. Padahal masih banyak lagi tempat kematian murid-murid sekolah ini, tapi yang dianggap berhantu hanya koridor-koridor ini. 


Blue-Cold Glass (2.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 2, Part 1 
--—Kuncup Melati—--






Malam itu aku langsung memandikan Snow White. Tak lupa aku mengeringkannya. 

Aku juga tidak lupa untuk mandi. Kuletakkan Snow White di atas handuk dan kuselimuti dengan handuknya juga, lalu kutinggalkan. 

Sekarang aku mengeringkan rambut. Kugunakan handuk kecil untuk mengusap-usap rambutku. Kudekati jendela kamar, memperhaikan hujan yang kian menderas. Kelihatannya hujan ini akan awet sampai pagi besok. 

Kututup jendelanya. Aku biasanya membuka jendela, karena di kamarku ini biasanya panas. Kipas angin di kamarku hanya satu, berukuran mini dan kuletakkan di salah satu meja di kamarku. 

Kamarku selalu sepi. Sebetulnya, aku tinggal sendirian di apartemen sederhana ini. Kedua orang tuaku dan semua anggota keluargaku sudah meninggal. Aku sebatang kara, dan hanya mampu tinggal di apartemen bekas yang tak berpenghuni. 

Setidaknya aku masih sedikit beruntung. Aku masih mampu bersekolah karena beasiswa yang kudapatkan. Bahkan asal tahu saja, Chenitry High merupakan salah satu sekolah favorit di daerahku. 

Aku mulai berjalan mendekati ranjang. Tak sengaja kulihat bayanganku di cermin. 


Sabtu, 18 April 2015

Blue-Cold Glass (1.3)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 3 
--—Snow White—--






Pemuda di sana hanya memandang sekeliling. Dia lalu melompat dari koridor dan berjalan mendekat. Nampaknya dia masih belum menyadariku. Aku berjalan mendekati ujung bayangan pohon untuk memastikannya melihatku.

Dan Joanne mulai menyadariku.

“Oh? Bukankah kau pecun tadi siang itu?” tanyanya seraya mulai tersenyum sinis.

Aku tak berniat berjalan keluar dari daerah bayang-bayang. Jadi Joanne tetap berjalan mendekatiku. Jarak di antara kami masih jauh.

“Kau tahu siapa namaku, bukan?”

Joanne tertawa, “Hahaha ... kenapa? Jadi, kau ingin aku mengingatmu, heh? Yah, baiklah. Cuma kau orang terpayah yang berani-beraninya bersikap berani seperti tadi itu. Pecundang-pecundang lainnya pasti akan sangat salut dengan keberanian mulutmu itu kalau saja mereka tahu.”

Aku menggenggam tanganku. Salah satunya tak kosong.



Blue-Cold Glass (1.2)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, part 2 
--—Snow White—--






Tok tok tok ...!

“Masuk!”

Aku membuka pintu. Setelah di dalam ruangan Mrs. Erica, aku menutup pintu.

“Oh ... Mister Reville. Sudah kutunggu,” sambut Mrs. Erica ramah. “Tapi ... ada apa dengan wajahmu? Apa itu memar?”

“Iya. Aku jatuh dari tangga saat istirahat. Karena ini aku harus pergi ke UKS dan izin untuk pelajaran selanjutnya.”

“Jadi begitu. Itulah kenapa kau tak bisa datang ke ruangan kepala sekolah saat istirahat tadi, ya.”

“Iya. Maaf, Madam.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Dan sebetulnya, alasanku memanggilmu ke sini adalah untuk menawarkan padamu untuk menjadi detektif rahasia sekolah kita ini.”



Blue-Cold Glass (1.1)


Blue-Cold Glass

 Chapter 1, Part 1 
--—Snow White—--






Aku mendesah. Kututup buku sambil memandang sekitar perpustakaan. Tak banyak orang, keadaan pun hampir tanpa suara.

Tone Reville. Itu namaku.

Aku bersekolah. Kelas 11 di Chenitry High School. Ini sebetulnya hanya sekolah tinggi biasa, dengan beberapa misteri menyeramkan di dua tahun terakhir.

Aku ingat saat pertama masuk. Saat itu sudah muncul desus panas kematian seorang kakak kelas. Lalu menjelang akhir tahun itu ada mutilasi di taman. Dan dua bulan lalu juga dibunuh seorang murid dengan banyak pecahan kaca jendela di tubuhnya. Tentu bukan hanya semua itu kasus yang pernah terjadi di sekolah ini.

Orang-orang banyak berkata bahwa sekolah ini telah dikutuk. Menurutku itu alasan yang bodoh. Ternyata masih ada orang-orang yang percaya kutukan.

Aku menoleh ke luar jendela sejenak. Semua korban meninggal secara mengenaskan. Aku ingin tahu bagaimana korban selanjutnya mati.

Sejujurnya aku tak peduli soal ini. Tapi kadang aku penasaran dan ingin mencari tahu, siapa kira-kira korban selanjutnya.

Aku melirik sekilas ke arah lain. Lepas dari serius menerawang di jendela yang ada di belakangku, kudengar sebuah percakapan 2 murid yang saling berbisik.



Rabu, 25 Februari 2015


Selasa, 24 Februari 2015

XRed! [Prolog]

                    XRed!                    


     P R O L O G     




"Apa-apaan ini, HAH?!!"

Lampu padam. Hal itu membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Menyebalkannya, lampu itu masih mau menyala lagi, padahal cahaya kuningnya tetap saja berkedip-kedip.

Seorang gadis di sana ikut berdiri dengan emosi. "Berani-beraninya menggebrak meja!" bentaknya.

Pemuda yang baru saja dibentak itu justru mendelikkan mata padanya. Dia lalu kembali memandang tuan di seberang meja. Dia kembali berkata dengan suara tinggi, "Kemana dia suruh kita pergi barusan itu?! Apa kerjaan kita ini bakal berantakan karena tugas konyol semacam ini?! Ini misi bod ...." Cukup perkataannya tersumpal syal ungu yang masuk tepat ke mulutnya.

Gadis yang sama mendesah lega. "Aku geram juga," gumamnya sambil melipat kedua tangan.

Seorang laki-laki yang nampak lebih dewasa sedang berdiri di salah satu sudut meja. Dia kembali memandang tuan yang sempat dibentak salah satu rekannya.

"Maaf ...," kata laki-laki itu. "Bisa Tuan beritahu kami ... rincinya?"